51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Ekstrak Daun Bidara sebagai Kandidat Antikanker Triple-Negative Breast Cancer

Ilustrasi Daun Bidara (Foto: merdeka.com)

Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, terdapat lebih dari 2,2 juta kasus baru kanker payudara di dunia, dan sekitar 15“20% di antaranya adalah TNBC. Jenis kanker ini lebih banyak menyerang wanita di bawah usia 40 tahun. Triple-Negative Breast Cancer (TNBC) dikenal sebagai kanker payudara yang paling sulit diobati. Ditandai dengan tidak adanya reseptor hormon estrogen, progesteron, maupun HER2 membuat terapi yang biasanya efektif pada tipe kanker lain menjadi tidak efektif pada TNBC. Karena tidak adanya target terapi hormonal, membuat pengobatan TNBC masih mengandalkan kemoterapi konvensional.

Sayangnya, tingkat keberhasilannya rendah, dengan efek samping yang tinggi. Kondisi inilah yang mendorong para ilmuwan untuk mencari alternatif terapi dari bahan alam. Sejarah panjang dunia medis menunjukkan bahwa banyak obat anti kanker berasal dari tumbuhan, misalnya paxlitaxel dari kulit pohon Taxus atau vinblastin dari Catharanthus roseus. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menelusuri potensi daun bidara yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Asia dan Timur Tengah.

Daun bidara atau bahasa latinnya adalah Ziziphus mauritiana diketahui mengandung beragam senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, fenolik, steroid, hingga triterpenoid. Di antara triterpenoid tersebut terdapat betulinic acid dan oleanolic acid, yang sebelumnya sudah terbukti memiliki sifat anti tumor. Penelitian ini mengintegrasikan metode farmakologi jaringan (network pharmacology) dengan validasi menggunakan uji laboratorium (in vitro) untuk membuktikan mekanisme kerja senyawa dalam daun bidara terhadap TNBC.

Hasil analisis menunjukkan ada 93 target molekuler potensial yang berhubungan dengan kanker. Beberapa di antaranya adalah gen penting seperti TP53, MYC, STAT3, AKT1, dan NF-κB. Ke-5 gen tersebut merupakan pengatur utama dalam pertumbuhan, proliferasi, invasi, dan resistensi sel kanker.

Penelitian ini juga menguji ekstrak daun bidara terhadap viabilitas sel kanker TNBC tipe MDA-MB-231. Hasil dari uji in vitro tersebut menyebutkan bahwa pemberikan ekstrak daun bidara pada dosis rendah (10 µg/ml) masih memiliki efek minimal. Namun, pada dosis tinggi (200“400 µg/ml), viabilitas sel kanker turun drastis hingga hanya 29%. Efek sitotoksik ini terjadi karena ekstrak bidara memicu apoptosis (kematian sel terprogram) melalui jalur PI3K/Akt dan NF-κB, dua jalur penting yang biasanya membuat kanker kebal terhadap obat. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa daun bidara memang menyimpan kekuatan sebagai anti kanker alami. Penemuan ini penting dikarenakan TNBC adalah kanker dengan angka harapan hidup yang rendah. Resistensi terhadap obat-obatan menjadi masalah utama. Jika bahan alami seperti daun bidara terbukti efektif, maka pasien bisa mendapatkan pilihan terapi baru yang lebih aman, terjangkau, dan berpotensi mengurangi resistensi.

Lebih jauh lagi, penelitian ini menegaskan bahwa terapi kanker masa depan mungkin tidak hanya bergantung pada satu target molekuler, melainkan pada kombinasi banyak jalur sekaligus dan daun bidara memenuhi kriteria tersebut dengan senyawa aktifnya yang beragam.

Meski hasil penelitian ini menjanjikan, perlu diingat bahwa peneliian ini masih terbatas pada tingkat sel laboratorium. Efeknya pada hewan dan manusia belum diuji. Faktor seperti dosis aman, cara pemberian, dan interaksi dengan obat lain masih harus diteliti lebih jauh.

Namun demikian, riset ini menjadi fondasi penting untuk melangkah ke tahap berikutnya. Dengan dukungan uji pra klinis dan klinis, bukan mustahil ekstrak daun bidara suatu hari nanti masuk ke dalam daftar terapi tambahan untuk TNBC.

Sebagai penutup, kanker payudara triple-negative adalah musuh yang menakutkan bagi banyak perempuan. Namun, riset terbaru tentang daun bidara memberi secercah harapan. Dengan kandungan senyawa aktif yang mampu menekan pertumbuhan sel kanker melalui berbagai jalur molekuler, bidara berpotensi menjadi bagian dari solusi. Alam kembali menunjukkan bahwa ia menyimpan jawaban atas tantangan medis, tinggal bagaimana sains melanjutkan langkahnya untuk membuktikan dan mengembangkan temuan ini menjadi terapi nyata.

Penulis: Indri Safitri Mukono, Gondo Mastutik, Dian Yuliartha Lestari

Link artikel pada web jurnal:

AKSES CEPAT