Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah. Ada dua macam diabetes melitus yaitu tipe-1 dan tipe-2. DM tipe-1 diakibatkan oleh tubuh tidak mampu menghasilkan insulin secara maksimal sedangkan tipe-2 disebabkan ketidak seimbangan metabolisme, sehingga produksi dan penyerapan insulin kurang optimal.
Selama beberapa dekade terakhir, telah terjadi peningkatan prevalensi DM tipe- 2 pada banyak negara di dunia dan dari berbagai pendapatan. Pendekatan terapi alternatif untuk mengendalikan kadar gula yang tinggi terkait dengan DM tipe-2 dengan cara mengaktifkan enzim-enzim α-glucosidase dan α-amylase. Enzim α-glucosidase adalah enzim yang berperan dalam saluran pencernaan untuk memecah karbohidrat menjadi glukosa, sedangkan enzim α-amilase adalah enzim yang mengkatalis pemecahan pati menjadi maltosa dan glukosa yang merupakan satu-satunya bentuk gula yang dapat diserap tubuh. Oleh karena itu diperlukan suatu bahan kimia yang dapat menghambat dua enzim tersebut supaya tidak terbentuk glukosa dalam darah dan yang akan diserap tubuh.
Dua senyawa baru ±·™-²ú±ð²Ô³ú²â±ô¾±»å±ð²Ô±ð²ú±ð²Ô³ú´Ç³ó²â»å°ù²¹³ú¾±»å±ð (NBB) dan turunananya telah berhasil disintesis dengan rendemen 50-58%. Penentuan struktur senyawa NBB tersebut dilakukan dengan metoda spektroskopi seperti FTIR, ESI-MS, 1H-NMR dan 13C-NMR. NBB ini diharapkan dapat menghambat kerja enzim α-glucosidase dan α-amylase agar supaya tidak terbentuk glukosa yang berlebihan dalam darah, artinya bahwa NBB sebagai target untuk menghambat kedua enzim tersebut.
Kedua enzim tersebut dapat dievaluasi cara kerjanya dengan uji in silico. In silico adalah metoda untuk memprediksi interaksi antara senyawa obat dengan protein target (enzim atau reseptor). Mechanics-Poisson Boltzmann/Generalized Born Surface Area (MM-PB/GBSA) digunakan untuk menghitung energi ikatan (ΔGbind (MM-GBSA)) dari NBB terhadap enzim-enzim α-glucosidase dan α-amylase.
Hasilnya menunjukkan bahwa NBB yang mempunyai gugus gugus pendorong elektron seperti -OCH3, -OH dan -Cl berinteraksi dengan enzim α-glukosidase menghasilkan energi ikat -21.94, -6.71 and 21.94 kcal/mol yang lebih rendah daripada senyawa standar acarbose yang biasa digunakan untuk anti diabetes yaitu sebesar 32.62 kcal/mol. Perlu diketahui bahwa apabila energinya rendah, maka senyawa tersebut sangat stabil. Untuk dengan gugus N-2–(-OCH3, -OH dan -Cl)- NBB yang diinteraksikan dengan enzim α-amylase juga mempunyai energi ikat yang yang hampir sama dengan standarnya sendiri yaitu “ 39.33, -43.96, -42.81 kcal/mol, acarbose-46.51 kcal/mol. Baik NBB maupun standar berinteraksi dengan asam-asam amino Ala281, Asp282, and Asp616 pada enzim α-glukosidase dan asam amino Gly110 pada enzim α-amylase.
Penulis: Yusuf Syaril Alam, Pratiwi Pudjiastuti*, Saipul Malulana, Nur Rahmayanti Affifah, Fahimah Martak, Arif Fadlan, Tutik Sri Wahyuni, Syukri Arief
Jurnal: Synthesis and Antidiabetic Evaluation of N’-Benzylidenebenzohydrazide Derivatives by In Silico Studies





