UNAIR NEWS 51动漫 (UNAIR) terus melebarkan sayap dalam hal kerja sama baik dengan mitra di dalam atau luar negeri. Perguruan tinggi tersebut ialah Aston University yang terletak di Birmingham, Inggris serta University of Nottingham yang berada di Nottingham, Inggris.
Tiga dosen UNAIR dikerahkan dalam proses kerja sama ini antara lain Prof Dr Emy Susanti Dra MA dari (FISIP), Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD dari FIB), serta Herri Trilaksana SSi MSi PhD dari (FST). Ketiga dosen tersebut melakukan kunjungan pada 17 hingga 26 Februari 2023 ke Inggris.
Misi Pertama
Kedua perguruan tinggi ini memuat dua misi yang berbeda. Selaku perwakilan dosen yang terbang ke Inggris, Herri menuturkan bahwa misi yang dibawa berupa diskusi kerja sama penelitian dengan Aston University utamanya dalam pembahasan studi sosial, kesamaan gender, serta inklusi sosial.
淜unjungan kami ke Inggris adalah dalam project grant dari British Council yang memenangkan UNAIR untuk bermitra dengan Aston University di Birmingham dalam penanganan Sexual Violence in Campus pada 2022 hingga 2023. Secara detail kami membahas tentang program penanganan kekerasan seksual, kerjasama penelitian, dan pendanaan berikutnya, tuturnya.
Selain itu, tim dari UNAIR turut memanfaatkan kunjungan ini untuk memaksimalkan potensi UNAIR dalam pengembangan jejaring dan aktivitas kolaborasi baik dalam teaching, research maupun international outreach program.
Kunjungan yang dilakukan menyasar beberapa kelompok penelitian seperti Energy Bioproduct Research Innovation (EBRI) yang diketuai oleh Prof Patricia Torney, Aston Institute for Photonics Technology (AiPT) yang diketuai oleh Prof Sergei Turitsin yang merupakan kelompok riset hasil kolaborasi dengan Prof Moh Yasin dari FST UNAIR, serta beberapa kelompok riset lain dari Mechanical Engineering yang pernah mendapatkan pendanaan sebelumnya dari pemerintah Inggris yang disebut dengan Ayrton Fund.
淭entu kita juga membidik skema pendanaan kerja sama melalui grant ini, ungkap Herri. 淭indak lanjut setelah kunjungan adalah mengisi kegiatan pengusulan proposal Ayrton Fund dan kolaborasi bersama dalam proses penelitian, baik di bidang sosial, maupun sains dan engineering, imbuh Herri.
Misi Kedua
Sementara itu, misi lain yang dibawa oleh ketiga dosen ini saat mengunjugi University of Nottingham adalah kerja sama dalam pembuatan solar car serta electrification motor. Sebelumnya Prof Patrick Wheeller yang merupakan profesor dari University of Nottingham serta anggota dari kelompok penelitian Power Electronics and Machine Center (PEMC) pernah mengunjungi UNAIR pada November 2022 lalu untuk melihat progres pembuatan solar car di UNAIR.

淒iskusi yang terjadi secara garis besar adalah bagaimana UNAIR bisa berkontribusi dalam level internasional utamanya dalam pembuatan solar car dan electrification motor, papar Herri. Kontribusi yang dimaksud ialah kontribusi UNAIR dalam UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS) dan World University Association for Community Development (WUACD).
Rencana Kunjungan ke UNAIR
University of Nottingham yang diwakili oleh Prof Martyn Poliakoff menyatakan dukungannya terhadap kegiatan yang dirintis oleh UKICIS maupun WUACD, khususnya dalam pengembangan jejaring kerjasama dan pemberdayaan masyarakat. Bentuk dukungan University of Nottingham ini dapat dilihat dari rencana untuk mengunjungi UNAIR pada Juni nanti.
Tindak lanjut yang akan dilakukan berupa kegiatan penelitian bersama dalam electrifications, termasuk di dalamnya kerjasama antara Program Studi dengan University of Nottingham dalam pembuatan solar car. Solar car ini akan dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi World Solar Challenge di Darwin, Australia pada 2023.
Dampak yang diperoleh UNAIR dalam hal ini adalah menguatkan kerjasama internasional serta melatih akademisi UNAIR dalam hal berkolaborasi secara nyata dengan mitra di luar ASEAN.
淜ami berharap dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kerjasama antar perguruan tinggi serta memperbesar peluang untuk kolaborasi penelitian dan pendanaan secara internasional, tutup Herri. (*)
Penulis: Icha Nur Imami Puspita
Editor: Binti Q. Masruroh





