Infeksi masih menjadi masalah kesehatan global selama lebih dari empat puluh tahun. Hingga tahun 2022, lebih dari 85 juta individu di seluruh dunia dilaporkan positif terinfeksi HIV, dan lebih dari 40 juta diantaranya meninggal dunia. Infeksi HIV, khususnya HIV-1 yang menyebar secara global, dapat menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) akibat progresi infeksi yang mendisrupsi sistem kekebalan tubuh. Manajemen infeksi HIV-1 saat ini sangat dititik-beratkan pada terapi antiretroviral (ARV), yang dinilai efektif dalam menghambat replikasi virus dan mendukung pemulihan jumlah sel limfosit T CD4.
Walaupun terapi ARV dinilai cukup memadai, saat ini mulai timbul tantangan akibat adanya strain HIV-1 yang resisten terhadap berbagai golongan ARV. Resistensi ini tidak hanya terjadi pada individu yang sudah mendapatkan terapi ARV (treatment experienced), tetapi juga yang belum mendapat terapi (treatment na茂ve).Sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang timbul akibat resistensi ARV, saat ini dilakukan berbagai penelitian terkait manajemen infeksi HIV-1. Salah satunya adalah eksplorasi target imunoterapi.
Heat shock proteins (HSPs) adalah famili protein yang conserved dan ditemukan pada hampir semua jenis sel. Perannya sangat penting dalam menjaga proteostasis dan melindungi sel dari berbagai macam stres. Protein tersebut utamanya berperan sebagai chaperone molekuler, baik pada tahap folding dan refolding protein, assembly protein, hingga degradasi protein yang mengalami denaturasi.
Heat shock proteins diketahui memiliki peran penting dalam sistem imun, yakni dalam presentasi antigen, serta berperan dalam respon imun bawaan terhadap infeksi virus. Protein ini diketahui terlibat dalam replikasi virus dengue, influenza, dan virus hepatitis C. Berangkat dari informasi ini, tim mahasiswa dan dosen Program Studi S2 Imunologi Sekolah Pascasarjana 51动漫 melakukan kajian literatur sistematis untuk mengeksplorasi peranan HSPs dalam infeksi HIV-1, serta untuk melihat potensinya sebagai target imunoterapi.
Dari 3.332 artikel yang ditemukan dalam literature search, 14 studi diantaranya ditelaah dan dianalisis. Studi yang masuk ke dalam kriteria inklusi tersebut berupa studi in vitro yang menggarisbawahi interaksi HSPs dan HIV-1. Peran HSPs dalam infeksi HIV-1 dapat berupa interaksi langsung dengan virus, misalnya dengan protein dan virion HIV-1, ataupun secara tidak langsung sebagai bentuk respon stres seluler.
Beberapa HSPs, antara lain HSP40, HSP70, HSPBP1, dan HSP90, diperkirakan berinteraksi dengan HIV-1 pada berbagai tahap siklus hidup virus, termasuk entry, uncoating, replikasi, transmisi, dan reaktivasi infeksi laten. Adanya keterlibatan HSPs dalam siklus hidup HIV-1 tersebut menjadikannya sebagai target potensial untuk pengembangan imunoterapi bagi infeksi HIV-1.
Penulis: NLA Megasari
Artikel penuh dapat dilihat pada laman:





