UNAIR NEWS – Sebagian besar individu mungkin menganggap bahwa kesepian adalah fenomena yang lazim mereka alami. Namun, fenomena ini ternyata mengundang perbincangan hangat pada forum publik beberapa waktu ke belakang. Hal ini sebab muncul isu bahwa kondisi kesepian dapat memicu risiko kematian.
Dosen 51动漫 (UNAIR), Tiara Diah Sosialita SPsi MPsi Psikolog, turut menanggapi isu yang beredar ini. Ia mengungkap bahwa kesepian memang bisa berdampak fatal, tetapi jika berlangsung dalam jangka waktu lama atau bersifat kronis.
“Kesepian kronis yang dirasakan terus-menerus dan intens itu bisa berdampak pada banyak sekali risiko-risiko kesehatan mental, bahkan kematian. Ada studi yang menyimpulkan kalau kesepian itu punya dampak terhadap kesehatan yang setara dengan ketika seseorang merokok 15 batang sehari,” ujarnya.

Dampak Kesepian
Dalam perspektif psikologi, kesepian merujuk pada perasaan tidak terpenuhinya kebutuhan akan hubungan sosial yang bermakna, akibat adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam interaksi sosial. Individu yang menghadapi situasi ini akan merasa terisolasi, meskipun secara fisik terdapat orang lain yang menemani.
Meski demikian, kesepian tidak termasuk dalam klasifikasi gangguan psikologis menurut standar formal Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Tiara mengatakan kesepian lebih dominan muncul sebagai gejala gangguan psikologis, seperti stres, kecemasan, gangguan kepribadian, dan gangguan stres pascatrauma.
Tiara menambahkan bahwa kesepian sejatinya hanya emosi alamiah manusia dalam menyikapi suatu kondisi. Namun, akan semakin parah jika individu tidak segera mengatasinya. Dalam jangka panjang, kondisi kesepian kronis yang membuat individu semakin merasa terasing ini akan mendorongnya melakukan hal-hal negatif, termasuk mencelakai diri sendiri.
“Ketika kesepian kronis semakin intens akan muncul ide untuk bunuh diri. Kalau secara klinis hal ini sering terjadi pada remaja dan lansia karena ada faktor risiko perkembangan, baik secara kognitif, emosi, dan sosial, yang memang rawan,” ungkapnya.
Tidak hanya berpengaruh signifikan terhadap kesehatan psikis, kesepian kronis turut berdampak pada kondisi fisik individu. Kesepian berisiko terhadap kenaikan tekanan darah serta penurunan daya tahan tubuh. Hal ini sebab seseorang yang mengalami kesepian cenderung menjauhi pola hidup sehat, misalnya makan dan minum tidak teratur, jarang berolahraga, serta keseringan begadang.
Solusi Atasi Kesepian
Kemajuan teknologi komunikasi yang memungkinkan setiap orang terhubung tanpa batas ternyata belum mampu menjadi solusi utama untuk mengatasi kesepian. Tiara menekankan bahwa teknologi komunikasi justru akan meningkatkan risiko kesepian jika penggunaannya tidak tepat.
“Media sosial itu bisa memperbaiki kondisi kesepian ketika memang digunakan secara tepat dan adaptif. Misal menggunakan fasilitas koneksi sosial, seperti komunitas yang dapat berbagi pengalaman atau sekadar curhat,” jelasnya.
Individu yang mengalami kesepian dapat mencoba melakukan hal-hal praktis untuk mengatasi kondisi ini. Tiara menyarankan agar individu menjalin pertemanan yang berkualitas, berkomitmen saling timbal-balik dalam pertemanan, serta menyusun rutinitas harian yang lebih positif.
“Ketika sudah melakukan langkah-langkah praktis tersebut, tetapi kesepian yang dirasakan tidak membaik atau bahkan semakin parah, maka itu adalah tanda untuk mencari bantuan profesional dengan mendapatkan penanganan dari psikolog,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Ragil Kukuh Imanto





