Peningkatan prevalensi obesitas pada populasi remaja mengalami peningkatan global dalam dekade terakhir ini, yang diikuti juga komorbiditasnya, seperti sindrom metabolik yang disebabkan oleh resistensi insulin. Resistensi insulin sendiri merupakan faktor risiko berkembangnya penyakit jantung. Pola tidur pada remaja merupakan salah satu masalah penting yang harus menjadi perhatian, karena berpengaruh langsung pada kemampuan akademiknya, perilaku sosial dan sistem kardiometabolik.
Pola tidur merupakan bagian dari perkembangan remaja, yang akan mengubah waktu tidurnya, karena perubahan pengaturan biologis pada kematangan ritme neuroendokrin, seperti melatonin, kortisol, dan hormon-hormon pubertas, dan menentukan status kesehatan anak-anak, remaja dan orang tua melalui kontrol ritme diurnal yang berhubungan dengan homeostasis energi. Penurunan waktu tidur dari masa anak-anak akhir hingga usia 20 tahun banyak dialami di populasi, dengan jam berangkat tidur paling lama dialami oleh remaja usia 11 hingga 17 tahun. Terlebih lagi, durasi tidur yang singkat dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas insulin yang mengakibatkan kondisi resistensi dengan cara merubah metabolisme glukosa. Durasi tidur yang pendek juga menyebabkan merubahan kadar beberapa hormin, diantaranya: leptin, ghrelin, insulin, kortisol dan growth hormon, dan meningkatkan aktivitas saraf simpatik dengan cara meningkatkan kadar katekolamin. Peningkatan saraf simpatik menyebabkan ketidak seimbangan energi yang memicu overweight atau obesitas dan resistensi insulin.
Penelitian durasi tidur pada anak obesitas bersifat kontradiksi, beberapa menemukan hubungan durasi tidur yang pendek dan kejadian resistensi insulin pada anak, namun penelitian lain menemukan tidak adanya hubungan. Karenanya, dilakukan penelitian untuk menguji hubungan antara durasi tidur yang pendek dengan resistensi insulin di kalangan remaja penderita obesitas dengan metabolik sindrom di Surabaya dan Sidoarjo, dan menemukan bahwa pola tidur yang kurang, yakni durasi tidur kurang dari 7 jam umum ditemukan pada kelompok usia 16-18 tahun. Hal ini sejalan dengan temuan lainnya, bahwa remaja usia tersebut tidur lebih larut, karena faktor-faktor eksternal seperti tugas akademi, aktivitas sosial dan ekstrakurikuler, aktivitas fisik dan perilaku makan. Gangguan makan mempengaruhi remaja sebesar 72.7%, dan tercatat durasi tidur kurang dari 7 jam.
Penemuan lain menyatakan bahwa melatonin, menurun secara signifikan dengan pertambahan usia, dimana melatonin saat malam, kadarnya turun lebih besar. Pada remaja, selama tahapan remaja Tanner I dan II, baik melatonin malam dan siang, mengalami penurunan yang signifikan. Melatonin merupakan neurohormone untuk menjaga ritme sirkadian dan meregulasi siklus tidur dan terbangun. Melatonin bekerja dengan menstimulasi transkripsi mRNA pro-opiomelanocortin (POMC) di hipotalamus dan pituitary melalui reseptornya MT1 untuk menurunkan asupan makanan dan meregulasi perilaku makan. Karena terjadi penurunan kadar melatonin, sintesis POMC mengalami penurunan dan menstimulasi lebih banyak waktu untuk makan. Anxiety juga dapat menjadi penyebab penurunan kadar melatonin, yang umumnya diderita remaja. Anxiety memicu peningkatan kortisol atau hormon stres. Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama ternyata berkaitan dengan kejadian obesitas sentral, dengan cara mengatur ulang distribusi jaringan putih ke bagian perut dan meningkatkan nafsu makan yang mengandung kalori tinggi.
Penelitian ini juga menemukan tingginya kadar insulin pada remaja yang tidur kurang dari 8 jam per hari, dibanding remaja dengan tidur cukup. Penemuan ini sejalan dengan temuan pada populasi manula, ditemukan manula yang tidur kurang dari 5 ham per malam meningkatkan risiko memiliki kadar insulin yang tinggi sebesar 1.29 kali, dan 2.51 berisiko mengalami diabetes mellitus tipe 2. Sementara manula yang memiliki tidur 6 jam per malam memiliki risiko mengalami hyperinsulinemia sebesar 1.47 kali. Durasi tidur ternyata berhubungan dengan ras. Penelitian ini juga menemukan korelasi kuat antara durasi tidur dengan resistensi insulin, namun hasil ini bertentangan dengan penelitian lain yang ternyata menemukan hubungan durasi tidur dengan lingkar pinggang, yang dikonfirmasi oleh penemuan lain, bahwa durasi tidur mempengaruhi komponen utama keseimbangan energi, yaitu toleransi glukosa, nafsu makan dan hormon yang berpengaruh pada regulasi nafsu makan. Kurang tidur juga diduga meningkatkan kadar sitokin pro-inflamasi.
Penulis: Nur Aisiyah Widjaja
Jurnal: Sleep duration and insulin resistance in obese adolescents with metabolic syndrome: is there a correlation?





