UNAIR NEWS Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan bagi seluruh tatanan kehidupan. Salah satunya adalah perusahaan. Banyak perusahaan yang mengalami krisis akibat ketidakpastian akibat pandemi. Tidak ada yang bisa mengetahui kapan pandemi akan berakhir. Terlebih, semakin hari angka konfirmasi positif terus bertambah. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi pilihan oleh banyak perusahaan agar roda tetap berjalan.
Menanggapi hal tersebut, Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 51动漫 menggelar webinar yang bertajuk Manajemen Krisis dan Ketidakpastian dalam Perusahaan di Era Adaptasi Baru pada Rabu (18/9/2020). Dr. Dorien Kartikawangi, M.Si mengatakan bahwa krisis yang dihadapi perusahaaan akan berlangsung lama.
淜risis yang terjadi akibat pandemi ini saya rasa long term ya dan tidak bisa diduga, ucapnya.
泪苍颈 kan krisis kesehatan yang berdampak pada ekonomi dan sosial. Maka, harusnya kesehatan dulu ditangani. Tapi ini kan bingung jika kesehatan dulu ditangani dengan modal PSBB lalu ekonomi tidak berjalan akibatnya masyarakat tidak bisa hidup. Tapi jika tidak sehat, roda ekonomi tidak bisa berjalan, imbuhnya.
Pandemi yang terjadi menuntut perusahaan untuk berubah mengikuti perkembangan yang ada. 淛ika tidak mau berubah ya susah, kata akademisi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tersebut.
Dorien menegaskan bahwa saat ini yang bisa dilakukan perusahaan adalah beradaptasi dengan keadaan yang terjadi. 淭idak ada titik untuk kembali ke yang lama (kehidupan, Red). Kita semua harus menuju ke yang baru, tegasnya.
Kebutuhan untuk beradaptasi itu yang akan memunculkan kualitas kepemimpinan yang pro public sehingga pemimpin akan lebih memperhatikan karyawan. Termasuk pemimpin juga bisa menjadi motivator dan sosok yang bisa diteladani. 淜aryawan itu tidak bisa diberi perintah saja, tapi juga dengan pendekatan personal yang lebih empati karena secara mental mereka juga terganggu sehingga tidak bisa berkontribusi dengan baik, sebutnya.
Dalam beradaptasi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang pro digital. 淛adi, karyawan yang gagap teknologi ini bisa dibuatkan pelatihan online untuk mengajari mereka, ujarnya.
Kedua, memanfaat kekuatan new media. 淏iasanya media sosial hanya untuk hiburan saja, tapi sekarang itu bisa diarahkan untuk bisa lebih profesional. Perusahaan boleh menggunakan media sosial, tapi jangan over sosial tetap ada koridor yang harus disampaikan dan tidak, pungkas Dorien. (*)
Penulis: Icha Nur Imami Puspita
Editor: Feri Fenoria





