51动漫

51动漫 Official Website

Dosen Psikologi UNAIR Tekankan Pentingnya Kolaborasi Lintas Generasi dalam Dunia Kerja

Ilustrasi oleh Jobstreet
Ilustrasi oleh Jobstreet

UNAIR NEWS – Isu tentang Generasi Z di dunia kerja terus menjadi perbincangan. Terlebih, survei terbaru dari General Assembly mengungkap bahwa perusahaan Amerika Serikat tak ingin merekrut Gen Z lantaran minimnya keterampilan interpersonal. Menanggapi hal tersebut, Dimas Aryo Wicaksono SPsi MSc, dosen di 51动漫 (UNAIR) menegaskan bahwa stigma-stigma yang sering kali melekat pada Generasi Z lebih bersifat stereotip.

淜alau misalkan merujuk Gen Z itu problematik, saya pikir ini lebih pada stereotip. Tergantung pada kacamata mana yang kita pakai, jelas Aryo. 

Menurutnya, penilaian bias kerap muncul dalam bentuk mirroring, yaitu kecenderungan individu membandingkan generasi baru dengan pengalaman generasinya saat pertama kali bekerja. Dalam perspektif psikologi, Aryo menjelaskan istilah individual differences. Ia menyebut, bahwa setiap generasi pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ia pun menilai, idealisme khas Gen Z justru bisa menjadi 渄arah segar bagi perusahaan. 

淕en Z sudah lebih dulu terbiasa dengan dunia digital. Mungkin yang perlu kita sesuaikan adalah pendekatan kita sebagai generasi-generasi sebelumnya kepada mereka ketika di tempat kerja, tambahnya.

Dimas Aryo Wicaksono SPsi MSc, dosen di 51动漫 (UNAIR). (Foto: Istimewa)

Sebagai digital native, Gen Z memiliki keunggulan khususnya dalam teknologi dan kreativitas. Pakar Psikologi Industri UNAIR itu lantas menekankan transformasi digital yang kini menjadi kebutuhan perusahaan justru membutuhkan kompetensi khas generasi ini.

淧erusahaan perlu memandang bahwa mereka lebih nyaman diperlakukan sebagai individu dengan keunikan masing-masing, bukan sekadar kelompok pekerja, ujarnya. Ia pun menambahkan, perhatian atasan turut berperan penting untuk memahami karakteristik tim. 

Selain itu, Aryo menerangkan bahwa kesenjangan ekspektasi antara perusahaan dan Gen Z juga perlu dikelola dengan bijak. Jika generasi sebelumnya menekankan loyalitas jangka panjang, Gen Z kerap menginginkan fleksibilitas, work-life balance, serta kebermaknaan. 

淒alam psikologi, ada konsep psychological contract. Gen Z cenderung bersifat transaksional, sehingga komunikasi dua arah untuk mengelola ekspektasi sejak awal sangat penting, ungkapnya.

Aryo menyarankan agar perusahaan tidak menyamaratakan gaya kerja. Pendekatan personal, lingkungan kerja suportif, nilai-nilai perusahaan yang konsisten, serta kepemimpinan yang adaptif merupakan kunci agar Gen Z betah dan berkomitmen dalam lingkungan kerja.

Namun demikian, lanjut Aryo, Gen Z juga harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. 淕enerasi Z perlu menghargai kontribusi generasi pendahulu. Jangan hanya menuntut dipahami, tetapi juga harus memahami budaya dan prinsip yang berlaku di perusahaan, tegasnya.

Aryo kembali menekankan bahwa generasi pendahulu seperti boomers, X, Y, hingga milenial perlu berperan sebagai mentor dan coach bagi Gen Z. Menurutnya, komunikasi dua arah dan kolaborasi lintas generasi penting untuk membangun lingkungan kerja yang harmonis. 

Sementara itu, bagi Gen Z perlu menyesuaikan diri dengan nilai dan budaya perusahaan. Sebab menurut Aryo, keberhasilan di tempat kerja kini tidak cukup mengandalkan kemampuan, tetapi juga sikap, nilai, dan prinsip. 淜alau terjadi perbedaan prinsip yang mendasar dan mencolok, tidak perlu buru-buru emosional dengan mengajukan pengunduran diri, tapi pikirkan jalur lain untuk menyampaikan idealisme, tegasnya.

Ia lalu menutup dengan analogi, 淪eperti aliran air yang mampu membentuk batu keras, idealisme anak muda bisa diwujudkan secara konsisten tanpa harus frontal menentang generasi sebelumnya.

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT