51动漫

51动漫 Official Website

Dosen FH UNAIR Paparkan Hasil Surveynya tentang Ketidaksetaraan Gender dalam Diskusi BEM FH UNAIR

Dwi Rahayu Kristanti S.H., M.A., (kiri) sedang menyampaikan materi ditemani dengan Ketua Pelaksana Pekan Perempuan 2020, Annida Aqila. (Foto: Pradnya Wicaksana)

UNAIR NEWS Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, Kementerian Sosial dan Politik (Sospol) BEM FH UNAIR menggelar Pekan Perempuan 2020 yang berlangsung selama sepekan pada tanggal 2-6 Maret 2020. Acara hari kedua dari program kerja ini adalah Diskusi Kampus Berkesetaraan yang diadakan pada Selasa sore (3/3/2020) di Ruang Diskusi Pusat Studi Gedung C FH UNAIR.

Mengundang Dwi Rahayu Kristanti S.H., M.A, selaku dosen FH UNAIR, diskusi itu melontarkan pertanyaan sederhana yaitu 淵akinkah kampus ini sudah setara?. Materi diskusi itu adalah hasil survey yang telah dilaksanakan pada akhir Februari oleh narasumber dan Ketua Pelaksana Pekan Perempuan 2020, Annida Aqila. Survey itu menanyakan kepada mahasiswa FH UNAIR tentang apakah responden pernah menemui atau mengalami kejadian yang tidak mencerminkan kesetaraan gender seperti catcalling dan sexual harassment di lingkungan kampus serta bagaimana caranya untuk meminimalisir kejadian tersebut.

淚ni merupakan bentuk eksperimen kecil-kecilan saya dengan Annida karena saya ingin memberikan suatu bentuk awareness bahwa sexual harassment baik kecil atau besar, itu merupakan masalah yang sangat serius. Ini bukan soal perempuan itu sensitif atau tidak bisa menerima candaan, tapi ini merupakan masalah yang menyangkut harga diri perempuan sebagai seorang manusia yang tidak boleh dilecehkan, ujar Yeyen, sapaan akrab dari narasumber.

Dilansir dari sekitar 50 responden, hasil menunjukkan bahwa hampir semua responden mengunggkapkan bahwa catcalling merupakan bentuk pelecehan yang paling sering terjadi. Catcalling adalah jenis pelecehan seksual verbal dengan melontarkan kalimat-kalimat yang menjurus pada ranah seksual perempuan. Biasanya hal itu terjadi saat perempuan berada di jalan. Dilanjut dengan tindakan bodyshaming dan candaan-candaan yang seksis hingga perempuan cenderung susah untuk mendapatkan posisi jabatan tertentu dalam organisasi kemahasiswaan. Pelaku dari tindakan pelecehan tersebut beragam dari sesama mahasiswa hingga guru besar.

淒isini kita bisa menyimpulkan bahwa hal-hal seperti ini tidak hanya kita lihat dalam berita saja tapi itu merupakan permasalahan yang sangat nyata di sekitar kita, tuturnya.

Disimpulkan dari jawaban responden, cara untuk meminimalisir pelecehan yaitu dengan meningkatkan awareness seperti diskusi, kajian, dan kampanye, hingga demo. 淲alaupun saya selalu optimis dan konsisten dalam menyuarakan hak-hak perempuan, seringkali mahasiswa tidak begitu minat atau bahkan enggan untuk membahas isu kesetaraan gender seperti ini. Untuk korban, seringkali mereka takut untuk bicara pengalamannya di lingkungan kampus karena malu dan budaya victim blaming yang masih marak, jelas alumni Flinders University itu.

Yeyen menjelaskan bahwa kekerasan seksual masih sering terjadi terkadang bukanlah salah laki-laki atau perempuan, namun karena budaya dan norma patriarki dan seksis yang sudah terkonstruksi dalam masyarakat. Peran perempuan yang cenderung didegradasikan itu dilakukan secara tidak sadar oleh semua gender karena itu sudah menjadi mindset.

淎khirnya, hal seperti itu juga menular terhadap hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan gender seperti warna dan jenis pekerjaan. Contohnya, warna merah muda yaitu warnanya perempuan. Mobil-mobilan itu mainannya laki-laki. Itu telah menjadi budaya, ujarnya.

Terakhir, ia berpesan kepada mahasiswa untuk berjuang dengan caranya sendiri-sendiri. Sehingga dapat mewujudkan lingkungan kampus yang setara, dan apabila mungkin, bisa merubah norma dan budaya seksis yang masih kental di negeri ini.

淧erjuangan itu dapat dimulai dari hal-hal yang kecil seperti mendukung teman yang ingin berbicara tentang isu kesetaraan gender. Saya percaya sistem dapat berubah, tutup Yeyen.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT