UNAIR NEWS – Indonesia tengah mengalami bencana hebat banjir dan longsor yang menimpa sebagian wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kejadian tersebut kini diperparah dengan adanya aksi penjarahan toko oleh korban terdampak bencana yang mengambil bahan-bahan pokok pada minimarket.
Kejadian itu sontak menjadi sorotan berbagai pihak, salah satunya dosen (FISIP) 51动漫 (UNAIR) Dr Suko Widodo Drs MSi. Menurutnya, hal tersebut tidak seharusnya terjadi apabila pemerintah mampu mengantisipasi. 淢ereka mengambil hanya untuk makan karena situasi darurat, untuk bertahan hidup, ungkapnya.
Framing Media
Suko menyebut bahwa tindakan itu kurang tepat apabila disebut sebagai penjarahan. Hal tersebut karena tindakan itu sangat manusiawi dilakukan oleh korban karena minimnya akses bantuan yang ada. 淏anyak wartawan yang kurang memahami jurnalisme kebencanaan, sehingga penulisannya perlu diperhatikan, ungkapnya.
Dalam pemberitaan bencana, ada cara khusus dalam menyusun berita. Salah satunya yaitu dalam jurnalisme kebencanaan, jurnalis dituntut untuk memiliki simpati dan empati pada korban. 淪aya rasa penyebutan penjarahan pada berbagai media menunjukkan framing yang buruk bagi korban, padahal terdapat alasan rasional di belakangnya, ungkapnya.
Suko juga menyoroti pernyataan pejabat di media, terlebih pada kondisi bencana banyak pejabat yang memberikan pernyataan yang terkesan blunder. 淒alam situasi bencana dan kategori darurat, seharusnya pejabat membuat pernyataan yang informatif dan direktif. Sementara lupakan pernyataan yang sifatnya analisis, ujarnya.
Pejabat idealnya menyampaikan terkait proses penanganan bencana. Gaya komunikasi yang tepat seharusnya dengan melihat fakta yang ada sebelum berkomentar. 淪eharusnya sebelum membuat pernyataan, pejabat perlu data-data valid. Perlunya memperhitungkan risiko pada setiap pernyataan yang ada, jangan sampai kedepannya akan menimbulkan kericuhan, ungkapnya.

Manajemen Bencana yang Kurang
Lebih lanjut, Suko menyebut bahwa fenomena tersebut dapat terjadi akibat adanya manajemen bencana yang kurang baik. 淔enomena itu menunjukkan bahwa negara kurang bisa menjamin kehidupan warganya sehingga dalam bencana yang terjadi muncul berbagai side effect buruk ujarnya.
Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa pentingnya pengetahuan manajemen bencana yang baik. Selain itu, perlu peningkatan terkait pengetahuan mitigasi serta pentingnya makna menjaga alam. 淚ni pelajaran ke depan, agar pemerintah dan semua pihak belajar tentang manajemen resiko bencana, ungkapnya.
Suko menambahkan bahwa banyak kebijakan lingkungan dilanggar oleh pihak-pihak yang serakah dan demi keuntungan pribadi. Akibatnya, alam rusak dan melahirkan bencana bagi manusia lain. 淧emerintah perlu menegakkan regulasi yang ada secara ketat agar kedepannya hal serupa tidak terjadi, ujarnya.
Terakhir, Suko mengingatkan agar semua pihak bisa bahu membahu membantu dalam menangani permasalahan yang ada. 淪elain itu, dalam keadaan ini pemerintah dan warga harus bersinergi dalam membantu saudara kita yang terdampak, pungkasnya.
Penulis: Rifki Sunarsis Ari Adi
Editor: Khefti Al Mawalia





