Ritual ziarah makam telah menjadi salah satu tradisi budaya yang mengakar di masyarakat pesisir Jawa Timur, terutama di sekitar makam Dewi Sekardadu. Tidak sekadar menjadi praktik spiritual, ziarah ini mencerminkan perpaduan antara nilai budaya lokal dan ajaran Islam. Dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens, ritual ini membuka perspektif baru tentang bagaimana individu dan struktur sosial saling mempengaruhi dalam menciptakan makna budaya melalui komunikasi ritual.
Makam keramat Dewi Sekardadu, yang tersebar di Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan Banyuwangi, memiliki nilai spiritual dan budaya yang unik. Masyarakat pesisir meyakini bahwa Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri, memiliki karamah atau kekuatan spiritual yang dapat membawa keberkahan, terutama bagi para nelayan. Ritual Nyadran, salah satu tradisi utama yang terkait dengan makam ini, menjadi sarana komunikasi sosial sekaligus religius yang mempertemukan komunitas nelayan dalam semangat kebersamaan.
Teori strukturasi Giddens memberikan kerangka analisis yang relevan untuk memahami dinamika agen dan struktur dalam praktik ritual ini. Agen, seperti juru kunci dan tokoh masyarakat, memainkan peran penting dalam menciptakan dan mempertahankan struktur sosial yang mendukung ritual. Di sisi lain, struktur sosial攜ang mencakup nilai-nilai agama, norma budaya, dan tradisi komunitas攎embatasi sekaligus memfasilitasi tindakan agen. Misalnya, para juru kunci sering kali menggunakan simbol-simbol religius untuk memperkuat legitimasi ritual dan menarik lebih banyak peziarah.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana ritual keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai medium spiritual tetapi juga menjadi alat untuk membangun identitas budaya dan solidaritas komunitas. Dalam kasus Nyadran, nilai-nilai Islam dan tradisi lokal berpadu melalui komunikasi ritual yang berlangsung di sekitar makam Dewi Sekardadu. Ritual ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat pesisir beradaptasi dengan perubahan sosial, seperti pergeseran dari stigma wilayah kriminal menuju kawasan religius yang dihormati.
Penelitian etnografi multisitus yang dilakukan selama lima tahun menunjukkan bahwa setiap lokasi makam memiliki narasi unik yang menggambarkan peran agen dalam membentuk struktur sosial. Di Kepetingan, misalnya, transformasi budaya lokal dilakukan melalui folklor yang menonjolkan Dewi Sekardadu sebagai dewi laut sekaligus sosok keibuan dalam Islam. Ritual Nyadran menjadi ruang bagi agen untuk mempromosikan toleransi dan koeksistensi antara budaya dan agama.
Tradisi ziarah makam Dewi Sekardadu menawarkan wawasan mendalam tentang relasi antara individu dan struktur sosial dalam komunikasi ritual. Dengan menempatkan agen sebagai penggerak utama, tradisi ini menunjukkan bagaimana praktik lokal dapat diubah menjadi simbol identitas budaya yang lebih luas. Analisis ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang budaya pesisir tetapi juga menggarisbawahi pentingnya komunikasi ritual dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Penulis: Dr. Liestianingsih Dwi Dayanti, Dra., M.Si.
Link: –
Baca juga: Gegar Budaya dan Strategi Adaptasi Pekerja Migran Indonesia di Bidang Pertanian Jepang





