Di Indonesia, kegiatan industri, khususnya yang berskala besar dan sedang, sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh kondisi Pulau Jawa yang lebih menguntungkan. Khususnya ketersediaan infrastruktur pendukung, sumber tenaga listrik, pasokan air yang dapat diandalkan, dan pelabuhan-pelabuhan besar untuk mengekspor barang-barang manufaktur dan mengimpor bahan baku industri. Salah satu kawasan industri terluas di Indonesia terletak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Gresik telah mengalami perkembangan industri yang besar, yang menghasilkan berdirinya lebih dari dua ratus sektor berbeda. Berbatasan langsung dengan Selat Madura, sektor ini mayoritas berada di pesisir timur Kabupaten Gresik. Industri-industri tersebut terdiri dari petrokimia, semen, peleburan baja dan tembaga, cat, pengolahan kayu lapis dan kayu, pengolahan minyak sawit, plastik, tekstil, makanan, eternit, ban, peralatan listrik, kertas, minyak dan gas, pupuk, farmasi, pestisida, barang-barang logam, dan berbagai lainnya.
Berbagai aktivitas industri tersebut, serta aktivitas manusia lainnya, dapat menyebabkan keluarnya produk limbah ke perairan pesisir. Melalui mekanisme adsorpsi pada partikel kecil tersuspensi, bahan kimia dan senyawanya berpotensi bersirkulasi dan diangkut dalam kolom air. Sebelum menetap di dasar laut dan menjadi bagian sedimen, sebagian besar partikel mengalami transformasi menjadi beberapa bentuk kimia. Peningkatan kadar unsur organik dan anorganik dalam sedimen merupakan indikasi efek yang disebabkan oleh manusia terhadap geokimia sedimen.
Sekitar 99% unsur yang berpotensi beracun (PTE = potentially toxic elements) yang berbahaya tertahan dalam partikel kecil padatan tersuspensi dan sedimen. Oleh karena itu, konsentrasi logam dalam sedimen sering kali lebih tinggi dibandingkan konsentrasi logam dalam air. Terkait kontaminasi logam, sedimen diterima secara luas sebagai salah satu indikator utama untuk menilai kualitas ekosistem. Spesies hewan bentik tertentu memiliki kemampuan untuk secara langsung atau tidak langsung mengasimilasi logam dari sedimen, yang memungkinkan logam tersebut memasuki rantai makanan.
Akibatnya, hal ini dapat menimbulkan risiko kesehatan yang besar bagi manusia yang mengonsumsi hewan yang dapat dimakan di kawasan ini. Logam seperti seng (Zn), timbal (Pb), tembaga (Cu), kadmium (Cd), nikel (Ni), merkuri (Hg), dan arsen (As) sering ditemukan di daerah tangkapan air yang terletak di kawasan perkotaan dan industri. Melakukan studi terhadap sumber dan distribusi spasial logam yang terdapat dalam sedimen di sepanjang pantai timur Gresik, Indonesia, merupakan hal yang sangat penting. Hal ini akan memungkinkan kuantifikasi potensi risiko ekologis yang terkait dengan kontaminasi ini dan memberikan pemahaman tentang tingkat polusi.
Sejumlah pendekatan dapat diterapkan untuk menilai kontaminasi logam pada sedimen di wilayah pesisir. Pendekatan ini mencakup penerapan indeks kuantitatif dan pedoman kualitas sedimen. Seperti indeks akumulasi geografis (Igeo), faktor kontaminasi (CF), faktor pengayaan (EF), derajat kontaminasi (CD), indeks beban polusi (PLI) , dan indeks risiko ekologi (RI). Indeks-indeks ini dihitung berdasarkan nilai latar belakang, yang menunjukkan rasio unsur-unsur dalam kerak bumi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran spasial logam pada sedimen pesisir Gresik, wilayah yang banyak terdapat aktivitas industri. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat polusi dan mengevaluasi potensi bahaya ekologis yang terkait dengan polutan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam arsenik (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), dan seng (Zn) telah melampaui standar kualitas sedimen internasional. Sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan signifikan terhadap ekosistem perairan di wilayah pesisir ini. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa logam-logam yang terdapat pada sedimen tersebut berkaitan dengan kombinasi masukan antropogenik. Khususnya yang berasal dari limbah industri di wilayah yang diteliti. Berdasarkan penilaian faktor pengayaan, faktor pencemaran, indeks geo-akumulasi, derajat pencemaran, indeks risiko ekologi, dan indeks beban pencemaran, dapat disimpulkan bahwa logam-logam yang diperiksa menunjukkan tingkat pencemaran sedimen yang berbeda-beda, mulai dari pencemaran ringan hingga pencemaran berat.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA
Baca juga: Faktor Risiko Wanita Usia Reproduksi terhadap Konsentrasi Logam di Taiwan





