UNAIR NEWS European Center for Populisme Studies kembali menggelar Mapping Global Populism pada Kamis (25/5/2023) secara daring melalui Zoom. Mapping Global Populism kali ini bertajuk 湞 dengan Dr Ihsan Yilmaz sebagai moderator dan Dr. Inaya Rakhmani, Dr Pradana Boy Zulian, Dr Kurniawati Hastuti Dewi, serta Dr I Gede Wahyu Wicaksana sebagai pembicara. Dr I Gede Wahyu Wicaksana sendiri adalah dosen senior yang sampai sekarang masih aktif mengajar dan mempublikasi tulisan di jurnal nasional dan internasional.
Kajian Populisme di Indonesia
Populisme sudah menjadi kajian yang ramai dibahas di dalam diskusi akademik. Namun, studi mengenai populisme di Indonesia masih sedikit yang terpublikasi. Sebagian besar studi populisme masih menjadikan negara-negara Barat sebagai objek kajiannya.
淩endahnya studi mengenai populisme di Indonesia memberikan saya kesempatan untuk menggali lebih dalam fenomena populisme di Indonesia. Kebijakan luar negeri dan ideologi Indonesia menjadi dua hal yang tidak dapat terpisahkan ketika mengkaji populisme di Indonesia, ujar Dr Wahyu.
Wahyu menambahkan bahwa tokoh populis dapat mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Indonesia. Namun, kebijakan yang diambil oleh para tokoh populis di Indonesia tentu berbeda dengan kebijakan yang diambil oleh tokoh populis negara-negara Barat.
Tiga Faktor Munculnya Populisme di Indonesia
淪aya akan membahas setidaknya ada tiga faktor yang mendorong munculnya gerakan populisme di Indonesia, antara lain warisan sejarah, kerja sama ekonomi, dan situasi politik internasional saat ini, tutur Dr Wahyu saat menyampaikan materi.
Warisan Sejarah
Dr Wahyu menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka, Indonesia harus menghadapi perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Kondisi semacam itu mendorong para pemimpin Indonesia untuk mencetuskan politik bebas aktif.
淣amun, menjelang akhir masa jabatan presidennya, Soekarno beralih menjadi penentang Barat dan menganggap Barat adalah elit imperialis. Sikap Soekarno mulai menunjukkan bahwa dia adalah tokoh populis dengan membawa narasi sebagai penentang kekuasaan Barat, terang Dr Wahyu.
Motif Ekonomi
Setiap pemimpin negara tentu memiliki tujuan agar negaranya memiliki ekonomi yang stabil. Hal itu juga Presiden Jokowi lakukan kerja sama dengan berbagai negara yang dapat menguntungkan Indonesia
淎kan tetapi, di beberapa kesempatan, Jokowi justru membuat kebijakan ekonomi yang bersifat populis. Sebagai contoh, pemerintahan Jokowi yang memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya di Indonesia. Sikap seperti itu bisa berarti bahwa Indonesia masih memiliki solidaritas kepada masyarakat muslim, lanjut Dr Wahyu.
Kondisi Kawasan dan Global
Indonesia saat ini tengah menghadapi konflik antara Amerika Serikat dengan China di Laut China Selatan. Bahkan, Laut Natuna Utara diklaim oleh China sebagai teritori miliknya.
淪ikap yang diambil oleh China tentu mengancam kedaulatan Indonesia. Indonesia tidak mungkin langsung berganti haluan dengan menjadi sekutu Amerika dan menentang China. Pada akhirnya, dinamika populisme di Indonesia akan selalu menjadi diskusi menarik ke depannya, pungkas Dr Wahyu.
Penulis: Adil Salvino Muslim
Editor: Nuri Hermawan
Baca Juga: UNAIR Semarakkan Parade Surabaya Vaganza Sambut Hari Jadi Ke-730 Kota Surabaya





