Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada manusia, hewan peliharaan, ternak, dan akuakultur telah berkontribusi secara signifikan terhadap munculnya dan berkembang biaknya bakteri yang resistan terhadap antibiotik (ARB), yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar dengan implikasi ekonomi yang substansial. Dari perspektif One Health, kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan saling terkait erat, dengan satwa liar memainkan peran integral dalam hubungan ini. Meskipun satwa liar biasanya tidak mengalami pengobatan antibiotik langsung, mereka dapat memperoleh bakteri yang resistan melalui paparan lingkungan “ seperti konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, migrasi dari habitat alami ke lingkungan yang diubah secara antropogenik, atau kontak langsung dengan hewan peliharaan dan manusia. Aktivitas antropogenik telah berkontribusi besar terhadap degradasi lingkungan, termasuk perusakan dan fragmentasi habitat satwa liar. Aktivitas tersebut, termasuk penggundulan hutan, perburuan, dan alih fungsi lahan untuk pertanian dan pembangunan perkotaan, telah mengganggu habitat kelelawar dan membawa mereka ke lokasi yang lebih dekat dengan populasi manusia. Gangguan yang disebabkan oleh manusia ini memfasilitasi penularan ARB dalam populasi satwa liar dan menimbulkan ancaman yang signifikan di bawah paradigma One Health. Kelelawar dapat berfungsi sebagai bioindikator yang berharga untuk menilai pola regional dalam prevalensi dan distribusi resistensi antimikroba (AMR). Karena kemampuan terbangnya yang luar biasa, umur yang panjang, dan kemampuan beradaptasi secara ekologis, kelelawar merupakan spesies kunci untuk memahami dinamika ekologis penularan AMR. Akibatnya, kelelawar merupakan subjek penelitian yang penting untuk mengevaluasi tingkat resistensi antibiotik regional dan mengurangi penyebarannya di lingkungan. Satwa liar dapat berfungsi baik sebagai reservoir maupun vektor bakteri yang resistan, memfasilitasi penyebaran resistensi di seluruh habitat dan bahkan benua melalui pergerakan jarak jauh. Mikrobiota gastrointestinal, seperti basil dan bakteri asam laktat, pada kelelawar menunjukkan profil ekspresi gen antioksidan dan pro-mutagenik yang memungkinkan respons imun antivirus yang unik. Kekebalan adaptif ini memungkinkan kelelawar untuk memberikan respons yang lambat namun efisien terhadap infeksi, sehingga memungkinkan mereka untuk menoleransi atau menghilangkan patogen. Beberapa peneliti telah mengonfirmasi bahwa kelelawar mengandung bakteri Gram-negatif dan Gram-positif yang menunjukkan resistensi terhadap beberapa kelas antibiotik.
Penyelidikan pertama mengenai resistensi antibiotik pada bakteri yang berasosiasi dengan kelelawar berhasil mengumpulkan sampel dari kelelawar di Jawa Barat dan Pulau Krakatau, Indonesia. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa bakteri Gram-negatif, terutama Escherichia coli, Klebsiella, dan Enterobacter, merupakan isolat yang dominan dan menunjukkan resistensi terhadap antibiotik seperti ampisilin, trimetoprim, sulfametoksazol, dan sefalotin. Deteksi resistensi antibiotik pada kelelawar ini disebabkan oleh kontaminasi dari kotoran manusia. Anggota famili Enterobacteriaceae termasuk yang paling resistan dan mampu menghasilkan Extended Spectrum β-laktamase (ESBL) adalah enzim yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1983 yang menghidrolisis antibiotik β-laktam (bla) generasi ketiga dan keempat, termasuk sefotaksim. Sejak saat itu, banyak penelitian difokuskan pada bakteri penghasil ESBL pada hewan, dengan perhatian khusus pada E. coli dan Klebsiella pneumoniae.
