n

51动漫

51动漫 Official Website

Dukung Penuh Gerakan Indonesia Bebas Sampah Tahun 2020

Ilustrasi
Ilustrasi

UNAIR NEWS – Gerakan Indonesia Bebas Sampah tahun 2020 telah lama dicanangkan oleh pemerintah. Namun realisasinya terasa belum masif pada kalangan masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya masyarakat yang masih membuang sampah pada lahan terbuka, salah satunya masyarakat Desa Dukuhsari, Jabon, Sidoarjo. Di sepanjang jalan desa RT.02 RW.01 Desa Dukuhsari, terlihat tumpukan sampah yang memanjang sejauh kurang lebih 50 meter.

Keberadaan sampah yang tidak terurus dapat mengundang banyak masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tumpukan sampah berpotensi mengundang hewan-hewan yang dapat menularkan penyakit kepada manusia.

Tergerak dengan adanya problem ini, lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR merancang suatu program untuk memberdayakan masyarakat, khususnya anak dan remaja disertai kader usia dewasa desa Dukuhsari. Kelima mahasiswa tersebut adalah Nisrina Tiara Sani selaku ketua, beserta empat anggota lainnya yakni Made Nita Sintari, Dian Tami Wahyuningtyas, Made Mira Wahyu Astani, dan Miftahol Hudhah.

Program yang diusulkan bernama GOSOK BERSAHAJA (Gerakan Olah Sampah Organik Bersama Sahabat Anak dan Remaja). Program ini dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dan lolos didanai oleh Kemenristekdikti tahun 2016.

“Realisasi pertama dari program GOSOK BERSAHAJA adalah dilaksanakannya kegiatan sosialisasi dan praktik komposing bertempat di balai desa Dukuhsari. Melalui kegiatan ini, peserta dikenalkan mengenai definisi sampah, jenis-jenis sampah, dampak sampah pada berbagai aspek, serta alternatif pengelolaan sampah khususnya sampah organic,” terang Nisrina.

Selain itu, Nisrina menjelaskan bahwa peserta juga dibekali dengan pengetahuan mengenai definisi kompos, manfaat kompos, alat dan bahan serta tata cara pembuatan pupuk kompos. Tidak hanya mengembangkan segi kognitif, peserta juga diajak melakukan kegiatan komposing secara langsung.

“Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dimana setiap kelompok menghasilkan satu drum kompos. Adapun bahan utama pembuatan kompos pada setiap kelompok sengaja dibuat bervariasi, yakni kelompok I membuat kompos berbahan 100% sampah organik, kelompok II membuat kompos berbahan 50% sampah organic, dan 50% kotoran ternak, serta kelompok III membuat kompos berbahan 100% kotoran ternak,”聺 jelasnya.

Nisrina menambahkan untuk realisasi kedua dari program GOSOK BERSAHAJA adalah kegiatan sosialisasi serta praktik budidaya kebun binaan sederhana. Adapun dalam program ini, tanaman yang dibudidayakan adalah cabai dan terung.

“Tanaman ini dipilih karena mudah diperoleh, perawatannya mudah dan murah, dapat ditanam dalam polybag, serta hasilnya bermanfaat bagi konsumsi masyarakat,” paparnya.

Di akhir Nisrina menegaskan bahwa segi kognitif yang dikembangkan dalam program kedua ini antara lain pengetahuan mengenai definisi budi daya secara umum, sekilas mengenai tanaman cabai dan terung, manfaat budi daya cabai dan terung, serta tata cara budi daya cabai dan terung dalam polybag mulai dari penyemaian, penyiapan media tanam, pemindahan bibit, pemeliharaan dan perawatan, serta pemanenan.

“Dalam hal ini peserta program juga diajak melakukan praktik langsung berupa pemindahan bibit menuju media tanam serta teknik pemupukan tanaman menggunakan pupuk kompos secara baik dan benar,” pungkasnya.

 

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT