Penyembuhan luka merupakan tantangan klinis, terutama bila terhambat dan berisiko menimbulkan infeksi serta komplikasi. Zinc oxide (ZnO) memiliki sifat antimikroba dan anti-inflamasi yang membantu mengurangi kolonisasi bakteri dan mengatur respons imun lokal. Ellagic acid (EA), sebagai polifenol alami, berperan dalam mempercepat penyembuhan dengan meningkatkan proliferasi fibroblas, sintesis kolagen, dan angiogenesis. Kombinasi ZnO dan EA berpotensi memberikan efek sinergis melalui aktivitas antimikroba, antioksidan, anti-inflamasi, dan regeneratif. Namun, efek gabungan keduanya secara in vivo masih terbatas diteliti. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek penutup luka ZnO-EA terhadap infiltrasi makrofag, angiogenesis, dan densitas kolagen pada hari ke-3 dan ke-7 pasca-perlakuan
Penelitian eksperimental in vivo dengan desain posttest-only ini melibatkan dua puluh ekor tikus jantan Wistar (Rattus norvegicus) berusia 12“15 minggu dengan berat 200“300 g. Hewan dibagi menjadi dua kelompok: kelompok kontrol yang mendapat penutup luka ZnO, dan kelompok perlakuan yang mendapat penutup luka ZnO-EA. Setiap kelompok dievaluasi pada hari ke-3 dan ke-7, menghasilkan empat sub kelompok (n=5 per subkelompok). Campuran ZnO-EA dibuat dengan menggabungkan 87,5 g serbuk ZnO dan 12,5 g EA, kemudian dicampur dengan asam lemak kelapa dalam rasio 1:1. Luka eksisi berukuran 10×10 mm dibuat pada punggung tikus yang telah dianestesi. Penutup luka diaplikasikan satu kali saat luka dibuat. Tikus dieutanasia pada hari ke-3 dan ke-7. Sampel jaringan diwarnai dengan Hematoxylin dan Eosin (H&E) untuk menilai infiltrasi makrofag dan angiogenesis, serta Masson’s Trichrome untuk menilai densitas kolagen. Analisis statistik menggunakan uji t independen setelah uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji homogenitas Levene.
Kelompok ZnO-EA menunjukkan infiltrasi makrofag yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok ZnO pada hari ke-3 dan ke-7 (p<0,01). Pembentukan pembuluh darah baru juga meningkat secara bermakna pada kelompok ZnO-EA di kedua waktu tersebut (p<0,01). Densitas kolagen secara signifikan lebih besar pada kelompok ZnO-EA dibandingkan kelompok ZnO di hari ke-3 dan ke-7 (p<0,001), dengan serat kolagen yang lebih padat dan terorganisasi. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara hari ke-3 dan ke-7 dalam masing-masing kelompok. Tidak ditemukan efek samping seperti nekrosis, infiltrat inflamasi berlebihan, atau respons granulomatosa pada kelompok ZnO-EA.
ZnO meningkatkan penyembuhan luka melalui aktivasi sel imun bawaan, khususnya makrofag dan neutrofil, melalui interaksi dengan reseptor Toll-like TLR6 yang memicu jalur pensinyalan MAPK dan NF-κB, menghasilkan sitokin pro-inflamasi yang esensial untuk pertahanan luka awal. Reactive oxygen species (ROS) yang dihasilkan ZnO juga mendorong ekspresi VEGF sehingga merangsang angiogenesis. Sementara itu, EA memodulasi aktivitas makrofag dengan mengurangi sitokin pro-inflamasi (IL-6 dan TNF-α) sekaligus meningkatkan sitokin anti-inflamasi (IL-10), serta menghambat jalur NF-κB dan MAPK. EA juga menstimulasi proliferasi sel endotel yang diinduksi VEGF melalui interaksi langsung dengan VEGFR-2, sehingga mendukung angiogenesis dan remodeling matriks ekstraseluler. Kombinasi kedua agen ini menciptakan efek komplementer dalam pengendalian mikroba, modulasi inflamasi, reduksi stres oksidatif, dan pembentukan matriks ekstraseluler secara simultan, melampaui kemampuan ZnO tunggal.
Ksimpulan pada aplikasi penutup luka ZnO yang diperkaya dengan EA secara signifikan meningkatkan infiltrasi makrofag, angiogenesis, dan deposisi kolagen selama proses penyembuhan luka pada model tikus in vivo. Kombinasi ZnO-EA menawarkan pendekatan yang praktis dan berlandaskan biologi untuk mempercepat perbaikan jaringan, serta dapat menjadi dasar pengembangan biomaterial topikal generasi berikutnya untuk manajemen luka klinis.
Penulis: Prof. Dr. Intan Nirwana, drg., M.Kes.
Link:





