51动漫

51动漫 Official Website

Dua Mahasiswa UNAIR Presentasikan Gagasannya di Konferensi Internasional Rise of Asia di Paris

Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan saat melakukan presentasi di konferensi International and Interdisciplinary Conference The Rise Of Asia 60 Years After Havana (foto: Istimewa)
Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan saat melakukan presentasi di konferensi International and Interdisciplinary Conference The Rise Of Asia 60 Years After Havana (foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di kancah global. Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan, berhasil lolos mempresentasikan gagasannya dalam International and Interdisciplinary Conference The Rise Of Asia 60 Years After Havana. Gelaran itu berlangsung pada Jumat (20/2/2026) secara daring melalui Microsoft Teams.

Para peneliti tersebut berasal dari berbagai universitas di dunia, seperti India, Amerika Serikat, Italia, Prancis, Inggris, Afrika Selatan, hingga Tiongkok, mengikuti konferensi internasional tersebut. Panitia mencatat sebanyak 91 abstrak dengan 99 presenter yang terlibat.

淜egiatan ini berlangsung secara hybrid, online dan offline. Kalau offline dilaksanakan di University Paris 1 Pantheon, Sorbonne dan University Le Habre Normandy. Karena adanya beberapa keterbatasan, jadi kami memilih untuk mengikuti secara online, ungkap Irsyad.

Dalam forum ilmiah tersebut, Irsyad dan Kesya mengangkat penelitian mengenai diskursus sejarah PKI tahun 1926-1927. Mereka membedah tentang narasi kolonial melabeli gerakan tersebut sebagai pemberontakan, sementara dalam konteks Indonesia yang belum merdeka, istilah tersebut perlu dikaji ulang.

淛adi kami menggunakan teori dekonstruksi Jasques Deridda, Orientalisme Edward Said dan Arsip Ann Laura Stoler untuk membedah narasi tentang dekonstruksi PKI 19261927 dalam Sejarah Nasional Indonesia, jelas Irsyad.

Riset tersebut juga melibatkan pendekatan lintas disiplin, mulai dari teori filsafat, antropologi, hingga kajian poskolonial. Dengan demikian, penelitian tidak hanya bergerak dalam ranah sejarah, tetapi juga memperkaya perspektif melalui teori sosial yang lebih luas.

淜ami menelusuri arsip berbahasa Belanda dan koran-koran sezaman. Kami bandingkan siapa yang menyebutnya pemberontakan, siapa yang menyebutnya perlawanan, dan siapa yang netral. Semua itu harus diverifikasi melalui kritik sumber, ungkap mereka.

Kesya juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam konferensi internasional adalah kendala bahasa. Sebagai mahasiswa dari Asia, ia mengakui rasa gugup saat harus mempresentasikan riset di hadapan audiens global. Namun demikian, pengalaman tersebut justru menjadi ruang pembelajaran yang berharga. 

淜ami melihat adanya perbedaan budaya riset antara Indonesia dan luar negeri. Isu yang dianggap sensitif di dalam negeri, seperti PKI, justru mendapat ruang diskusi akademik yang lebih terbuka di forum internasional. Kami percaya, selama percaya diri dan berani bertanya, semuanya bisa berjalan lancar. Mereka juga sangat inklusif dan mengapresiasi perbedaan, tuturnya.

Di sisi lain, mereka berkesempatan membangun relasi dengan peserta dari Tiongkok dan India, bertukar kontak, serta memperluas jaringan internasional. Namun lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi momentum untuk melampaui batas diri.

淜onferensi ini membuka chance mental. Kita jadi berani keluar dari zona nyaman jurusan. Sejarah bisa berdialog dengan filsafat, antropologi, bahkan teori sastra. Kita tidak bisa dibatasi hanya oleh label jurusan, ungkap Kesya.

Partisipasi tersebut membuktikan bahwa mahasiswa UNAIR mampu berkontribusi dalam diskursus global, sekaligus membawa perspektif kritis Indonesia ke panggung internasional.

Penulis: Putri Andini

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT