Diskus intervertebralis atau intervertebral disc (IVD) merupakan struktur di antara dua ruas tulang belakang yang tersusun dari fibrokartilago. Diskus itervertebralis berfungsi untuk fleksibiitas dan menahan beban tubuh. Diskus ini tidak memiliki pembuluh darah (avaskular) sehingga untuk nutrisi dan oksigen bergantung pada proses difusi. IVD terdiri atas tiga bagian utama yaitu nucleus pulposus, annulus fibrosus yang melingkarinya, dan dua kartilago yang bertugas untuk memberi nutrisi IVD.
Degenerasi diskus intervertebralis atau intervertebral disc degeneration (IDD) merupakan salah satu proses penuaan alami atau dapat merupakan proses patologis. Seiring bertambahnya usia maka biokimia dan struktur sel pada IVD. Degenerasi ini berdampak pada fisik, psikologis, dan sosioekonomi karena ada penurunan fungsi dan rasa nyeri sehingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Insiden degenerasi diskus pada tulang belakang terjadi pada 71% laki-laki dan 77% perempuan yang berusia kurang dari 50 tahun. Sedangkan pada usia lebih dari 50 tahun, insidennya menjadi >90%, baik pada laki-laki maupun perempuan. Nyeri punggung menjadi masalah kesehatan utama dengan prevalensi 12-30% dan sekitar 10% menjadi nyeri kronis. . Beberapa faktor risiko terjadi IDD yaitu gaya hidup yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, trauma, serta sering mengangkat beban berat.
Nyeri pada IDD disebabkan karena adanya sitokin-sitokin pro-inflamasi, seperti tumor necrosis factor-伪 (TNF-伪) dan interleukin-1尾 (IL-1尾). Sitokin pro-inflamasi, kemokin, dan protease yang merusak jaringan berasal dari sel yang mengalami penuaan kemudian menghasilkan senescence-associated secretory phenotype (SASP).
Tahap awal degenerasi diskus intervertebralis dapat diberikan obat antinyeri (analgesik), terapi fisik, dan antiinflamasi untuk mengurasi rasa nyeri yang muncul. Penatalaksanaan degenerasi diskus intervertebralis umumnya dibagi menjadi dua strategi, yaitu terapi konservatif dan operasi. Terapi konservatif terdiri atas penguatan fisik, fisioterapi, obat injeksi, dan obat oral. Peran terapi konservatif utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup dan aktivitas fisik penderita. Injeksi kortikosteroid pada epidural dan peri radikular digunakan pada kasus yang lebih berat. Latihan fisik terutama untuk penguatan otot punggung sangat berguna untuk mengurangi nyeri serta dapat membantu proliferasi sel diskus intervertebralis. Sedangkan operasi digunakan sebagai terapi definitif untuk pasien yang tidak berespon dengan obat-obatan antinyeri. Operasi diindikasikan untuk pasien dengan gangguan neurologi akut atau sindrom cauda ekuina, serta pasien dengan nyeri punggung kronis.
Saat ini terdapat beberapa penelitian yang sedang berkembang mengenai terapi degenerasi diskus intervertebralis. Terapi yang diteliti tidak hanya digunakan untuk memperbaiki gejala namun juga bertujuan untuk mengembalikan proses degeneratif. Terdapat empat terapi baru yang dinilai bermanfaat untuk mengembalikan proses degeneratif, yaitu faktor pertumbuhan (growth factors), small moleculse, terapi genetik, dan sel punca.
Faktor pertumbuhan yang diinjeksikan pada diskus intervertebralis dapat menstimulasi sintesis matriks ekstraseluler, menyembuhkan inflamasi, serta menghambat proses degenerasi. Faktor pertumbuhan yang sering digunakan yaitu bone morphogenic proteins (BMPs) dan transforming growth factor-beta (TGF-尾) yang dapat menstimulasi kondrogenesis dan ostegonesis. Faktor pertumbuhan yang diinjeksikan juga dapat memicu proses anabolik, menurunkan aktivitas katabolik, serta menstimulasi proliferasi sel. Kelemahan dari faktor pertumbuhan ini yaitu hanya memiliki waktu paruh yang singkat, jam hingga hari.
Sitokin pro-inflamasi berperan penting dalam proses degenerasi diskus intervertebralis. Sitokin pro-inflamasi memicu degenerasi matriks ektraseluler dan memicu sintesis prostaglandin. Cyclooxygenase-2 (COX-2) menjadi salah satu sitokin pro-inflamasi pada proses degenerasi diskus intervertebralis. Oleh sebab itu, obat-obatan inhibitor COX-2 (misalnya celecoxib), JAK inhibitor, dan resveratrol, gefitinib, dan icariin sedang diteliti dan menunjukkan hasil yang memuaskan dalam mengontrol inflamasi, mengurangi nyeri, dan menghambat proses degenerasi oleh prostaglandin. Terapi small molecules sedang dalam penelitian in vitro dan ke depannya dikembangkan untuk penelitian pada hewan dan kultur organ.
Terapi genetik saat ini masih terbatas di laboratorium. Metode ini akan memasukkan gen pada sel target melalui vektor virus maupun non-virus secara in vivo. Kemudian sel target diambil dan diletakkan dalam media kultur dan akan ditanamkan kembali pada organ target. Metode ini berpotensi memberikan efek jangka panjang namun tantangannya yaitu melibatkan vektor virus yang berisiko adanya komplikasi terhadap komponen virus.
Sel punca atau stem cells dapat berasal dari sel embrionik nucleus pulposus, kondrosit, dan stem sel mesenkimal (mesenchymal stem cells). Sel punca yang ditransplantasikan dapat menginduksi sinyal parakrin untuk menstimulasi sel memproduksi komponen untuk regenerasi diskus. Injeksi sel punca langsung pada nukleus pulposus bisa mencegah migrasi sel karena nukleus pulposus dikelilingi dengan annulus fibrosus. Injeksi sel punca yang berasal dari sel mesenkim adiposa (adipose mesenchymal stem cells) dapat mengurangi apoptosis, menghambat ekspresi sitokin pro-inflamasi (IL-1b dan TNF-伪), dan faktor katabolik (MMPs dan disintegrin).
Keempat metode terbaru ini memiliki kelebihan, kekurangan, serta tantangannya masing-masing. Oleh sebab itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk diaplikasikan dalam klinis sehari-hari.
Penulis: Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
An update of current therapeutic approach for Interverterbral Disc Degeneration: A review article
Romaniyanto, Ferdiansyah Mahyudin, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Hari Basuki Notobroto, Damayanti Tinduh, Ryan Ausrin, Fedik Abdul Rantam, Heri Suroto, Dwikora Novembri Utomo, Sholahuddin Rhatomy





