UNAIR NEWS – Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran perempuan begitu sentral. Sayangnya, sejarah tidak mencatat itu dengan apik. Lihatlah deretan nama pahlawan nasional. Dominasi laki-laki begitu kentara. Padahal, tidak mungkin mereka bisa mencapai cita-cita bangsa tanpa dukungan aktif dan totalitas Kaum Hawa.
Apa yang disampaikan di atas sekadar salah satu potret dari banyak gambaran lain tentang belum tercapainya kesetaraan gender di negeri ini. Mungkin, secara regulasi, gagasan ini telah diakomodasi. Namun, pada aplikasi di lapangan, perempuan masih termarginalkan.
淪aya pikir, perjuangan untuk equality and justice masih harus konsisten dijalankan. Melalui kajian sastra, saya ingin menjalankan gender jihad ini, ungkap Diah Ariani Arimbi S.S., MA., Ph.D., dekan Fakultas Ilmu Budaya yang merupakan salah satu pakar kajian budaya dan sastra UNAIR.
Perjuangan perempuan melalui sastra bukanlah hal baru. Bahkan, langkah ini sudah teruji waktu dan tergolong efektif. Lihatlah RA Kartini yang menyuarakan aspirasinya melalui kata-kata. Bertolak dari fakta itulah, Diah yakin kalau 淕ender Jihad yang diserukannya bakal membuahkan hasil. Meski memang, butuh proses yang panjang.
Peraih gelar doktor dari University of New South Wales ini mengatakan, negara sekelas Amerika yang disebut-sebut mendewakan kesetaraan saja tampaknya belum bisa menerima pemimpin perempuan. Salah satu indikasinya, orang lebih banyak memilih Donald Trump daripada Hillary Clinton. Sedangkan bila ingin berkaca dari luar negeri, agaknya negeri-negeri Skandinavia bisa menjadi contoh kongkret aplikasi kesetaraan gender. Misalnya, di Swedia dan Finlandia.
淒i sana, cuti hamil dan melahirkan tidak hanya untuk perempuan. Tapi juga buat suami. Karena, peran menjaga bayi juga mesti dilakukan utuh oleh laki-laki, terangnya.
Meskipun belum sepenuhnya tercapai, cita-cita kesetaraan gender di Indonesia relatif menunjukkan tren positif. Betapa tidak, di usianya yang masih 72 tahun, negara ini sudah pernah memiliki presiden perempuan. Pemilihan umum juga sudah melibatkan perempuan secara aktif dengan nilai suara yang sama dengan laki-laki (one man one vote). Sementara di beberapa negara Eropa, untuk mencapai kesamaan ini, butuh waktu yang jauh lebih panjang.
Tapi, 済ender jihad tetap mesti dikobarkan. Betapa tidak, masih ada banyak kekerasan rumah tangga yang korbannya mayoritas perempuan dan anak. Mereka termarginalkan dengan alasan-alasan kultural patriarkis. Yang dalam perjalanannya, justru lebih parah karena perempuan makin jadi korban kapitalisme atau jadi komoditas.
Dalam hal ini, sejumlah perspektif mesti dibenahi. Tidak hanya sudut pandang yang berasal dari laki-laki dan lingkungan. Perempuan sendiri mesti bisa melihat dirinya dengan adil dan tidak termakan mitos kultural. (*)
Editor: Nuri Hermawan





