Penyakit kronik ginjal (CKD) merupakan penyakit yang secara umum dapat menyebabkan kematian kepada manusia. Sejumlah 850,000 penderita CKD di dunia mengalami kematian. Mayoritas penderita CKD juga mengalami penyakit fibrosis ginjal yang merupakan tahap akhir dari penyakit CKD. Penyakit fibrosis ginjal diketahui dengan melimpahnya jumlah matriks ekstraseluler (ECM) seperti kolagen, asam hialuronat (HA), dan laminin pada tubulointerstitial ginjal. Peningkatan myofibroblast secara drastis terjadi pada penderita fibrosis ginjal yang berlanjut kepada penurunan fungsi ginjal. Peningkatan sitokin pro-inflammasi berpengaruh terhadap proses patologis fibrosis ginjal tersebut. Sebagai respon adanya CKD, maka sitokin pro-inflammasi seperti tumor necrosis factor“α (TNF-α) dan interleukin-6 (IL-6) mengalami peningkatan yang justru dapat memicu transdifferensiasi fibroblast menjadi myofibroblast selama proses transisi eptel-mesenkimal (EMT) yang mengawali terjadinya fibrosis ginjal. Oleh karena itu, diperlukan langkah pencegahan untuk mencegah semakin meluasnya progresi fibrosis tersebut. Salah satu pemicu terjadinya fibrosis adalah karbon tetraklorida (CCl4) yang sering digunakan dalam penelitian terkait fibrosis organ. Bahan toksik ini dapat menyebabkan permeabilitas membran sel meningkat dan juga fragmentasi DNA. Pemanfaatan bahan alam baik berupa jamur dan tanaman telah menjadi trend dalam mencegah timbulnya beberapa penyakit khususnya pada fibrosis ginjal. Polisakarida merupakan bahan aktif yang terdapat pada tanaman dan jamur yang sering digunakan sebagai suplemen kesehatan tubuh. Jamur Ganoderma applanatum dikenal sebagai jamur medis dikarenakan berbagai macam bioaktivitas yang terkandung didalamnya seperti immunomodulator, anti-tumor, antioksidan, hipoglikemik, hepatoprotektif, dan antivirus. Induksi ekstrak kasar polisakarida G. applanatum dianggap cocok sebagai bahan terapi pencegahan terhadap fibrosis ginjal.
Penelitian ini menunjukkan efek ekstrak kasar polisakarida G. applanatum yang dapat mencegah kenaikan berat ginjal, kadar urea, kadar kreatinin, kadar TNF-α, dan kadar IL-6. Selain itu, aspek histopatologi jaringan ginjal menunjukkan pemberian ekstrak kasar G. applanatum dapat mencegah peningkatan sel-sel inflammasi sehingga dapat mencegah terjadinya inflamasi penyakit kronik. Selanjutnya, pengujian terhadap jumlah ECM menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar polisakarida G. applanatum dapat mencegah kenaikan jumlah ECM yang diproduksi dikarenakan pemberian ekstrak kasar polisakarida G. applanatum efektif dalam menghambat proses transdifferensiasi menuju myofibroblast pada tubulus ginjal. Pengukuran terhadap persentase α-SMA sebagai marker myofibroblast juga menunjukkan kelompok mencit yang diberikan ekstrak kasar polisakarida G. applanatum dapat menghambat secara signifikan kenaikan persentase α-SMA, sehingga menunjukkan pengaruh ekstrak dalam menghambat proses transdifferensiasi menuju myofibroblast. Pemberian ekstrak kasar polisakarida G. applanatum juga dapat mencegah kenaikan kadar HA dan laminin secara signifikan yang mendukung pernyataan terkait keberhasilan dalam menghambat ECM sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar polisakarida G. applanatum dapat mencegah terjadinya fibrosis ginjal melalui serangkaian penghambatan terhadap fakto-faktor pro-inflammasi yang memang menjadi tumpuan sel-sel ginjal untuk transdifferensiasi menjadi myofibroblast.
Penulis: Prof. Win Darmanto,Med.Sci.Ph.D
Judul jurnal:
Effect of crude Ganoderma applanatum polysaccharides as a renoprotective agent against carbon tetrachloride-induced early kidney fibrosis in mice.
Author:
Raden Joko Kuncoroningrat Susilo, Dwi Winarni, Suhailah Hayaza, Ruey-An Doong, Sri Puji Astuti Wahyuningsih and Win Darmanto*
Link jurnal:





