Depresi pada ibu hamil dan pasca persalinan telah menjadi masalah kesehatan mental global yang turut berdampak negatif pada janin dan bayi yang baru dilahirkan, serta berefek jangka panjang pada masa kanak-kanak hingga dewasa. Di Indonesia, penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Bogor menunjukkan prevalensi depresi perinatal sekitar 15,3% pada 347 ibu postpartum. Meskipun pravelensi depresi perinatal sangat tinggi, sekitar 80% masih tidak terdiagnosis atau bahkan mendapatkan pengobatan. Terdapat dua pendekatan internasional untuk skrining depresi perinatal dengan sensitivitas yang hampir serupa, yakni EPDS dan Whooley.
Penelitian ini meneliti kelayakan petugas kesehatan masyarakat atau 渒ader posyandu selaku pelaksana perawatan kesehatan primer dalam menggunakan EPDS dan Whooley untuk skrining depresi perinatal. Penelitian lapangan dilakukan di Kecamatan Wonokromo di Kota Surabaya dengan dua kelompok partispan, yakni 11 kader posyandu dan 36 ibu hamil dan pasca persalinan di lingkungan berpenghasilan rendah hingga menengah.
Hasil mengungkapkan bahwa kedua metode dapat digunakan. Whooley memiliki tingkat skrining yang lebih rendah daripada EPDS, dan tidak dapat memberikan gradasi perbedaan yang lebih akurat. EPDS mampu mendeteksi ibu dengan gejala depresi ringan hingga berat, gejala samar, bahkan yang tidak menunjukkan gejala depresi sama sekali. Akan tetapi di lain sisi, hasil yang didapat juga menunjukkan latar belakang kader posyandu yang beragam, beberapa kader mengalami kesulitan yang lebih besar dalam melaksanakan dan menghitung skor EPDS dibandingkan dengan kader Whooley, sehingga memungkinkan keluputan informasi. Keterampilan dapat ditingkatkan secara signifikan jika diberikan pelatihan individual secara mendalam.
Temuan yang diuraikan mengarah pada kesimpulan sementara bahwa Whooley lebih cocok digunakan oleh kader posyandu untuk mendeteksi gejala depresi perinatal. Dengan jumlah pertanyaan yang lebih sedikit, skala yang mudah digunakan dan dinilai, dengan hasil skrining gejala depresi yang mirip dengan EPDS. Diharapkan di masa yang akan datang terdapat dorongan serta pelatihan untuk para kader posyandu selaku pelaksana perawatan kesehatan primer dari para tenaga ahli lain, seperti bidan dan psikolog sehingga dapat memaksimalkan hasil skrining depresi perinatal tanpa bergantung pada salah satu metode saja.





