Vitamin C telah diteliti dalam sepsis dan penyakit kritis selama beberapa dekade. Namun, vitamin ini biasanya diberikan secara enteral dan umumnya tidak terbukti efektif. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan penurunan kadar vitamin C pada pasien yang sakit kritis. Pasien dengan penyakit parah, seperti sepsis, trauma, perdarahan, serangan jantung, luka, atau luka bakar, memiliki kadar serum vitamin C yang rendah. Carr et al. melaporkan kadar vitamin C sebesar 17,8 ± 8,7 mmol/L pada pasien sakit kritis. Selain itu, 40% pasien dengan syok septik mengalami defisiensi vitamin C dibandingkan dengan hanya 25% pasien tanpa syok septik. Biaya perawatan sepsis di rumah sakit, termasuk obat-obatan dan cairan, sangat tinggi. Pada pasien dengan syok septik dan sepsis yang disertai dengan operasi intra-abdomen, yang biasanya memerlukan perawatan intensif, memerlukan biaya yang lebih besar, sehingga membebani keuangan rumah sakit.
Tim dari 51¶¯Âþ merasa perlu membandingkan kadar vitamin C pada pasien bedah abdomen dengan syok septik dan sepsis untuk menyediakan manajemen mikronutrien pada pasien tersebut, terutama vitamin C sehingga dapat lebih efektif dari segi biaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada pasien dengan diagnosis syok septik dan sepsis yang dirawat di RSUD Dr. Soegiri, Lamongan. Pasien dipilih berdasarkan kriteria inklusi berikut: individu berusia ≥18 tahun, didiagnosis dengan infeksi intra-abdomen, memenuhi kriteria untuk sepsis dan syok septik, serta menjalani operasi intra-abdomen. Informasi pasien lain yang dikumpulkan antara lain; identitas, usia, indeks massa tubuh (BMI), jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, etnis, sumber infeksi abdomen, diagnosis, jenis prosedur bedah, lama tinggal di rumah sakit, komorbiditas, hasil laboratorium rutin, penggunaan ventilator, dan hasil akhir. Sampel darah diambil sebelum operasi untuk mengukur kadar vitamin C.
Penelitian ini melibatkan 40 subjek dengan rincian 21 pasien sepsis (52,5%) dan 19 pasien syok septik (47,5%). Rata-rata kadar vitamin C serum pada kelompok sepsis adalah 0,74 ± 0,59 (μmol/L) (0,01“2,09), sedangkan pada kelompok syok septik adalah 0,88 ± 0,56 (μmol/L) (0,01“1,80). Apabila dibandingkan dengan rata-rata kadar vitamin C pada orang sehat menurut literatur (50-70 μmol/L), kedua kelompok baik sepsis maupun syok sepsis sama sama mengalami hipovitaminosis. Hal ini dikarenakan pada pasien sepsis maupun syok sepsis terjadi kondisi dimana penggunaan vitamin C yang tinggi pada tubuh karena adanya proses inflamasi disertai dengan penurunan konsumsi vitamin C karena proses penyakit. Berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kadar vitamin C antara kelompok pasien sepsis dan syok septik.
Penulis: Dr. Anna Surgean Veterini, dr., Sp.An.KIC.
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada:
Baca juga: Mikrovesikel dan Peranannya dalam Sistem Hemostasis pada COVID-19





