Penyembuhan fungsional pada neuron atau saraf setelah cidera pleksus brakialis tidak dapat optimal dan biasanya berakhir dengan kecacatan fungsi motorik dan sensorik pada ekstremitas atas. Hal tersebut dapat menyebabkan penurunan pada fungsi tubuh, gangguan psikologis, dan penurunan kemampuan sosial dan ekonomi pasien. Hasil akhir fungsi yang jelek ini dapat terjadi karena kematian sel secara retrograde atau kematian sel yang bergerak dari distal ke proksimal, yang akan membatasi kapasitas untuk terjadinya regenerasi dari saraf tepi. Kematian sel pada neuron motor ini membutuhkan waktu mingguan bahkan bulanan setelah cidera. Setelah cidera, terdapat aktivasi pada proses regenerasi dan sinyal kematian sel pada semua tipe neuron. Hal ini berbicara mengenai keseimbangan antara 2 proses tersebut yang menentukan apakah sel neuron dapat bertahan, regenerasi, atau mati. Kematian sel neuronal diregulasi oleh jalur apoptosis (kematian sel terprogram) melalui mediator protein anti apoptosis, yaitu Bcl-2, dan protein pro apoptosis, yaitu Bax, yang berinteraksi pada level mitokondria. Efek regulasi protein-protein tersebut tergantung pada kuantitas ekspresinya, walaupun rasio Bcl-2/Bax juga dianggap sebagai faktor kunci. Rasio Bcl-2/Bax meningkat ketika apoptosis sel dihambat dan sebaliknya. Dikatakan juga bahwa ekspresi protein p53 penting pada cidera neuronal. P53 meningkat pada kerusakan neuron dan cidera akut, sedangkan ketiadaan p53 menunjukkan perlindungan terhadap neuron dari kerusakan luar. Fenomena apoptosis dari neuron motor pada cidera pleksus brakialis telah dieksplorasi pada model hewan coba namun masih sedikit pembuktian klinisnya. Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah untuk membandingkan ekspresi protein anti apoptosis (Bcl-2), pro apoptosis (Bax), dan protein modulasi p53 pada neuron motor pasien dengan cidera pleksus brakialis dalam 6 bulan pertama setelah kejadian dan setelah 6 bulan.
Dalam studi ini, total sampel pasien dengan cidera pleksus brakialis sebanyak 20 orang. Semua pasien memiliki Riwayat cidera pleksus brakialis akibat kecelekaan motor. Studi ini menunjukkan bahwa pada periode awal setelah trauma, ekspresi Bcl-2 pada sel neuron motor lebih tinggi, sedangkan ekspresi Bax dan p53 lebih rendah. Enam bulan setelah trauma, ekspresi Bcl-2 lebih rendah, sedangkan ekspresi Bax dan p53 lebih tinggi. Temuan ini mengindikasikan adanya aktivitas apoptosis pada neuron motor dari pleksus brakialis yang lebih prominen enam bulan setelah cidera dan tidak ada mekanisme kompensasi yang diaktifkan setelah waktu tersebut. Pada studi ini juga didapatkan bahwa rasio Bcl-2/Bax ditemukan lebih tinggi pada awal trauma dibandingkan dengan enam bulan setelah trauma. Hal ini disebabkan oleh tingginya ekspresi Bcl-2, yang juga menunjukkan rendahnya aktivitas apoptosis. Bcl-2 adalah protein anti apoptosis yang melindungi sel dari apoptosis dengan meregulasi fungsi dari membrane mitokondria. Bax merupakan protein pro apoptosis yang bertanggungjawab menginduksi kematian sel. Kelebihan Bax menyebabkan kematian sel, sedangkan kelebihan Bcl-2 menghambat kematian sel yang terprogram (apoptosis). Oleh karena itu, rasio Bcl-2/Bax pada sel neuron merupakan penanda penting terjadinya apoptosis, dan penurunan dari rasio tersebut adalah faktor predisposisi terjadinya apoptosis. Selain itu, studi ini juga mendapati adanya peningkatan ekspresi p53 pada fase lanjutan, seperti yang dinyatakan literatur lain bahwa untuk menginduksi apoptosis, maka sejumlah besar protein modulator, seperti p53, dibutuhkan.
Mengikuti cidera sel, sejumlah p53 akan diproduksi. Bax adalah hasil produk dari p53, maka ekspresi Bax juga akan meningkat seiring dengan p53. Hal ini akan mengarah pada peningkatan proporsi Bax/Bcl-2 yang akan menginduksi proses apoptosis. Dengan menguantifikasikan ekspresi dari protein anti dan pro apoptosis berdasarkan jarak dari waktu kejadian ke waktu operasi, studi ini dapat menjadi pencerahan untuk perkembangan strategi penyambungan saraf dan regenerasi saraf di masa depan. Bermacam pilihan operasi untuk manajemen cidera pleksus brakialis, seperti penyambungan saraf, cangkok saraf, transfer saraf, dan transfer otot/tendon. Walaupun penyambungan saraf secara primer merupakan standar utama untuk operasi pleksus brakialis, hal tersebut seringkali tidak dimungkinkan karena terlambat datang ke fasilitas kesehatan, adanya cidera traksi, ataupun terdapat jarak atau gap yang cukup besar. Maka dari itu, cangkok saraf dianggap sebagai standar utama dalam penanganan kasus ini. Namun demikian, viabilitas saraf pada ujung proksimal menjadi patokan penting untuk kesuksesan cangkok saraf. Dengan memahami proses molekular yang terjadi pada saraf ujung proksimal, maka manajemen cidera pleksus brakialis mendatang dapat mengarah pada modulasi dari protein anti dan pro apoptosis sehingga regenerasi saraf yang optimal dapat dicapai.
Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat perbedaan signifikan dari ekspresi Bcl-2, Bax, dan p53 pada sel neuron motor pada pasien cidera pleksus brakialis postganglioner sebelum dan sesudah 6 bulan. Hal ini mendukung argumen yang menjelaskan bahwa titik potong untuk melakukan operasi pada pasien dengan cidera pleksus brakialis adalah 6 bulan, dan juga memberikan indikasi untuk agen terapetik di masa depan.
Penulis: Heri Suroto, Asyumaredha Asriel, Brigita De Vega, Steven K. Samijo
Judul artikel: Early and late apoptosis protein expression (Bcl-2, BAX and p53) in traumatic
Authors: Heri Suroto, Asyumaredha Asriel, Brigita De Vega, Steven K. Samijo
Dipublikasikan di: Journal Musculoskeletal and Neuronal Interactions Link:





