51动漫

51动漫 Official Website

Dies Natalis Ke-15, MKSB Seminarkan Perubahan Budaya di Era Terkini

Sesi Tanya Jawab Pada Seminar Nasional MKSB (Foto: Panitia)
Sesi Tanya Jawab Pada Seminar Nasional MKSB (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS – Globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan membuat budaya nusantara mengalami perubahan. Seperti yang terjadi pada Bali, di mana pariwisata mengubah budaya mereka, khususnya Denpasar. Perubahan budaya turut terjadi pada tarian perang Ojung, tarian yang dilakukan di daerah Tapal Kuda. Namun ada satu kebudayaan yang masih teguh, yakni budaya Suku Tengger.

51动漫 merayakan Dies Natalis yang Ke-15 dengan seminar nasional dengan tema 淏erbudaya Untuk Indonesia. Acara itu terlaksana pada Jumat (8/3/2024) di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, Kampus Dharmawangsa B, 51动漫.

Kegiatan ini menghadirkan dua orang pembicara yang juga menjadi bagian dari Magister Kajian Sastra dan Budaya. Hadir Nyoman Suwarta SS MHum, Lauhil Fatihah SHum, serta Lady Khairunnisa SHum selaku Ketua HIMA MKSB sebagai moderator. Tak lupa, Dr Listiyono Santoso SS MHum selaku Wakil Dekan I FIB turut memberikan sambutan. 

淧elestarian, pengembangan, pemanfaatan, penggunaan itu merupakan empat pilar penting dalam pemajuan kebudayaan. Kita harus mengembangkan kebudayaan dalam konteks indonesia untuk mewujudkan konsep Tri Sakti Soekarno, khususnya berkepribadian dalam berkebudayaan, sambutnya. 

Suwarta mengawali, penelitian yang ia lakukan di masyarakat Tengger dilakukan dengan metode etnografi. Hasil penelitiannya adalah masyarakat Tengger, walaupun terdampak pariwisata namun tetap memegang teguh adat budaya mereka, meliputi status, norma, dan aturan. Dengan tujuan hidup harmoni dengan lingkungan tempat tinggal masyarakat Tengger.

淭engger itu menerima betul globalisasi tapi diadaptasi, berbeda dengan Bali di mana mereka sangat terpengaruh dengan budaya luar akibat pariwisata, terutama Denpasar. Masyarakat Tengger tidak mengeksploitasi habis sumber daya mereka, karena mereka pekerjaan pertama tetap di pertanian.

淒an itu tadi, mereka karena tujuannya untuk hidup harmoni dengan lingkungan. Maka mereka menjaga betul lingkungan mereka, tambahnya. 

Menurut Suwarta, metode etnografi merupakan metode penelitian yang tepat untuk mengkaji suatu budaya atau masyarakat. Namun, penelitian etnografi memerlukan proses yang panjang. 

淧eneliti itu setidaknya enam bulan, lalu harus hadir dan terlibat dalam masyarakat yang diteliti, beradaptasi dengan budaya setempat, serta menjaga relasi netralitas.

Foto Bersama Para Pembicara (Foto: Panitia)

Lauhil Fatihah mengupas Tarian Ojung berdasarkan perspektif neo evolusi. Ojung merupakan tarian perang yang dilakukan oleh masyarakat daerah Tapal Kuda oleh suku Madura Pendalungan. Seiring perkembangan zaman, tarian perang yang dulunya dilakukan oleh golongan bangsawan, kini berubah menjadi tradisi rakyat biasa. 

淭arian perang tidak banyak dilaksanakan (terutama pada golongan bangsawan, Red) karena perubahan makna pada perang yang identik dengan teknologi modern dalam bidang persenjataan. Serta kondisi politik saat ini yang dapat dikatakan damai. Maka tarian perang seakan tidak relevan untuk dilakukan, jelas Lauhil. 

Meskipun begitu, nilai-nilai yang terkandung di dalam tarian Ojung seperti atribut, properti, dan agama masih lah sama seperti semula yang berasal dari Bangsa Austronesia. Lauhil juga berpendapat bahwa pelestarian suatu tradisi memerlukan upaya yang bersinergi antar pelaku budaya, masyarakat, dan pemerintah, dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia

Editor: Feri Fenoria

Baca juga:

Welcome Party Magister Kajian Sastra dan Budaya 2023

Dosen FIB UNAIR: Puisi, Sastra Menyuarakan Kritik

AKSES CEPAT