Indonesia merupakan negara dengan tingkat kematian ibu tertinggi ketiga se-ASEAN setelah Myanmar dan Laos. Salah satu strategi yang terus digencarkan Pemerintah guna menurunkan angka kematian ibu adalah dengan menyediakan layanan ANC yang berkualitas. ANC dapat mendeteksi komplikasi dini, memberikan intervensi yang tepat jika bidan/ob-gyn menemukan kesulitan, dan menjadi media intervensi kesehatan pada ibu hamil baik mengenai tips kesehatan selama kehamilan, persalinan, hingga menyusui.
Suami merupakan seorang pemimpin yang berperan penting dalam mendukung ibu ketika hamil. Sebagai kepala keluarga, suami berperan dalam mengontrol sumber daya, berkonsultasi untuk menentukan perawatan ibu hamil, dan memiliki otoritas atas di mana dan kapan ibu hamil harus mencari perawatan medis (Wulandari, Laksono dan Matahari, 2022). Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa dukungan suami berdampak positif dalam mendorong ibu hamil untuk menghadiri kunjungan ANC. Peran suami juga berdampak positif terhadap proses persalinan dan dalam memilih penolong persalinan yang terampil (Lestari et al., 2019).
Saat ini Indonesia menghadapi tiga masalah kesehatan. Pertama adalah infrastruktur yang tidak merata dan tidak memadai. Kedua, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, terutama dokter spesialis. Ketiga, alokasi dana untuk sektor kesehatan masih sebesar 2,4% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (Amelia, 2020). Masalah ini menyebabkan tidak meratanya pembangunan kesehatan di Indonesia. Pembangunan kesehatan di Indonesia bagian timur mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan daerah lain. Pembangunan Kesehatan di Kawasan Timur Indonesia memiliki indikator keluarga sehat yang dangkal, utamanya di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua (Ipa et al., 2020; Laksono et al., 2021). Pemanfaatan ANC di wilayah timur Indonesia menunjukkan bahwa hampir semua daerah memiliki kesenjangan dengan Papua, kecuali Maluku (Laksono, Rukmini dan Wulandari, 2020). Kondisi inilah yang melatarbelakangi pentingnya analisis disparitas wilayah mengenai dukungan suami dalam ANC istri di Indonesia Timur.
Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa para suami di Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua mayoritas mendukung istri untuk mengunjungi antenatal care. Sebaliknya, suami di Maluku dan Maluku Utara mayoritas tidak mendukung ANC istri. Analisis lebih lanjut menggunakan uji regresi logistik biner menunjukkan bahwa suami di Nusa Tenggara Timur 1,556 kali lebih mungkin mendukung ANC istri daripada suami di Papua. Sedangkan suami di Maluku 0,528 kali lebih kecil kemungkinannya dalam mendukung ANC istri dibandingkan suami di Papua. Suami di Maluku Utara 0,476 kali lebih kecil kemungkinannya dalam mendukung ANC istri dibandingkan suami di Papua. Sementara itu, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam dukungan suami antara Papua Barat dan Papua.
Berdasarkan konteks sosial di lima wilayah tersebut, umumnya memiliki sistem sosial
patriarki yang cenderung menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan (Sakina dan A., 2017). Sistem sosial patriarki ini menempatkan kehamilan dan antenatal care sebagai urusan domestik, yang menjadi tanggung jawab perempuan. Hal inilah yang menjadi tantangan untuk melibatkan laki-laki dalam upaya perawatan kehamilan. Berdasarkan faktor geografis, Maluku dan Maluku Utara cenderung memiliki topografi yang lebih ekstrem daripada provinsi lain karena kondisi geografisnya berupa kepulauan. Sementara itu, Papua dan Papua Barat dikenal sebagai daerah dengan hutan belantara yang masih alami (Laksono dan Wulandari, 2021). Selain itu, wilayah timur juga masih banyak mempercayai mitos kesehatan yang menyulitkan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesehatan ibu (Laksono dan Faizin, 2015).
Selain disparitas wilayah, penelitian ini juga menemukan tiga faktor yang mempengaruhi dukungan suami terhadap ANC, yaitu faktor usia, pendidikan, dan kekayaan. Suami yang lebih tua dari usia istri cenderung akan memberikan perhatian dan dukungan kepada istri selama kehamilan. Berdasarkan pendidikannya, suami dengan pendidikan tinggi memiliki probabilitas 4,388 kali lebih besar untuk mendukung ANC istri dibandingkan suami yang tidak berpendidikan. Sedangkan dari faktor kekayaan, suami dengan status kekayaan menengah memiliki porbabilitas 3,730 kali lebih tinggi untuk mendukung ANC istri dibandingkan dengan suami terkategori termiskin.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suami di Nusa Tenggara Timur memiliki probabilitas tertinggi untuk mendukung ANC. Sebaliknya, suami di Maluku dan Maluku Utara memiliki kemungkinan terendah untuk menjadi pendukung ANC. Selain itu, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam dukungan suami antara Papua Barat dan Papua. Penelitian ini juga menemukan bahwa usia, pendidikan, dan kekayaan menjadi tiga faktor yang mempengaruhi dukungan suami terhadap ANC. Pembuat kebijakan hendaknya perlu lebih memperhatikan daerah kepulauan seperti Maluku dan Maluku Utara dalam mengembangkan strategi kebijakan dengan mempertimbangkan faktor geografis wilayah tersebut.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Sumber: Laksono AD, Wulandari RD, Rohmah N, Matahari R. 2022. Husband’s Support in Wife’s ANC in Eastern Indonesia: Do regional disparities exist? Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia: 10 (2) Link Artikel:





