Indonesia adalah negara tropis dan kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis-jenis tanaman yang berpotensi sebagai obat. Namun akhir akhir ini, penggunaan bahan alam sebagai obat khusus telah ditinggalkan dan tergantikan oleh obat-obatan kimia sintetis modern. Iklim tropis di Indonesia tidak hanya memberi banyak keuntungan seperti kekayaan tanaman yang bisa tumbuh tetapi juga dapat menjadi tempat yang paling disukai vektor-vektor penyakit terutama golongan serangga berkembang biak dengan optimal. Hal ini juga mendukung perkembangbiakan nyamuk menjadi sangat mudah di kawasan Indonesia. Kehadiran nyamuk sering dirasa mengganggu bagi kehidupan manusia, selain dampak singkat dari gigitan berupa rasa gatal hingga perannya dalam menyebarkan beberapa penyakit berbahaya seperti: kaki gajah, malaria, demam berdarah, dan masih banyak lagi.
Nyamuk terbagi menjadi tiga subfamily, yaitu: Toxorhynchitinae, Culicinae, dan Anophelinae, sedangkan nyamuk penghisap darah yang dianggap sebagai vektor penyakit adalah Aedes, Culex, Anopheles, dan Mansonia. Aedes aegypti adalah vektor terkenal untuk Demam Berdarah Penyakit Hemoragik Demam (DBD), termasuk di Indonesia. Pada 2016, kejadian DBD di Surabaya mencapai 938 kasus dengan 503 pasien pria dan 435 pasien wanita, sedangkan kasus kematian adalah 7 orang, dengan CFR 0,75% (Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2018). Dengan demikian, mengendalikan vektor ini akan menghasilkan manfaat yang signifikan untuk pencegahan penyakit DBD.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Upaya untuk mengendalikan penyebaran vektor telah banyak digunakan agen biologis dan juga senyawa kimia. Bahan kimia yang dikenal sebagai bahan pengendali nyamuk Aedes aegypti masih menimbulkan kekhawatiran terhadap akumulasi bahan di lingkungan dan juga tingkat resistensi pada vektor. Upaya yang telah dilakukan untuk menahan laju populasi vektor melalui agen biologis menjadi pilihan alternatif. Saat ini, protokol standar pengendalian vektor dengan bahan kimia sebagai lotion penolak atau semprotan cair yang digunakan menunjukkan kelemahan resistensi kontak jangka panjang. Maka perlu pengembangan biolarvisida dari bahan asal tumbuhan yang juga bersifat ramah lingkungan. Salah satu agen biolarvisida yang paling potensial dan dikenal luas adalah Carica papaya. Telah dilaporkan bahwa kandungan papain dan alkaloid carpaine yang terkandung dalam daun pepaya dapat menyebabkan gangguan tumbuh bagi larva Aedes aegypti dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Selain itu, produk alami memiliki lebih banyak keuntungan bagi lingkungan karena sifatnya yang biodegradable dan selektivif terhadap larva pathogen saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi ekstrak daun pepaya (Carica papaya) terhadap aktivitas larva Aedes aegypti dalam hal optimasi konsentrasi dan waktu paparan yang optimal.
Persiapan ekstrak daun pepaya dengan serial konsentrasi masing-masing 0,65 mL, 1,25 mL, 2,5 mL, 5,0 mL, dan 10,0 mL pada 10,0 mL volume akhir sebagai bahan baku konsentrat ekstrak daun pepaya. Daun pepaya diekstrak menggunakan pelarut metanol. Pelarut ini dipilih karena afinitasnya yang mudah dicampurkan dengan pelarut air sebagai upaya pengembahan ekstraksi bahan yang mudah dikelola masyarakat umum. Selain itu pelarut ini lebih tidak berbahaya dibanding dengan bahan pelarut lainnya. Kemudian larutan uji (konsentrat) diencerkan dalam 90 mL air suling dan diisi masing-masing dengan 20 larva nyamuk fase instar ketiga. Setiap percobaan direplikasi sebanyak empat kali. Tingkat mortalitas larva dicatat dalam 24 jam pertama setelah kontak dan dihitung sebagai nilai persentase dari total larva yang digunakan dalam percobaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa LC50 ekstrak daun pepaya pada larva nyamuk adalah 4929.344 ppm. Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak daun pepaya dengan methanol terbukti memiliki kemampuan untuk menekan laju perkembangan larva nyamuk Aedes aegypti sehingga bahan ini dapat digunakan untuk membantu memutus rantai pengembangan Aedes aegypti.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kematian larva nyamuk Aedes aegypti hampir sama dengan populasi nyamuk Aedes aegypti pada kontrol positif. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi ini memiliki aktivitas larvisidal yang hampir sama dengan senyawa kimia. Singkatnya, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun Carica papaya dengan proses fraksinasi menunjukkan aktivitas sebagai larvisidal yang kuat. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi opsi dalam penggunaan bahan alam terutama ekstrak daun papaya sebagai bahan larvisida ramah lingkungan yang siap digunakan oleh masyarakat secara optimal.
Penulis: Intan Ayu Pratiwi
Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link jurnal berikut ini: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=10450&iid=301&jid=3





