UNAIR NEWS Tak jarang alumnus 51动漫 telah melalui lika-liku perjuangan seusai lulus kuliah hingga akhirnya menempati posisi yang boleh dibilang diinginkan banyak orang. Seperti halnya salah seorang alumnus yang berhasil menduduki posisi direktur RSUD Balung,Jember. Ialah Drg. Nur Cahyohadi,MARS, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR.
Bukan tanpa perjuangan Nur Cahyo mampu menduduki jabatan sebagai direktur. Setelah lulus dari FKG UNAIR tahun 1989, berbagai profesi pernah ia jalani. Prinsipnya sejak lulus kuliah adalah tidak bergantung kepada orang tua. Di hampir seluruh pekerjaan yang pernah ditekuninya, Nur Cahyo bertindak sebagai pembabat atau pemula.
淩upanya saya ini ditakdirkan untuk memulai segala sesuatu dari nol. Itu pengalaman yang sangat berharga buat saya, ujar Nur Cahyo yang sempat memberikan motivasi dalam Airlangga Education Expo akhir Februari lalu.
Nur Cahyo bercerita, setelah lulus, dirinya menjadi tenaga marketing di sebuah laboratorium pembuatan gigi palsu. Ia menjadi sales yang bertugas menemui dosen-dosennya di FKG yang memerlukan gigi palsu. Melalui profesi tersebut, oleh salah seorang dosen, ia ditawari untuk mengembangkan klinik kedokteran gigi di Bali. Lantas, Nur Cahyo menerima tawaran itu meski dengan berat hati karena harus meninggalkan orang tua.
Bekerja di Bali, ia kemudian berpindah dari satu klinik ke klinik lainnya. Nur Cahyo pernah berpindah tugas dari klinik Patria Husada, Nusa Dua Medical Service, hingga RS (Rumah Sakit) Kasih Ibu. Hampir semuanya, ia mulai dari nol. 滺ampir semua kegiatan saya di Bali mengawali dari nol. Dari yang tidak ada pasien sampai punya pasien, paparnya.
Pada 1992, atas tugas dari Kemenkes, Nur Cahyo memulai berkarir di Puskesmas Ambulu, Kabupaten Jember. Delapan tahun bertugas, ia kemudian berpindah ke Puskesmas Jenggawah pada 2000. Dan, dua tahun kemudian, Nur Cahyo ditugaskan untuk mengurus RS yang baru berdiri ketika itu, yaitu RS Balung. Berproses beberapa tahun, ia lantas dipercaya untuk mengmban amanah sebagai direktur pada 1 Juni 2016 hingga kini.
Bekal Organisasi
Tentu, lika-liku kehidupan sekaligus pekerjaan telah dirasakan Nur Cahyo. Dalam menghadapi segala lika-liku itu, ada bekal yang ia pegang. Salah satunya, bekal keorganisasian yang ia dapat sewaktu kuliah di FKG UNAIR.
Nur Cahyo mengingat-ingat kegiatan di UNAIR yang bermanfaat sebagai bekal profesinya. Ia yang mengaku berasal dari keluarga kurang beruntung ketika kuliah, cukup jarang pulang ke rumah sewaktu belajar di UNAIR. Selesai kuliah, lanjut dia, senat dan UKM Pramuka adalah kegiatan non-akademik yang menjadi jujugannya.
Nur Cahyo termasuk salah seorang mahasiswa yang merasakan manfaat mengikuti UKM Pramuka. Suatu ketika, ada Kemah Bakti Mahasiswa dan ABRI dengan lokasi penugasan di Bukit Soeharto, Kalimantan Timur. Ia dan tim harus terjun di masyarakat. Selain melakukan kegiatan kepramukaan, lanjut Nur Cahyo, dirinya melakukan pelayanan terkait kesehatan gigi.
淒i sana, saya bisa menggabungkan keilmuan dari fakultas saya kedokteran gigi, dengan ukm yang saya ikuti yaitu kepramukaan, ujar penerima beasiswa Supersemar tersebut.
Setelah semua lika-liku yang ia alami, Nur Cahyo merasa perlu untuk membagi pengalamannya kepada mahasiswa maupun calon mahasiswa UNAIR. Melalui UNAIR NEWS, ia berpesan kepada calon mahasiswa agar terus memperkuat keilmuan yang ditekuni agar dapat bersaing pada era yang semakin maju ini.
淵ang pasti, mereka (calon mahasiswa, Red) harus memperkuat keilmuan mereka untuk bisa bersaing. Kenapa? Karena yang pintar banyak, ujarnya.
淭idak lupa berdoa, supaya di dalam keilmuan yang dimiliki juga dibekali dengan ibadah yang bagus. Supaya apa yang diharapkan dari sisi keilmuan bisa berjalan sinergi. Hasil akhirnya adalah adik-adik bisa diterima di UNAIR sesuai dengan fakultas dan jurusan yang diinginkan, tambahnya. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria





