51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Efektivitas Positive Deviance Hearth (Pos Gizi) dalam Meningkatkan Status Gizi Anak yang Mengalami Kekurangan Gizi

Isu kekurangan gizi di Indonesia masih menjadi perhatian utama pemerintah yang perlu segera diatasi. Tujuannya adalah untuk mengurangi angka kematian anak dan meningkatkan status gizi anak sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDG’s). Untuk mencapai hal ini, perlu dilakukan upaya bersama dalam mengatasi faktor-faktor penyebab kekurangan gizi. Pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) merupakan salah satu implementasi dari Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, inisiasi menyusui dini (IMD) pada bayi baru lahir, pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) mulai usia 6 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun atau lebih. Ini diperkirakan dapat mengurangi kematian anak di bawah 5 tahun sebanyak 15% jika intervensi gizi berbasis bukti mencakup 90% dari populasi. Strategi intervensi di tingkat masyarakat memerlukan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaannya.

Positive Deviance Hearth (PDH) adalah bentuk implementasi dari pendekatan PD yang mengidentifikasi perilaku penyimpangan positif sebagai upaya pencegahan masalah gizi. Hal ini melibatkan pembelajaran dan praktik perilaku baru terkait persiapan makanan, pemberian makan, kebersihan, dan pengasuhan anak. Kegiatan ini membantu keluarga untuk mempertahankan perbaikan berat badan yang telah dicapai sebelumnya. Implementasi Pos Gizi dengan pendekatan PD bertujuan untuk memulihkan kondisi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, menjaga status gizi yang baik bagi anak-anak di rumah mereka secara mandiri, dan mencegah kekurangan gizi pada anak-anak yang akan lahir dalam masyarakat tersebut. Ini dilakukan dengan mengubah norma masyarakat terkait perilaku dalam pengasuhan anak, pemberian makan, dan pencarian layanan kesehatan.

Pemerintah Kota Surabaya, bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah Wahana Visi Indonesia dan 51¶¯Âþ (UNAIR), telah meluncurkan Pos Gizi dengan pendekatan Positive Deviance (PD) di kecamatan Simokerto. Kriteria peserta program ini adalah balita dengan status gizi kurang, yang ditandai oleh indeks berat badan/umur (BB/U) di bawah -2 SD. Dalam kegiatan Pos Gizi ini, orang tua atau pengasuh terlibat aktif dengan harapan bahwa setelah berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan Pos Gizi, keluarga dapat menerapkan perilaku positif yang telah mereka pelajari bersama. Inti dari program ini adalah mengadopsi perilaku positif dari keluarga yang memiliki anak-anak dengan status gizi baik, meskipun memiliki kondisi ekonomi yang kurang stabil. Perilaku positif ini menjadi dasar edukasi, yang diperoleh melalui observasi langsung di tengah masyarakat yang terlibat. Observasi juga mencakup analisis kondisi lingkungan di mana balita tumbuh, dilakukan dengan metode jalan transect (penelusuran wilayah). Hasil observasi ini digunakan sebagai dasar untuk memberikan edukasi dan konseling kepada ibu dan balita yang terlibat dalam program.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kegiatan Pos Gizi di Kecamatan Simokerto dengan melihat perubahan Z-Score berat badan menurut umur (BB/U) sebelum, selama, dan setelah intervensi, serta menilai apakah ada korelasi antara perubahan praktik pemberian makan dengan perubahan status gizi anak.

Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif analitik. Data yang digunakan adalah data sekunder dari intervensi Pos Gizi yang berlangsung selama tiga bulan dan dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia. Lokasi dan partisipan penelitian dipilih dengan metode purposive sampling, melibatkan 29 peserta dari tiga kelurahan di Kota Surabaya.

Ditemukan perbedaan yang signifikan dalam perubahan Z-Score berdasarkan waktu intervensi, terlepas dari kelompok usia dan lokasi tempat tinggal anak, terutama pada hari ke 10/12. Namun peningkatan status gizi anak selama pelaksanaan Pos Gizi di Kecamatan Simokerto terjadi pada 10,3% dari sasaran yang artinya belum mencapai peningkatan status gizi pada semua peserta. Perubahan dalam praktik pemberian makan anak selama program Pos Gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi anak (p>0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam perubahan Z-Score berdasarkan waktu penimbangan, baik dengan mempertimbangkan atau tanpa mempertimbangkan kelompok usia dan lokasi tempat tinggal balita (p<0,05). Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan model pelaksanaan Pos Gizi di wilayah perkotaan, dengan mempertimbangkan berbagai potensi dan tantangan yang telah diidentifikasi.

Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:

Sari, N. M. W., Wangi, M. P., Ayuningtyas, H., Himawati, A., Handayani, S., Sakinah, F. N., Kristanto, D. A., Manahan, A., Nugroho, A., Sahila, N., Frans, C., & Mahmudiono, T. (2023). The Effectiveness of Positive Deviance Hearth (Pos Gizi) to Improve Malnourished Children in Urban Surabaya, Indonesia: Efektifitas Positive Deviance Hearth (Pos Gizi) untuk Perbaikan Anak Kurang Gizi di Perkotaan Surabaya, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(3), 449“458. https://doi.org/10.20473/amnt.v7i3.2023.449-458

AKSES CEPAT