Di bawah sorot lampu Ruang Ujian Doktor Terbuka (UDT) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), Senin (23/2/2026), Andita Sayekti (325221007) berdiri dengan tegar. Suasana khidmat yang sempat tegang perlahan mencair ketika Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk. (K), FICS, membacakan hasil sidang. Andita dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”.
Bagi Andita, momen ini bukan sekadar seremoni akademik. Gelar doktor yang kini melekat di depan namanya, Dr. Andita Sayekti, S.T.P., M.Sc., dipandangnya sebagai sebuah perjalanan spiritual dan intelektual untuk melepaskan ego.
“Gelar ini bukan hanya sekadar pencapaian akademik bagi saya, tetapi sebuah proses untuk lebih menundukkan diri di hadapan ilmu pengetahuan,” ujar Andita dengan nada rendah yang bergetar saat menyampaikan kesan dan pesannya.
Resiliensi Lintas Disiplin
Perjalanan Andita menuju puncak akademik ini adalah kisah tentang keberanian keluar dari zona nyaman. Berbekal latar belakang ilmu teknik pertanian (S.T.P., M.Sc.), ia memilih mendalami Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Sebuah lompatan dari ilmu eksakta ke ilmu sosial yang memaksa pola pikirnya bertransformasi total.
“Lima tahun terakhir adalah masa penantian dan adaptasi yang luar biasa. Berpindah dari logika ilmu teknik pertanian ke ilmu sosial memaksa saya untuk terus belajar,” kenang Andita. Ia menambahkan bahwa proses ini mengajarkannya sebuah prinsip hidup yang esensial: bahwa dalam dinamika apa pun, memahami kebutuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti keinginan.
Manusia di Balik Digitasi UMKM
Keberanian lintas disiplin itu tertuang dalam disertasinya yang bertajuk 淢odel Pengaruh Kesiapan Adaptasi Teknologi Industri 4.0 terhadap Kinerja UMKM Makanan dan Minuman di Kota Bogor. Riset terhadap 320 pemilik UMKM ini menjadi penguat argumennya bahwa teknologi hanyalah alat; penggerak utamanya tetaplah manusia.
Andita menemukan bahwa meski faktor internal seperti infrastruktur dan komitmen organisasi penting untuk membangun kesiapan berubah, namun kesiapan itu sendiri belum cukup untuk mendongkrak kinerja bisnis. Hasil studi krusialnya menunjukkan bahwa performa UMKM justru lebih ditentukan oleh kapasitas organisasi yang mumpuni dalam mengelola sumber daya manusia secara efektif.
Melalui temuan ini, Andita menawarkan perspektif baru bagi pengembangan SDM di sektor UMKM agar tidak sekadar latah teknologi, namun strategis dalam menghadapi gelombang Industri 4.0.
Adab dan Kerendahan Hati
Menutup hari bersejarahnya, Andita mempersembahkan gelar ini sebagai kado bagi keluarga kecilnya yang ia sebut sebagai superteam. Terutama untuk suaminya, Associate Prof. Dr. David Judianto, yang menjadi pilar pendukung di balik layar risetnya.
Bagi Andita, gelar doktor ini adalah titik balik untuk pengabdian yang lebih luas pada pengembangan SDM di Indonesia. Sebuah langkah baru yang dimulai dengan kerendahan hati untuk terus belajar.




