Studi antropologi ragawi saat ini berkembang dengan baik dan pemanfaatannya di bidang dimorfisme jenis kelamin pada suatu sampel populasi tertentu sangatlah berguna bagi kepentingan forensik dan kasus-kasus legal. Di Asia, studi ini terkadang terkendala jika dilaksanakan langsung melalui autopsi atau bedah mayat karena faktor sosiokultural dan agama. Sehingga dibutuhkan suatu metode alternatif yang lain yang dapat memberikan hasil yang sebanding dengan metode di atas, dan studi berdasarkan data radiografi menjadi pilihan yang sangat potensial.
Pada kasus-kasus tertentu di mana penentuan jenis kelamin dibutuhkan sebagai langkah awal untuk memastikan identitas seseorang, maka data tulang dapat dibandingkan dengan analisis dari dara dasar suatu sampel populasi tertentu. Studi untuk menetapkan data dasar ini menjadi krusial dan harus dikerjakan dengan baik dan obyektif. Pada penelitian tim gabungan dari Universitas Teknologi Mara, Malaysia dan 51动漫, Indonesia, khususnya dari Departemen Anatomi, Histologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran, kami berhasil mempublikasikan suatu hasil penelitian terhadap identifikasi pembeda jenis kelamin berdasarkan studi radiografi tulang jari-jari tangan sampel populasi dewasa di Malaysia.
Dari total 218 data foto rontgen tangan laki-laki dan perempuan usia dewasa tersebut dilakukan pengukiran beberapa parameter dua dimensi pada tulang jari-jari tangan kanan dan kiri. Tulang-tulang tersebut dibedakan secara spesifik berdasarkan struktur anatominya dan ukuran-ukuran pada tulang jari-jati proksimal, ruas tengah maupun ruas distal. Setelahnya dilakukan analisis statistik perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua jenis kelamin tersebut, di mana pada laki-laki ukuran lebar dan panjang ruas jari-jari tersebut jauh lebih besar dibandingkan pada perempuan, dengan bias penelitian yang relatif kecil.
Bila dibandingkan dengan data dari pengukuran langsung pada sampel populasi lain, maka data dari penelitian ini serupa dan polanya dapat dibandingkan dengan obyektif. Meskipun biasanya tulang yang digunakan sebagai basis pengukuran data adalah tulang panggul dan tulang lainnya seperti tulang paha serta kepala. Tingkat akurasi pada penelitian ini mencapai di atas 80% menunjukkan bahwa data yang didapat cukup obyektif dan dapat dijadikan salah satu basis data guna identifikasi awal penentuan jenis kelamin pada kerangka yang ditemukan.
Penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus, dan diharapkan memiliki dampak positif bagi peneitian lanjutan di bidang ini.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Artikel lengkap dapat dibaca di:
Choy Ker Woon, Alan Basil Peter, Nur Ismaliza Binti Ismail, Muhammad
Mikhail Syahmi Bin Azmi, Qistina Alia Binti Irwan Benjamina, Nurafiqah Dayini Binti Dasuki,
Nur Fazurin Sofea Binti Ahmad Nordy, Muhammad Luqman Hakeem Bin Mohd Sobri, Salina
Hisham, Kunasilan Subramaniam, Jamil Ibrahim Bin Nawab Rajah & Viskasari P. Kalanjati (10
Feb 2026): Population-specific sexual dimorphism in phalanges: development of forensic
models using radiographs in the contemporary Malaysian population, Australian Journal of
Forensic Sciences, DOI: 10.1080/00450618.2026.2617321