Meskipun kesadaran akan AMR sebagai masalah One Health yang kritis semakin meningkat, peran satwa liar “ khususnya kelelawar “ dalam penyebaran E. coli penghasil ESBL masih kurang dipahami. Literatur terkini telah mendokumentasikan E. coli terkait ESBL secara ekstensif pada populasi manusia dan ternak; namun, data pengawasan tentang reservoir satwa liar terfragmentasi dan terbatas secara geografis. Sementara beberapa penelitian telah melaporkan keberadaan E. coli yang resistan pada kelelawar, hanya sedikit yang mengevaluasi secara komprehensif distribusi global, karakteristik genetik, dinamika penularan, atau faktor ekologi yang berkontribusi terhadap persistensi dan penyebarannya. Lebih jauh lagi, sebagian besar penelitian yang ada tidak memiliki analisis genomik komparatif antara isolat E. coli yang berasal dari kelelawar dan yang ditemukan pada manusia atau hewan peliharaan, yang penting untuk menjelaskan potensi zoonosis. Kurangnya representasi satwa liar dalam kerangka kerja pemantauan AMR menghambat kemampuan kita untuk melacak jalur resistensi dan merumuskan strategi mitigasi yang efektif. Akibatnya, ada kebutuhan mendesak untuk mengkonsolidasikan dan mensintesis bukti yang tersedia tentang kontribusi kelelawar terhadap kemunculan dan penyebaran E. coli penghasil ESBL di seluruh skala ekologi dan geografis.
Dalam konteks pertanian, pengomposan kotoran kelelawar sebelum digunakan sebagai pupuk direkomendasikan sebagai metode praktis untuk mengurangi beban mikroba dan membatasi penyebaran AMR di lingkungan. Lebih jauh lagi, strategi terapi baru sedang dikembangkan untuk mengelola resistensi antibiotik. Ini termasuk terapi kombinasi yang melibatkan antibiotik bla dengan kelas antibiotik lainnya, pemberian bersama inhibitor β-laktamase, dan penggunaan antibiotik yang sinergis dengan biosida. Pendekatan inovatif seperti penggunaan fitokimia, inhibitor molekul kecil, dan interferensi RNA juga sedang diselidiki sebagai pengobatan alternatif atau tambahan untuk memerangi patogen yang resistan. Solusi yang muncul ini menawarkan cara yang menjanjikan untuk melawan ancaman bakteri MDR yang terus meningkat.
Faktor risiko yang berkontribusi terhadap penyebaran E. coli penghasil ESBL dari kelelawar meliputi perambahan habitat, kontaminasi lingkungan dari limbah antropogenik, penyalahgunaan antibiotik pertanian, dan pengelolaan limbah yang tidak memadai di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Mobilitas tinggi, plastisitas ekologis, dan umur panjang kelelawar memperkuat peran mereka sebagai vektor jarak jauh, yang mampu menyebarkan bakteri yang resistan di seluruh ekosistem dan batas geografis.
Implikasi kesehatan masyarakat sangat besar. E. coli penghasil ESBL berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, mortalitas, dan biaya pengobatan, terutama pada infeksi yang pilihan terapinya sangat terbatas. Data pengawasan menunjukkan peningkatan prevalensi ESBL di seluruh benua, dengan Asia dan sebagian Eropa menunjukkan beban tertinggi. Selain itu, konsekuensi ekonomi meluas melampaui perawatan kesehatan hingga keamanan dan perdagangan pangan, terutama jika guano yang terkontaminasi digunakan sebagai pupuk.
Kelelawar merupakan reservoir E. coli penghasil ESBL yang signifikan tetapi sering diabaikan. Melibatkan satwa liar dalam strategi pengawasan dan respons AMR sangat penting untuk mengekang penyebaran gen resistensi secara global. Penelitian di masa mendatang harus difokuskan pada perbandingan genomik, pemodelan penularan, dan penilaian risiko ekologis untuk menginformasikan intervensi berbasis bukti pada hubungan manusia-hewan-lingkungan.
Penulis korespondensi: Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., Mkes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Agustin ALD, Khairullah AR, Effendi MH, Tyasningsih W, Moses IB, Budiastuti B, Plumeriastuti H, Yanestria SM, Riwu KHP, Dameanti FNAEP, Wasito W, Ahmad RZ, Widodo A, and Afnani DA (2025) Ecological and public health dimensions of ESBL-producing Escherichia coli in bats: A One Health perspective. Veterinary World, 18(5): 1199“1213.





