UNAIR NEWS – Bayang-bayang akan budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia sering kali memberi tekanan bagi perempuan. Isu diskriminasi pada perempuan di dunia profesional kerap membatasi ruang gerak perempuan untuk berkembang. Menyikapi hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) (FH) 51动漫 (UNAIR) berkolaborasi dengan (PPPA) Republik Indonesia menggelar diskusi publik guna mengulas kembali konstruksi sosial mengenai perempuan.
Diskusi publik bertajuk Setara Bersuara: Perempuan dan Narasi Sosial ini menghadirkan dua narasumber dari Kementerian PPPA, yaitu Prof Dr Ir Hj A Majdah Muhyiddin Zain Msi dan Patimasang BBusCom MSc. Kegiatan ini terselenggara pada Jumat (14/2/2025) di Ruang AP-302 Lt. 3 Gedung A G Pringgodigdo, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR.
Hadir untuk memberi sambutan Dekan FH UNAIR Prof Iman Prihandono SH MH LLM PhD. Prof Iman mengatakan bahwa UNAIR akan terus mendorong adanya kerja sama untuk mengatasi kasus-kasus diskriminasi perempuan. “Dengan senang hati kita di kampus akan berpartisipasi karena kita punya 2000 mahasiswa. Seratus (mahasiswa) saja kalau mereka mengampanyekan hal baik di Instagramnya kan bagus,” tuturnya.

Kesempatan Perempuan Berkembang
Mengawali sesi diskusi, Prof Majdah mengungkap bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih melestarikan budaya patriarki. Budaya ini berakar dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga. Keluarga membatasi mimpi anak perempuan sedari dini dengan membebaninya tugas-tugas rumah tangga. Tugas ini yang membuat perempuan mengira bahwa perannya hanya sebatas itu.
Namun, perempuan kini memiliki peluang untuk melepaskan diri dari stigma perannya yang sempit. Zaman kian berkembang pesat, di mana teknologi mulai mengubah pola pikir tradisionalisme mengenai perempuan.
Prof Majdah menganggap hal ini menjadi tantangan bagi perempuan untuk membuat keputusan, yaitu tetap berada dalam lingkup patriarki atau keluar dari zona itu. “Sekarang ini, justru bagaimana perempuan menyambut challenge ini, menunjukkan kemampuannya untuk memang bisa berkiprah di segala bidang kehidupan,” ujarnya.
Peran Laki-laki
Mengentaskan diskriminasi terhadap perempuan tidak dapat terlepas dari peran laki-laki. Narasumber kedua, Patimasang, menekankan bahwa laki-laki memiliki peran penting dalam mencegah diskriminasi yang dapat berujung pada kekerasan terhadap perempuan. Laki-laki dapat memulai peran ini dengan tidak melakukan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tindakan maupun pola pikir.
Di akhir diskusi, Patimasang berharap mahasiswa bisa turut berperan dalam mencegah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. 淭angan Kementerian PPPA tidaklah panjang. Kami berharap dari teman-teman semua mau bekerja sama dengan kami untuk menjadi perpanjangan tangan kami dalam menyentuh masyarakat yang lebih luas, tutupnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Edwin Fatahuddin





