Peradangan adalah respons normal tubuh terhadap luka, cedera, infeksi mikroba, alergi, dan faktor berbahaya lainnya. Gejala peradangan dapat berupa nyeri, bengkak, kemerahan, dan juga demam. Gejala ini disebabkan oleh mediator radang/inflamasi dan agen kimia seperti prostaglandin (PG), serotonin, histamin, bradikinin, oksida nitrat, dan leukotrien. Peradangan memainkan peran penting dalam proses fisiologis tubuh. Namun, jika proses peradangan berjalan berkepanjangan, proses perlindungan yang dimaksud dapat merusak sel dan menimbulkan berbagai penyakit. Untuk mengobati nyeri dan mengatasi kondisi radang sering digunakan obat antiinflamasi steroid dan nonsteroid (Nonsteroidal anti-inflammation drugs/NSAID). NSAID menghambat enzim siklooksigenase (COX-1 dan COX-2) dan menurunkan produksi prostaglandin. Penggunaan obat-obatan tersebut dapat menyebabkan efek samping khususnya pada gastrointestinal seperti tukak lambung dan perdarahan. Oleh karena itu, hal ini memicu pengembangan obat antiinflamasi yang efektif, aman, dan ekonomis.
Tanaman merupakan sumber obat alami yang berperan dalam pengembangan obat baru. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa sekitar 70-80% populasi dunia bergantung terutama pada obat-obatan nabati. Permintaan meningkat setiap hari di negara-negara berkembang. Dengan demikian, ada minat baru dalam penelitian tanaman obat untuk mengidentifikasi agen alternatif yang mungkin lebih murah dan memiliki efek samping yang lebih ringan.
Luvunga sarmentosa (Bl.) Kurz, dikenal dengan sebutan Saluang Belum di Kabupaten Uut Murung, Kalimantan Tengah. Tumbuhan ini merupakan salah satu tumbuhan endemik di pulau Kalimantan yang sering dimanfaatkan oleh suku setempat secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Masyarakat Dayak menggunakan tanaman ini dalam campuran batang dan akar, namun mayoritas digunakan oleh masyarakat terutama bagian akarnya untuk mengobati nyeri dan rematik. Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak perhatian untuk menghindari kelangkaan di alam, seperti menggunakan bagian batang sebagai pengganti akar. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa Saluang Belum mengandung senyawa golongan flavonoid, steroid, dan tannin. Aktivitas anti-inflamasi dari Saluang Belum masih belum diteliti sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dari ekstrak air bagian batang Saluang Belum. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data pendukung penggunaan ekstrak air Saluang Belum dalam pengobatan tradisional.
Penelitian untuk menentukan aktivitas antiinflamasi dari ekstrak air batang Saluang Belum dilakukan pada hewan coba. Hewan coba tikus Wistar dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1 diberikan 0,9% normal saline (kontrol negatif), kelompok 2 diberikan natrium diklofenak 150 mg/kg (kontrol positif), dan kelompok 3 sampai 5 masing-masing diberikan dosis 50, 300, dan 550 mg/kg BB ekstrak Saluang Belum. Metode yang digunakan adalah dengan menyuntikkan karagenan secara subkutan ke daerah subplantar dari kaki kiri masing-masing tikus coba. Kemudian volume kaki diukur menggunakan plethysmometer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air batang Saluang Belum (dosis 50, 300, dan 550 mg/kg BB) secara signifikan mengurangi edema kaki dari jam ke-4 sampai jam ke-5 sebesar 50% bila dibandingkan dengan kontrol negatif. Persen penghambatan edema pada jam ke-5 pada dosis 50, 300 dan 550 mg/kg BB berturut-turut adalah 47,45; 46,95; 50,39%. Pada dosis terendah 50 mg/kg BB dapat memberikan hasil penghambatan edema yang hampir sama dengan dosis 550 mg/kg BB sehingga disarankan penggunaannya pada dosis 50 mg/kg BB. Hasil histopatologi relevan dengan persentase penghambatan edema. Pemberian ekstrak air Saluang Belum dapat mengurangi kerusakan jaringan epidermis, kulit hiperkeratotik, dan edema subepidermal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, ekstrak air Saluang Belum memiliki aktivitas antiinflamasi. Ekstrak tersebut bekerja pada fase akhir dari inflamasi yang ditandai dengan penurunan infiltrasi neutrophil.
Penulis: Prof. Dr. Achmad Fuad Hafid, M.S
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Sabar Deyulita, Hilkatul Ilmi, Hanifah Khairun Nisa, Lidya Tumewu, Aty Widyawaruyanti, Achmad Fuad Hafid, ,





