51动漫

51动漫 Official Website

Airlangga Forum : Menjaga Kekhusyukan Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang “Super Flu” dan Virus Nipah

Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat diingatkan untuk tidak lengah terhadap potensi ancaman kesehatan global. Munculnya fenomena super flu dan kewaspadaan terhadap virus Nipah menjadi sorotan dalam diskusi Airlangga Forum yang digelar Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) pada jumat 13 Februari 2026 secara online. Ibadah yang melibatkan kerumunan massa, seperti shalat tarawih dan buka puasa bersama, memerlukan strategi mitigasi yang tepat agar spiritualitas tetap terjaga tanpa mengabaikan keselamatan jiwa.

Dosen Prodi Imunologi Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Waode Fifin Ervina Muslihi, S.Gz., M.Imun., menekankan bahwa kunci utama menghadapi ancaman virus yang terus bermutasi bukanlah kepanikan, melainkan kekuatan sistem imun spesifik dan non-spesifik manusia.

淰irus itu adalah entitas yang cerdas secara biologis; mereka akan terus bermutasi untuk bertahan hidup. Kita tidak bisa menghentikan mutasinya, tapi kita bisa memperkuat ‘benteng’ pertahanan tubuh kita melalui nutrisi yang tepat selama berpuasa, ujar Dr.Fifin.

Ia menambahkan bahwa puasa sebenarnya adalah momentum emas untuk regenerasi sel imun, asalkan pola konsumsi saat sahur dan berbuka diperhatikan. 淪eringkali yang merusak imun saat Ramadhan bukan puasanya, tapi perilaku ‘balas dendam’ saat berbuka dengan makanan tinggi gula dan lemak trans yang justru memicu peradangan di tubuh, tambahnya.

Dr. Fifin juga mengingatkan bahaya virus Nipah yang memiliki tingkat fatalitas tinggi. 淢eskipun saat ini penularannya masih terbatas, kita harus waspada pada transmisi dari hewan ke manusia (zoonosis). Kebersihan diri dan sanitasi makanan menjadi pertahanan pertama yang paling sederhana namun krusial, tegasnya.

Investasi Kesehatan lebih Murah

Dari perspektif ekonomi kesehatan, dr. Nonnytha Mahanani, mahasiswa Magister Ekonomi Kesehatan UNAIR, menyoroti bahwa pencegahan jauh lebih efisien secara finansial dibandingkan penanganan saat kasus sudah melonjak. Belajar dari pandemi sebelumnya, biaya yang harus dikeluarkan negara dan rumah tangga untuk pengobatan jauh melampaui investasi untuk alat pelindung diri sederhana.

淜ita harus melihat masker dan perilaku hidup bersih sebagai instrumen ekonomi. Mencegah satu orang masuk ICU jauh lebih menyelamatkan ekonomi keluarga daripada membiarkan penularan terjadi demi euforia kerumunan tanpa proteksi, kata dr. Nonnytha.

Ia juga mendorong agar pengurus masjid dan panitia Ramadhan kembali mengaktifkan protokol kesehatan secara mandiri. 淜esehatan adalah aset produktif. Jika kita jatuh sakit di tengah Ramadhan, bukan hanya kehilangan kesempatan ibadah, tapi juga ada kehilangan pendapatan dan produktivitas yang berdampak secara ekonomi, jelasnya.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa Ramadhan yang aman adalah bentuk nyata dari ibadah itu sendiri. Dengan menjaga kesehatan diri, seorang Muslim secara tidak langsung sedang menjaga keselamatan sesamanya攕ebuah prinsip fundamental dalam beragama sekaligus bernegara di tengah ancaman virus global.