Rumah Sakit merupakan fasilitas kesehatan rujukan yang memberikan pelayanan paripurna berupa layanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sebagai pintu gerbang terakhir pelayanan kesehatan, rumah sakit senantiasa mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan secara terpadu. Kehadiran rumah sakit pada setiap daerah merupakan salah satu upaya untuk mempermudah aksesibilitas masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Dari sisi pemerintah, rumah sakit menjadi elemen penting dalam mendukung percepatan program universal health coverage.
Pembuat kebijakan perlu memastikan bahwa setiap orang di negara ini dapat mengakses pelayanan kesehatan berkualitas. Pembuat kebijakan harus konsisten dengan kebijakan publik terkait kualitas dan aksesibilitas fasilitas kesehatan serta cakupan jaminan kesehatan. Ini sebagai upaya untuk mengurangi hambatan dan disparitas pemanfaatan rumah sakit antar masyarakat. Penyempitan kesenjangan perawatan kesehatan merupakan kunci dalam meningkatkan status kesehatan bangsa secara menyeluruh.
Penerapan sistem patriarki pada berbagai etnis di Indonesia menguatkan disparitas antara peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Wanita dianggap tidak berhak untuk memimpin keluarga dan hanya ditugaskan dengan pekerjaan rumah tangga. Meski demikian, peningkatan kesempatan bagi wanita untuk menggeluti dunia kerja nyatanya belum tentu berdampak positif. Wanita pekerja terutama yang telah menikah dan memiliki anak otomatis akan menanggung beban ganda, yaitu menyelesaikan pekerjaan dan mengurus keluarga. Jika mereka berpendidikan tinggi sehingga mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji memuaskan, maka kondisi ini akan mendukung stabilitas keluarga. Namun, penelitian oleh Asian Development Bank menunjukkan bahwa wanita dari keluarga berpenghasilan rendah semakin kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam pekerjaan yang menarik dan berisiko dibayar rendah.
Hingga saat ini, penelitian yang membahas pemanfaatan rumah sakit di kalangan pekerja wanita masih langka, terutama yang berfokus pada kesenjangan sosial ekonomi. Keterbaruan topik ini menarik peneliti untuk menganalisis disparitas sosial ekonomi dalam pemanfaatan rumah sakit oleh wanita pekerja. Hasil penelitian akan menjadi bahan masukan bagi pembuat kebijakan dalam memperluas jangkauan jaminan kesehatan nasional khususnya di kalangan wanita pekerja.
Layaknya kondisi di negara berkembang lain, sosial ekonomi menjadi faktor penentu perilaku masyarakat Indonesia dalam memilih jenis pelayanan kesehatan. Masyarakat dengan status ekonomi tinggi akan lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Beberapa penelitian sebelumnya juga menemukan fakta yang sama, bahwa masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah akan lebih sulit dalam membayar pelayanan kesehatan. Disparitas ini semakin diperkuat dengan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan yang menghambat masyarakat ekonomi rendah dalam mengakses rumah sakit. Penelitian ini menemukan bahwa pada tahun 2018 proporsi wanita pekerja di Indonesia yang memanfaatkan rumah sakit sebesar 5,8%. Sebagaimana masyarakat pada umumnya, status sosial ekonomi juga mempengaruhi perilaku pemanfaatan rumah sakit pada wanita pekerja. Semakin tinggi status kekayaan, semakin baik pemanfaatan mereka pada pelayanan rumah sakit.
Penelitian ini juga menemukan fakta lain bahwa disparitas perkotaan dan pedesaan mempengaruhi pemanfaatan rumah sakit di kalangan wanita pekerja. Daerah perkotaan memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyediakan transportasi alternatif yang lebih baik dibandingkan daerah pedesaan. Masyarakat yang tinggal di perkotaan akan lebih mudah dalam mengakses fasilitas kesehatan ketika dibutuhkan. Sebaliknya, disparitas ini membawa masyarakat pedesaan pada berbagai risiko kesehatan karena rendahnya infrastruktur dan akses pada pelayanan kesehatan.
Faktor-faktor lain yang juga berkorelasi dengan pengambilan keputusan wanita pekerja dalam memanfaatkan rumah sakit meliputi faktor usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Semakin tinggi usia dan level pendidikan wanita, semakin baik pengetahuan mereka tentang kondisi sakit. Sedangkan status perkawinan mempengaruhi tingkat dukungan yang akan didapatkan. Ketika wanita pekerja berstatus telah menikah, mereka akan mendapatkan lebih banyak dukungan dari keluarga dalam mengambil keputusan, dibandingkan wanita yang belum menikah.
Jenis pekerjaan berkaitan dengan kemampuan finansial keluarga dalam mengakses layanan kesehatan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa wanita yang banyak memanfaatkan pelayanan rumah sakit mayoritas bekerja sebagai pengusaha dan pekerja swasta. Saat ini, telah banyak tempat kerja yang bekerjasama dengan berbagai asuransi kesehatan untuk mempermudah akses tenaga kerja pada pelayanan kesehatan. Penelitian ini mendukung fakta tersebut, bahwa kepemilikan asuransi kesehatan berbanding lurus dengan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan pada wanita pekerja. Terlepas dari jenis asuransi dan pihak penanggung premi, kepemilikan asuransi memberikan kepastian bagi wanita pekerja untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang layak kapanpun mereka butuhkan.
Penulis : Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat 51¶¯Âþ
Sumber: Wulandari RD, Laksono AD, Prasetyo YB, Nandini N. Socioeconomic Disparities in Hospital Utilization Among Female Workers in Indonesia: A Cross-Sectional Study. Journal of Primary Care & Community Health. 13: 1“7 January 2022. doi:10.1177/21501319211072679 Link Artikel;





