n

51动漫

51动漫 Official Website

Dua Mahasiswa Baru Merajut Asa dari Ujung Indonesia

Merajut Asa
(Dari kiri) Yuni Indri Astina yang berasal dari Aceh Tenggara, dan Ifa Shintia berasal dari Merauke. (Foto: UNAIR NEWS).

UNAIR NEWS 51动漫 menjadi salah satu kampus yang mampu merepresentasikan keragaman Indonesia. Para mahasiswa baru yang berhasil diterima melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) berasal dari seluruh provinsi di Indonesia.

Mereka yang datang dari provinsi paling ujung, Aceh dan Papua, berbagi cerita tentang harapan dan masa depan yang ditumpukan pada UNAIR. Keduanya adalah Yuni Indri Astina yang berasal dari Aceh Tenggara, dan Ifa Shintia berasal dari Merauke.

Berawal dari pencarian informasi tentang UNAIR melalui internet, keduanya tertarik untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri terbesar di wilayah Indonesia timur. Baik Yuni maupun Ifa memilih perguruan tinggi yang berbeda daripada teman-teman sekolahnya.

淭eman-temanku pada ambil di Jakarta, Yogyakarta, dan sekitaran Aceh. Aku mikirnya langsung di universitas yang jauh. Aku sebelumnya belum begitu tahu banyak tentang UNAIR. Jadi, kan ya namanya saya dari luar atau pinggiran, saya tertarik karena bagus, tutur Yuni.

Pada SNMPTN lalu, Yuni memilih dua program studi di UNAIR. Pilihan pertamanya adalah prodi Ilmu Hukum, dan disusul Matematika. Ia berhasil diterima di prodi yang menjadi pilihan pertamanya yakni Ilmu Hukum.

Ketertarikannya pada Ilmu Hukum dilatari masalah hukum yang tak adil di Indonesia. Ia memandang, peradilan di Indonesia cenderung tumpul ke bawah.

淎ku sering belakangan nonton televisi. Saya melihat hukum di Indonesia lebih berpihak pada yang punya uang banyak atau orang-orang besar sedangkan orang yang kecil tidak adil, tutur Yuni.

淚baratnya kayak orang korupsi itu dibebaskan atau hukumannya cuma beberapa tahun. Sedangkan, kalau orang yang kecil bahkan kasusnya cuma sepele malah diperpanjang, tegasnya.

Berbeda dengan Yuni, Ifa memilih prodi S-1 Pendidikan Apoteker atas dorongan sanak keluarganya. Ifa mengatakan, prospek dunia kerja yang cerah mendorong dirinya untuk menuruti pendapat kakak orang tuanya.

淧ertama, saya mengikuti saran dari pakde. Kedua, banyak yang bilang bahwa UNAIR adalah universitas terbaik di Indonesia. Akhirnya, saya memilih UNAIR, terang Ifa.

Cita-cita

Tinggal puluhan ribuan kilometer dari kampung halaman, membuat Yuni dan Ifa harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Momen ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka berdua untuk menginjakkan kaki di Surabaya.

Apalagi, di ibukota Jawa Timur, keduanya tak memiliki sanak saudara. Namun, itu tak menjadi tantangan bagi mereka untuk terus menjalani hari demi hari.

淚ya ini pertama kalinya ke Surabaya. Dulu pas saya ke Jember hanya lewat aja, belum tahu Surabaya kayak apa. Kali ini, saya ke Surabaya sendiri. Saya sempat berpikir kok bisa ya anak Aceh sampai sini. Saya merasa bangga dan bersyukur juga, kisah perempuan tiga bersaudara itu.

Sebelum berangkat menuntut ilmu, mereka juga mendapatkan pesan dari kerabat keluarga agar senantiasa menjaga diri dan tekun berkuliah.

Sesampai di Surabaya, baik Yuni dan Ifa memilih untuk tinggal di kos-kosan. Selama di tempat tinggal yang baru, mereka sering bertukar cerita dengan rekan-rekannya satu kos. Dari rekan-rekan satu kosan, mereka mendapatkan banyak tuturan pengalaman tentang perkuliahan di UNAIR.

淯dah. Banyak mbak-mbak kosan yang cerita. Saya jadi pengin banget ikut kayak organisasi-organisasi yang baik buat aku. Tadi juga dijelasin sama bapak jangan sampai ikutan organisasi yang salah. Sama juga dijelasin sama bapak Direktur Kemahasiswaan pas sambutan, imbuh Yuni.

Beda orang beda saran. Ifa mengaku ingin fokus menuntut ilmu agar menjadi orang yang sukses ketika lulus kuliah. 淛angan jadi orang yang cari pekerjaan tapi biar pekerjaan yang mencari kamu, tutur Ifa.

Perbedaan jurusan dan latar belakang cerita hidup membuat keduanya berbeda dalam menentukan pilihan masa depan. Yuni bercita-cita menjadi seorang pengusaha atau jurnalis. Ia ingin membuat kehidupan keluarganya jauh lebih baik dari sekarang.

淏apak kerja sebagai tukang menggiling padi yang baru dipanen. Ibu jadi tukang pijat. (Saya) pengin jadi pengusaha, pengin buat kehidupan di keluarga lebih baik dari sekarang, tuturnya.

Sementara Ifa, ia ingin menjadi seorang farmasis. Sesuai dengan prodi yang diambilnya sekarang. 淒ulunya, aku pengin jadi guru dan dokter. Karena udah masuk di Farmasi, ya, jadi apoteker, kata Ifa yang memiliki seorang adik.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT