Dalam anestesi umum, opioid biasanya diberikan secara intravena. Meskipun anestesi dalam dapat memastikan stabilitas hemodinamik dan mengurangi respons somatik, pendekatan ini sering kali menyebabkan periode pemulihan dan kebangkitan yang lama. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menilai dan membandingkan efikasi anestesi opioid intravena selama fase intraoperatif dan pemulihan anestesi.
Fentanyl adalah salah satu opsi yang umum digunakan untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik selama periode perioperatif, tetapi obat ini juga sering dikaitkan dengan insiden mual dan muntah pascaoperasi (PONV) yang tinggi serta gangguan pernapasan. Sebaliknya, remifentanil merupakan salah satu opioid kerja pendek yang sangat efektif, terutama dalam prosedur bedah yang panjang. Profil farmakokinetik remifentanil yang unggul memungkinkan titrasi yang mudah sesuai dengan rangsangan bedah, termasuk nyeri dan perubahan hemodinamik. Remifentanil banyak digunakan dalam aplikasi klinis dan berfungsi sebagai tambahan berharga untuk anestesi umum karena kemampuannya untuk mengurangi respons otonomik, somatik, dan adrenokortikal terhadap rangsangan menyakitkan, serta mempercepat pemulihan kognitif.
Perbandingan antara fentanyl dan remifentanil menunjukkan bahwa remifentanil memiliki keunggulan dalam pemulihan yang lebih cepat dan insiden efek samping yang lebih rendah, meskipun dalam beberapa kasus ditemukan efek samping tambahan seperti hipertensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efikasi dan keamanan antara remifentanil infus kontinu dan fentanyl bolus selama operasi intraoperatif.
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain retrospektif yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, setelah mendapatkan izin dari Komite Etik RSUD Dr. Soetomo. Subjek penelitian adalah pasien yang menjalani operasi elektif di rumah sakit tersebut selama periode Juni 2021 hingga Juni 2022. Kriteria inklusi penelitian meliputi pasien dewasa berusia 18“65 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiology (PS ASA) I-II yang akan menjalani anestesi umum menggunakan inhalasi. Sementara itu, pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, penyakit jantung, gangguan endokrin atau hormonal, pasien yang menggunakan vasopressor atau obat antihipertensi, memiliki alergi atau kontraindikasi terhadap obat yang digunakan, menjalani operasi pada telinga, sistem pencernaan, atau bedah saraf, memiliki riwayat kanker atau kemoterapi, serta pasien dengan catatan medis yang tidak lengkap dikeluarkan dari penelitian. Pasien direkrut menggunakan metode total sampling.
Penelitian ini melibatkan 95 pasien yang menjalani operasi elektif di RSUD Dr. Soetomo antara Juni 2021 hingga Juni 2022. Dari jumlah tersebut, 44 pasien menerima remifentanil selama operasi, sementara 51 pasien diberikan fentanyl. Mayoritas pasien adalah laki-laki (53,7%) dengan usia rata-rata 40 tahun. Status fisik ASA I ditemukan pada 12,6% pasien, sementara ASA II ditemukan pada 87,4% pasien. Tidak terdapat perbedaan karakteristik yang signifikan antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik tertinggi secara signifikan lebih rendah pada kelompok remifentanil dibandingkan dengan kelompok fentanyl. Fluktuasi tekanan darah sistolik dan diastolik juga lebih kecil pada kelompok remifentanil, menunjukkan respons hemodinamik yang lebih stabil. Denyut jantung terendah sedikit lebih tinggi pada kelompok remifentanil, sementara fluktuasi denyut jantung lebih kecil dibandingkan kelompok fentanyl. Selain itu, pasien yang menerima fentanyl membutuhkan antiemetik lebih banyak dibandingkan kelompok remifentanil, meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan analgesik pascaoperasi antara kedua kelompok.
Durasi tinggal di ruang resusitasi juga menunjukkan perbedaan yang signifikan, di mana kelompok remifentanil memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan kelompok fentanyl. Kelompok remifentanil memiliki median waktu tinggal di ruang resusitasi selama 97,5 menit dibandingkan dengan 110 menit pada kelompok fentanyl. Meskipun tidak ada perbedaan signifikan dalam kebutuhan analgesik, penggunaan remifentanil menunjukkan hasil yang lebih baik dalam stabilitas hemodinamik dan kecepatan pemulihan dibandingkan fentanyl. Dari sudut pandang klinis, insiden mual dan muntah pascaoperasi lebih rendah pada kelompok remifentanil dibandingkan kelompok fentanyl. Efek farmakologis remifentanil yang memiliki waktu paruh pendek dan tidak menumpuk dalam tubuh berkontribusi pada pemulihan cepat dari efek samping opioid, termasuk mual dan muntah. Namun, beberapa faktor lain seperti riwayat penggunaan obat nyeri sebelum operasi, tingkat kecemasan, serta profil risiko pasien dapat memengaruhi hasil ini. Penelitian lebih lanjut dengan desain prospektif dan jumlah sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil ini dan memahami faktor-faktor lain yang memengaruhi hasil penggunaan remifentanil dan fentanyl selama anestesi.
Kesimpulannya, penggunaan remifentanil untuk anestesi umum intraoperatif memberikan beberapa keuntungan dibandingkan fentanyl yang umum digunakan. Pasien yang mendapatkan remifentanil menunjukkan respons hemodinamik yang lebih stabil, durasi tinggal di ruang pemulihan yang lebih singkat, dan insiden mual serta muntah pascaoperasi yang lebih rendah. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kebutuhan analgesik pascaoperasi antara pasien yang menggunakan remifentanil dan fentanyl selama operasi.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga., dr., M.Kes., SpAn-TI., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ulina AH, Airlangga PS, Kriswidyatomo P, Edwar PP. Comparative Efficacy and Safety of Remifentanil and Fentanyl for Intraoperative Anesthesia. African Journal of Biological Sciences. 2024;6(8).





