Di tengah dinamika industri kesehatan yang menuntut kecepatan dan ketepatan, sebuah diskusi mendalam mengenai masa depan sumber daya manusia berlangsung di ruang sidang Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ, Rabu (11/2/2026). Winastanto Wibowo, yang sehari-hari menjabat sebagai Head of Risk Management PT. Kimia Farma Apotek berdiri di hadapan dewan penguji untuk mempertahankan disertasi doktoralnya.
Ujian tertutup tersebut menjadi muara dari perjalanan panjang Winastanto dalam membedah fenomena niat berpindah kerja (turnover intention) di kalangan karyawan generasi milenial dan Z. Setelah melalui proses pengujian yang ketat selama dua jam, ia dinyatakan lulus dan berhak melangkah ke tahapan puncak, yakni ujian doktor terbuka.
Paradoks Kemampuan Adaptasi dan Persepsi Kualifikasi
Penelitian Winastanto membawa perspektif segar dalam ilmu manajemen sumber daya manusia. Ia menyoroti sebuah kondisi unik yang disebut sebagai career adaptability atau kemampuan adaptasi karier. Secara umum, kemampuan ini dianggap sebagai modal utama bagi karyawan untuk bertahan. Namun, riset Winastanto menemukan sebuah realita yang lebih kompleks.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun career adaptability berperan penting dalam meningkatkan kepuasan karier (career satisfaction), kemampuan ini tidak serta-merta langsung menurunkan niat karyawan untuk berpindah kerja.
“Ada faktor lain yang membayangi, yakni perceived overqualification atau persepsi kelebihan kualifikasi. Ketika karyawan merasa terlalu pintar atau memiliki kompetensi yang melampaui tuntutan posisinya, hal tersebut justru menjadi bumerang yang menurunkan kepuasan karier dan secara signifikan meningkatkan turnover intention,” ungkap Winastanto dalam paparannya.
Kunci Retensi: Makna di Balik Karier
Temuan ini menegaskan bahwa career satisfaction adalah benteng pertahanan utama sebuah organisasi. Kepuasan karier terbukti menjadi faktor kunci yang mampu menekan niat berpindah kerja. Oleh karena itu, pengelolaan SDM harus bergeser dari sekadar urusan administrasi menuju pengelolaan pengalaman karier yang bermakna.
Winastanto menawarkan solusi strategis: perusahaan harus lebih jeli dalam memanfaatkan kompetensi karyawan agar tidak muncul perasaan “sia-sia”. Melalui konsep pengayaan pekerjaan (job enrichment) dan penugasan yang menantang, perusahaan dapat meredam keinginan karyawan untuk keluar. Menciptakan ekosistem yang adaptif dan berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga loyalitas talenta di sektor kesehatan.
Ujian dari Para Pakar
Ketajaman riset ini diuji oleh dewan penguji yang terdiri dari para akademisi lintas disiplin. Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. Nuri Herachwati sebagai Ketua Tim Penguji, didampingi para pakar psikologi organisasi dan manajemen strategis:
* Prof. Dr. Fendy Suhariadi
* Dr. Fiona Niska Dinda Nadia
* Prof. Dr. Rr. Sri Pantja Madyawati
* Dr. Praptini Yulianti
* Dr. Sendy Ayu Mitra Uktutias
* Mhd. Zamal Nasution, Ph.D.
Inspirasi dari Meja Operasional
Keberhasilan Winastanto mencapai tahap ini memberikan pesan kuat bagi para praktisi. Di tengah kesibukannya memimpin jaringan laboratorium dan klinik medis, ia membuktikan bahwa refleksi akademis sangat penting untuk memvalidasi kebijakan di lapangan.
Diharapkan, hasil penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu SDM, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi organisasi dalam membangun strategi retensi talenta yang lebih manusiawi. Sebuah perjalanan panjang yang penuh makna, demi mewujudkan tata kelola manusia yang lebih dari sekadar angka produktivitas, melainkan pengembangan potensi yang tak terbatas.




