Demam rematik akut dapat mengalami fase resolusi akut dengan berkembang menjadi penyakit jantung rematik akibat adanya respon imun tidak normal yang disebabkan infeksi group A β-hemolytic Streptococci. Infeksi group A β-hemolytic Streptococci terlibat pada patogenesis demam rematik akut menyebabkan proses peradangan dan pelepasan sitokin. Diantara banyaknya sitokin yang terlibat, ekspresi tinggi dari Transforming Growth Factor-β1 (TGF- β1) telah terbukti memiliki pengaruh pada terjadinya fibrosis katup jantung.
Tatalaksana pada pencegahan sekunder penyakit jantung rematik saat ini adalah dengan pemberian antibiotik jangka panjang tergantung dari komplikasi peradangan otot jantung pada fase akut demam rematik. Durasi pemberian antibiotik terpanjang dapat mencapai seumur hidup. Pemberian antibiotik jangka panjang ini dapat menyebabkan kepatuhan yang rendah serta potensi resistensi antibiotik. Pemberian antibiotik jangka panjang dapat menyebabkan efektifitasnya menjadi rendah sehingga diperlukan alternatif obat yang lain sebagai pencegahan sekunder.
Intervensi pada tahap awal fase peradangan dengan obat yang memiliki efek antifibrosis dapat menjadi harapan baru untuk memutus proses perburukan dari demam rematik akut menjadi penyakit jantung rematik. Salah satu obat yang memiliki efek antifibrosis adalah golongan statin. Efek antifibrosis golongan statin melibatkan aktifitas penghambatan HMG-CoA reduktase sehingga proses fibrosis melalui jalur TGF-β1 dapat terhambat. Efek antifibrosis golongan statin telah diteliti pada berbagai sel, termasuk sel fibroblas paru, sel tubular ginjal, sel hati, dan fibroblas ventrikel jantung. Salah satu statin yang memiliki interaksi ikatan yang kuat dan durasi penghambatan lebih lama pada HMG-CoA reduktase adalah rosuvastatin. Pada beberapa penelitian rosuvastatin memiliki efek dalam menekan proses fibrosis melalui penghambatan jalur TGF-β1, penghambatan aktifitas HMG-CoA reduktase dan aktivasi Peroxisome Proliferator Activated Receptor γ (PPARγ) yang bersifat protektif terhadap fibrosis.
Penelitian ini merupakan in vitro laboratory experimental posttest only control group design. Kelinci New Zealand (Oryctolagus cuniculus) jantan berusia 12 minggu dilakukan ekstraksi katup jantung kemudian sel interstital katup diisolasi. Sel interstitial katup diinduksi fibrosis dengan pemberian TGF-β1 5 ng/ml kemudian diberikan perlakuan rosuvastatin dosis 10 µM/L, 25 µM/L, dan 50 µM/L. Langkah selanjutnya dilakukan pengukuran ekspresi α “ Smooth Muscle Actin (α-SMA) pada pewarnaan imunohistokimia sebagai penanda dari diferensiasi miofibroblas. Hasil penelitian ini mendapatkan rosuvastatin dosis 10 µM/L, 25 µM/L, dan 50 µM/L secara signifikan menurunkan ekspresi α-SMA pada sel interstital katup yang diinduksi TGF-β1. Pada penelitian ini mendapatkan rosuvastatin secara signifikan dapat menghambat diferensiasi miofibroblas pada sel interstitial katup dengan dosis optimal pada 25 µM/L.
Penulis: Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), M.M
Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Valentidenta, W. M., Oktaviono, Y. H., Lefi, A., & Suwanto, D. (2023). Effect of Rosuvastatin on Rabbit Valve Interstitial Cell Differentiation Induced by Transforming Growth Factor- β1 based on α “ Smooth Muscle Actin Expression. Journal for ReAttach Therapy and Developmental Diversities, 6(1s), 13-18. doi: https://doi.org/10.52783/jrtdd.v6i1s.211.





