51动漫

51动漫 Official Website

Efek Lockdown pada Parameter Kontrol Metabolik pada Pasien Diabetes Mellitus selama Pandemi COVID-19

Foto oleh Natural News

Sejak penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) pertama kali muncul di Cina, lockdown telah diterapkan di banyak negara sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran penyakit. Kondisi lockdown mengakibatkan perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, dari penurunan aktivitas fisik, perubahan pola makan, perubahan kondisi psikologis dan emosional, serta disregulasi nafsu makan pada masyarakat. Selama lockdown, populasi yang rentan seperti pasien diabetes mellitus (DM), mengalami pembatasan akses layanan kesehatan yang mengakibatkan perawatan pasien tidak optimal. Selain itu, pemantauan rutin parameter kontrol metabolik, termasuk kontrol glikemik dan lipid, menurun secara signifikan. Hal ini mengakibatkan kondisi pasien DM memburuk kalau dinilai secara keseluruhan.

Dalam upaya mengatasi keterbatasan pertemuan tatap muka, beberapa solusi menggunakan teknologi masa kini diusulkan sebagai alternatif pemantauan untuk mempertahankan kontrol glikemik yang baik. Sebelum pandemi COVID-19, solusi teknologi untuk pemantauan glukosa berkelanjutan (Continous Glucose Monitoring = CGM) dan telemedicine digunakan secara terbatas. Penggunaan CGM memberikan perbaikan hasil klinis dari perawatan DM. Pada pembatasan sosial akibat COVID-19, CGM adalah alat penting untuk pemantauan glukosa jarak jauh pada pasien diabetes. Oleh karena itu, manfaat CGM dalam pemantauan diabetes selama pandemi COVID-19 perlu dievaluasi lebih lanjut.

Pada penelitian tinjauan sistematis dan meta-analisis ini, ditujukan untuk memberikan gambaran umum hubungan antara lockdown dan kontrol metabolik. Pada awalnya penelitian menemukan 166 artikel, namun setelah disaring ditemukan 45 artikel terpilih untuk dievaluasi. Akhirnya terdapat 21 studi dengan total 3.992 subjek penelitian yang memenuhi kriteria kelayakan dan dimasukkan dalam penelitian tersebut. Semua studi merupakan studi observasional yang terdiri dari 13 studi kohort, lima studi kasus-kontrol, dan tiga studi potong-lintang. Sebagian besar penelitian dilakukan di Italia, sedangkan yang lain dilakukan di Spanyol, Prancis, Yunani, Belanda, Israel, Arab Saudi, Turki, dan India.

Pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan perbaikan selama lockdown,  baik dari parameter time-in-range (TIR) dan time-above-range (TAR) yang merupakan parameter kontrol glikemik pada CGM.  Sementara pada pasien DM tipe 2 justru didapatkan kadar glukosa darah puasa memburuk. Kadar kolesterol total dan kolesterol low density lipoprotein (LDL), tetapi kadar trigliserida memburuk. Sebagian besar penelitian melaporkan bahwa diet, aktivitas fisik, dan manajemen stres memainkan peran utama dalam mempengaruhi kontrol parameter metabolik pada pasien DM. Namun faktor-faktor lain juga mempengaruhi pada control metabolik yang memburuk. Faktor sosial termasuk ketidakstabilan emosional, kerentanan sosial ekonomi, ketidakpastian status pekerjaan, dan kesulitan dalam mengakses perawatan kesehatan serta akses pengobatan memperburuk penurunan parameter metabolik. Sebaliknya, upaya regulasi telemedicine, baik dalam bentuk bantuan secara tele atau virtual maupun penggunaan sistem pemantauan glukosa mandiri dengan CGM dapat memperbaiki control glikemik pada pasien diabetes.

Konsumsi makanan berkarbohidrat tinggi yang berlebihan, termasuk buah-buahan dapat menjadi penyebab peningkatan trigliserida dan kadar glukosa darah pada pasien DM. Pengurangan aktivitas fisik selama lockdown juga ikut berkontribusi pada peningkatan trigliserida dan glukosa darah. Beberapa faktor risiko lain seperti jenis kelamin, usia yang lebih muda, indeks massa tubuh yang lebih tinggi, dan kadar rerata glukosa yang lebih tinggi sebelumnya juga ikut berperan pada kontrol metabolic pasien DM. Meski demikian diet yang buruk dan aktivitas fisik selama lockdown masih merupakan kontributor utama pengendalian DM.  Selain faktor diet, aktivitas fisik, dan manajemen stres, kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting dalam mempertahankan kontrol glikemik yang memuaskan selama lockdown.

Individu yang kurang berolahraga dan mengabaikan kebiasaan sehat selama lockdown juga berisiko lebih tinggi memiliki kontrol glikemik yang buruk. Masalah sosial ekonomi dan beban psikologis selama lockdown juga memperburuk parameter kontrol glikemik. Penurunan ini terbukti bahkan di antara pasien dengan DM tipe 1 yang sebelumnya memiliki kontrol metabolik yang baik.

Pada profil lipid didapatkan diet tinggi karbohidrat meningkatkan trigliserida puasa dan dikaitkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi. Hal ini terbukti dari beberapa penelitian observasional yang sudah dilakukan. Kadar trigliserida terkait erat dengan asam lemak non-esterifikasi dan dapat memiliki efek berbahaya pada keseimbangan glukosa karena efek lipotoksisitas. Kadar trigliserida serum juga dapat secara independen mewakili faktor risiko penyakit kardiovaskular dan ginjal pada pasien DM.

Secara umum penerapan lockdown untuk membatasi penyebaran COVID-19 mengakibatkan perubahan gaya hidup bagi banyak orang di seluruh dunia. Gaya hidup yang kurang gerak, asupan makanan yang tidak sehat, dan manajemen stres yang buruk bisa menjadi faktor dalam manajemen DM. Namun penerapan CGM bagi sebagian orang berdampak positif seperti meningkatnya kepatuhan minum obat. Lockdown tidak berdampak negatif pada parameter metabolik pada pasien diabetes, selama individu tersebut mampu mempertahankan kebiasaan sehari-hari yang sehat. Diet bernutrisi seimbang, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres yang tepat, di samping penggunaan GCM sebagai strategi pemantauan diabetes jarak jauh direkomendasikan untuk kontrol parameter metabolik yang baik pada pasien diabetes yang tidak dapat mengakses konsultasi langsung dengan dokter selama lockdown.

Penulis: Hermina Novida, dr., Sp.PD.

Link:

AKSES CEPAT