51动漫

51动漫 Official Website

Menavigasi Badai Global: Menguji Realitas Kepemimpinan Kolaboratif di Tengah Tensi Geopolitik Iran-Israel

Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi, stabilitas global kembali diguncang oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya rivalitas antara Iran dan Israel. Merespons fenomena tersebut, Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) menggelar Guest Lecture bertajuk “Geopolitik dan Kepemimpinan Kolaboratif” yang berlangsung secara hibrida (daring dan luring) pada Jumat (13/3).

Hadir sebagai narasumber utama, Assoc. Prof. Dr. Suyatno Ladiqi, M.A., Ph.D., akademisi dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia. Acara ini dipandu langsung oleh Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., yang memberikan pengantar strategis mengenai pentingnya kepemimpinan yang berdampak di era disrupsi.

Geopolitik: Perebutan Ruang dan Sumber Daya

Dalam paparannya, Prof. Suyatno menekankan bahwa ketegangan yang terjadi antara Iran dan Israel bukan sekadar masalah ideologi, melainkan manifestasi nyata dari teori geopolitik klasik: penguasaan ruang dan sumber daya energi. Mengingat 20% pasokan gas dunia melewati jalur di kawasan tersebut, stabilitas Timur Tengah menjadi kunci bagi ekonomi global.

“Geopolitik adalah alasan untuk menemukan jawaban mengapa kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel memiliki kepentingan besar di Timur Tengah. Ini adalah tentang dominasi atas sumber daya yang terbatas, terutama minyak, yang menjadi bahan bakar industri modern,” ujar Prof. Suyatno.

Anomali Iran dan Posisi Strategis Indonesia

Prof. Suyatno juga membedah ketahanan Iran terhadap embargo Barat sejak 1978. Menurutnya, Iran adalah unit negara yang unik karena faktor geografi yang terlindungi pegunungan, yang secara militer sulit ditembus melalui jalur darat. Hal ini menjadi refleksi penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki fondasi geopolitik yang kuat melalui konsep Wawasan Nusantara. Namun, ada tantangan besar dalam mengubah pola pikir (mindset) bangsa dari agraris kembali ke bahari.

“Laut bukanlah pemisah daratan, melainkan fondasi geopolitik Indonesia. Kita adalah bangsa pelaut yang secara historis berdagang dengan dunia luar jauh sebelum Barat datang. Sayangnya, ratusan tahun kolonialisme sempat mengubah pola pikir kita seolah laut adalah penghalang,” ungkap Prof. Suyatno.

Urgensi Kepemimpinan Kolaboratif

Menghadapi ancaman krisis global, mulai dari pelemahan mata uang hingga disrupsi teknologi AI, Prof. Suyatno menegaskan bahwa model kepemimpinan ekspansif ala Barat harus mulai digeser oleh model kepemimpinan kolaboratif yang lebih mengedepankan kesejahteraan bersama.

Tentang Realitas Konflik Global

Prof. Suyatno Ladiqi dalam kesempatan ini juga mengupas tentang realitas konflik global dimana dirinya menyampaikan “Dunia sedang tidak baik-baik saja. Meskipun perang dunia sudah usai tahun 1945, proksi-proksi masih wujud sampai sekarang. Konflik Israel-Iran membawa kita ke ambang krisis global yang tidak mungkin bisa kita hindari karena Indonesia terhubung erat dengan ekonomi internasional.”

Tentang Kekuatan Pancasila sebagai Perekat

“Indonesia memiliki modalitas yang luar biasa. Di saat banyak negara pecah karena perbedaan etnis, Indonesia tetap utuh berkat bahasa persatuan dan Pancasila. Ini adalah kekuatan besar untuk menjadi pemain kunci di kancah global.” Ungkap Associate Profesor berdarah Surabaya ini.

Tentang Masa Depan Kepemimpinan

Apresiasi diberikan kepada Sekolah Pascasarjana UNAJR yang mengusung Kepemimpinan Kolaboratif dimana dikondisi dunia saat ini hal tersebut menjadi kunci “Kepemimpinan kolaboratif adalah kunci. Jika kita hanya mengedepankan ego dominasi seperti dalam teori realisme, maka dunia akan terus berada dalam kondisi anarkis. Kita butuh pemimpin yang mampu menjadikan geopolitik sebagai jembatan ekonomi untuk pertumbuhan bersama.

Pesan untuk Mahasiswa di Era AI (Akal Imitasi) dimana Teknologi seperti AI adalah peluang sekaligus ancaman. Mahasiswa harus memiliki skill komunikasi dan berpikir kritis yang melampaui mesin. Jangan hanya menjadi konsumen narasi, tapi jadilah penguji realitas yang mampu menyuarakan kebenaran, ungkapnya

Menuju Kampus Berdampak

Materi yang dipilih ini sebagai bagian dari upaya UNAIR untuk terus melahirkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga peka terhadap dinamika global. Kepemimpinan kolaboratif yang didiskusikan diharapkan menjadi paradigma baru bagi para mahasiswa pascasarjana dalam memberikan kontribusi nyata bagi negara di jalur akademik maupun profesional.