51动漫

51动漫 Official Website

Edukasi Anak Penderita Kanker, Mahasiswa FIB UNAIR Rintis Komunitas Colourise

Muhimatul Khoiriyah, pendiri komunitas Colourise, saat mendampingi anak-anak penderita kanker YPKAI Surabaya melukis sebagai media terapi seni edukasi dan hiburan. (Foto: Istimewa).
Muhimatul Khoiriyah, pendiri komunitas Colourise, saat mendampingi anak-anak penderita kanker YPKAI Surabaya melukis sebagai media terapi seni edukasi dan hiburan. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Dalam membantu pendidikan anak-anak kanker, tiga mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) mendirikan komunitas . Komunitas itu digagas oleh Muhimatul Khoiriyah bersama dua rekannya, yaitu Anisa Nanda Shafira dan Haikal Wiranata. Mereka turut prihatin atas tingginya adiksi gawai pada kalangan anak-anak penderita kanker, khususnya di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya. 

Hima, sapaan dekat pendiri komunitas tersebut, mengatakan bahwa anak-anak di sana terpaksa putus sekolah lantaran kondisi kesehatan mereka. 淲ali dari anak-anak YPKAI kerap memberi akses gawai tanpa filter durasi untuk tetap menjaga mood anak-anak. Namun, hal ini justru melahirkan permasalahan baru, ungkap Hima. 

Dalam mengatasi permasalahan itu, Hima melalui komunitasnya menawarkan terapi seni lukis dengan metode storytelling berbasis aplikasi. Terapi ini, kata Hima, mampu menjadi sarana edukasi sekaligus alternatif hiburan bagi anak-anak guna mengurangi ketergantungan gawai.

淎nak-anak kanker perlu perhatian khusus. Mereka hanya dianggap rentan pada aspek kesehatan, sedangkan aspek lain seperti pendidikan kurang diperhatikan, ujar Hima. 

Melalui aplikasi serupa dengan nama komunitasnya itu, Hima mewujudkan Colourise untuk pembelajaran anak-anak sesuai Kurikulum Merdeka jenjang SD dan SMP. Pada aplikasi yang berisi fitur story telling, anak-anak diajak untuk melukis sebagai bentuk mengekspresikan emosi sekaligus menguji pemahaman mereka terhadap tema cerita. Lebih lanjut, Hima menuturkan, hasil karya lukis akan dipasarkan pada platform e-commerce serta penjualan diserahkan kembali kepada anak-anak agar termotivasi secara ekonomi. 

Muhimatul Khoiriyah bersama tim komunitas Colourise. (Foto: Istimewa).

Hima menyebut, perjalanan Colourise sempat menemui tantangan, khususnya dalam hal pendanaan. Untuk mengatasinya, Hima dan kawan-kawan kerap mencari cara agar mendapatkan dukungan finansial melalui kompetisi proyek sosial, seperti PFMuda dan Innovillage. 

淜olaborasi mitra kami adalah Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya. Kolaborasi lain dengan PT Telkom Indonesia melalui program CSR Innovillage, juga ada BSO SKI FIB UNAIR dan beberapa komunitas lainnya, tambah Hima. 

Melalui Colourise, kata Hima, anak-anak di YPKAI mulai menikmati aktivitas melukis dan menyadari potensi bakat mereka di bidang tersebut. Hima juga bercerita bahwa salah satu momen paling berkesan bagi tim Colourise adalah ketika seorang anak perempuan berusia tiga tahun menunjukkan antusiasme luar biasa terhadap programnya. 

淪aat pertama kali kami menjalankan proyek ini, kami belum memiliki banyak fasilitas. Namun, anak tersebut begitu bersemangat hingga membeli alat lukis sendiri dan ingin melukis setiap hari. Sayangnya, sebelum kami bisa memberikan fasilitas yang lebih baik, ia telah berpulang lebih dulu. Kenangan ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus berkembang dan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak YPKAI, tutur Hima.

Selanjutnya, tim Colourise berharap bisa menjangkau lebih banyak anak-anak penderita kanker dan memberikan akses pendidikan yang lebih inklusif sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). 淜ami ingin menciptakan lingkungan yang lebih suportif dengan fasilitas melukis yang nyaman dan akses pendidikan yang lebih baik, tutup Hima. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia 

AKSES CEPAT