51动漫

51动漫 Official Website

Ekspresi BMP-2 pada Luka Pencabutan Gigi Tikus Setelah Diet Tinggi Sukrosa

Foto by Alodokter

Pencabutan gigi pada rahang atas atau bawah, pada umumnya disebabkan karena kerusakan gigi seperti penyakit periodontitis tahap lanjut, gigi retak, kegagalan perawatan saluran akar, karies besar yang tidak dapat dipertahankan, dan tulang alveolar yang sudah resorpsi berat. Semua ekstraksi gigi akan menyebabkan kerusakan pada mukosa dan soket alveolar rahang, baik itu pada gigi depan maupun belakang. Jaringan lunak dan jaringan keras yang rusak akan melalui empat tahapan dalam mencapai pemulihan normal kembali, tahapan tersebut antara lain hemostasis pada soket, inflamasi jaringan lunak dan keras, proliferasi sel dan remodeling jaringan.

Salah satu peran penting regenerasi luka adalah adanya mineral dan senyawa kalsium serta mineralisasi untuk kelangsungan hidup tulang setelah proses pencabutan gigi. Proses osifikasi intramembran adalah jenis osifikasi yang terjadi selama pencabutan gigi, dimana jaringan ikat mesenkim berperan utama. Tulang mandibula dan maksila terdiri dari tulang alveolar dengan mikrovaskularisasi tinggi yang baik untuk remodeling. Proses homeostasis tulang berperan penting untuk mengatur stabilitas dari kerusakan dan kehilangan mineral. Mikrovaskular tulang juga menyediakan oksigen dan nutrisi dan menghasilkan molekuler dan sel progenitor yang berperan penting dalam perbaikan struktur tulang. Proses osteogenesis diperlukan dari sel-sel tulang dalam proses yang terjadi melalui penyembuhan tulang. Banyak sel seperti sel otot, sel tulang, fibroblas, dan sel tulang rawan berasal dari sel mesenkim di sumsum tulang, yang memiliki potensi kemampuan khusus untuk berdiferensiasi menjadi banyak sel. Sel tulang yang berperan pada perbaikan luka pasca cabut gigi adalah osteoblas. Sel ini untuk dapat berproliferasi menjadi tulang membutuhkan protein tulang seperti bone morphogenetic protein (BMP). BMP yang memiliki fungsi vital untuk perbaikan adalah BMP-2. Proses pembentukan tulang baru juga sangat membutuhkan mineral yang baik agar tulang dapat terbentuk dengan sempurna.

Pada beberapa penelitian terdahulu, diet tinggi sukrosa dapat meningkatkan keropos pada tulang, resorpsi tulang alveolar oleh osteoklas juga dapat meningkatkan jumlah kalsium urin, dan plasma. Banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diet tinggi sukrosa berdampak negatif pada kesehatan tulang. Pada penelitian ini digunakan hewan coba tikus wistar yang dibagi dalam 4 kelompok. Dalam penelitian ini, diet tinggi gula sebesar 40% mengakibatkan penurunan ekspresi BMP-2 yang signifikan. Hal ini terjadi karena diet tinggi sukrosa menyebabkan perubahan kadar kalsium plasma pada tikus. Hilangnya kalsium dalam urin adalah salah satu proses yang yang terjadi pada diet tinggi gula yang mampu mempengaruhi kalsium serum, berkurangnya reabsorpsi tubulus diasumsikan sebagai penyebab dampak kalsiurik sukrosa. Berkurangnya kalsium dalam tubuh menyebabkan ekspresi BMP-2 terganggu, memungkinkan hambatan produksi tulang menjadi mature. Diet tinggi sukrosa menyebabkan kadar glukosa tinggi, yang memiliki efek penghambatan langsung pada osteoblas, seperti yang ditunjukkan oleh sel-sel osteoblas yang terpapar kadar glukosa tinggi. Glukosa diperkirakan menyebabkan penurunan putresin, akibat ornitine decarboxylase (ODC).

Penulis: Dr. Christian Khoswanto, drg., M.Kes.

Link Jurnal :

AKSES CEPAT