UNAIR NEWS – Beberapa waktu lalu, dunia sepak bola Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya sang legenda, Bejo Sugiantoro. Pada Selasa (25/2/2024), mantan pesepakbola Persebaya tersebut meninggal usai tidak sadarkan diri saat bermain sepak bola. Dugaannya, pria kelahiran Sidoarjo itu meninggal akibat serangan jantung.
Kabar meninggalnya atlet saat melakukan aktivitas olahraga beberapa kali terjadi. Walaupun memiliki intensitas olahraga yang tinggi, ternyata atlet tidak terlepas dari risiko terkena serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Meity Ardiana Sp JP(K) FIHA FICA FAsCC memberikan tanggapannya soal hal ini.
Kenali Risiko Penyakit Jantung
Menurut Meity, kematian akibat masalah jantung itu terbagi menjadi dua. Pertama adalah serangan jantung (heart attack) akibat penyempitan pembuluh darah jantung. Kedua adalah gangguan irama jantung (sindrom brugada) karena adanya penyumbatan pembuluh darah koroner secara tiba-tiba.

Terkait kasus meninggalnya Bejo Sugiantoro yang notabene seorang mantan atlet, Meity menekankan pada faktor risiko. 淜ita harus melihat apakah Pak Bejo punya faktor risiko apa tidak, ungkap dosen (FK) 51动漫 (UNAIR) itu. Menurutnya, Bejo yang kala itu berusia 47 tahun berpotensi memiliki faktor risiko yang mendorong terjadinya serangan jantung. Misalnya diabetes, hipertensi, perokok aktif, dan lain-lain.
Meity juga menjelaskan terkait penanganan yang tepat jika terjadi hal serupa. 淜ita tidak tahu diagnosis pasien itu. Sebenarnya yang harus kita lakukan adalah kita segera mencari pertolongan untuk pasien. Jadi lakukan pemeriksaan di IGD, jangan sampai membuang waktu, paparnya.
Langkah Preventif
Pertama, penting untuk mengenali faktor risiko diri seperti penjelasan di muka. Jika memiliki penyakit diabetes, maka asupan gula harus terkontrol. Jika memiliki riwayat hipertensi, maka tekanan darah juga perlu menjadi perhatian. 淢asalah usia dan keturunan tidak bisa dimodifikasi. Tapi gaya hidup harus terjaga, imbuhnya.
Screening kesehatan secara rutin juga krusial guna mengetahui kondisi diri. Terutama jika akan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi. Ini penting untuk kita lakukan, baik bagi orang awam maupun olahragawan, pungkasnya.
Penulis: Afifah Alfina
Editor: Yulia Rohmawati





