Pada tahun 2025, Indonesia secara resmi meluncurkan program nasional Makan Bergizi Gratis sebagai upaya strategis untuk mengatasi masalah gizi buruk yang telah berlangsung lama, khususnya di kalangan anak-anak dan wanita hamil. Program ini bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi harian bagi sekitar 90 juta anak dan ibu hamil sebagai respons terhadap tantangan yang terus ada, seperti stunting, yang masih mempengaruhi 21,5% anak di bawah usia lima tahun. Menghadapi isu ini, keberadaan kambing dalam sistem peternakan kecil menjadi sangat signifikan dengan menawarkan protein hewani berkualitas tinggi melalui daging dan susu. Dengan demikian, peningkatan kapasitas hasil dan atribut genetik populasi kambing nasional sangat penting untuk mendukung praktik berkelanjutan dari program ini. Peningkatan efisiensi reproduksi pada kambing dapat mewujudkan peran penting dalam mendukung sistem produksi ternak yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang kedua, yaitu Zero Hunger, yang menyerukan promosi praktik pertanian yang tangguh dan ketersediaan pangan yang aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan global.
Namun, suatu batasan penting dalam penggunaan semen kriopreservasi untuk inseminasi buatan pada kambing adalah penurunan kualitas sperma yang terlihat setelah pencairan. Kerusakan yang terjadi ini sebagian besar terkait dengan kerusakan yang diinduksi oleh suhu selama proses kriopreservasi hasil yang tak terhindarkan yang mengganggu fungsi sperma dan mengakibatkan berkurangnya motilitas, viabilitas, serta potensi kerusakan DNA. Berbagai elemen yang mendasarinya memengaruhi penurunan ini, termasuk metode pengumpulan semen, kualitas extender, teknik pengenceran, prosedur pembekuan, dan kondisi pencairan.
Selama kriopreservasi, sperma mengalami kerusakan struktural dan fungsional. Paparan suhu ekstrem sangat rendah dapat menyebabkan kerusakan atau ketidakstabilan pada membran sel, mengurangi viabilitas dan motilitas, serta menyebabkan fragmentasi DNA dan bahkan apoptosis pada hingga 40% spermatozoa. Peningkatan dalam penggunaan teknik kriopreservasi yang lebih baik dapat membantu meminimalkan penurunan kualitas sperma, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keberhasilan program inseminasi buatan. Dengan demikian, penelitian dan penerapan teknologi yang meningkatkan kualitas sperma kambing tidak hanya berdampak positif bagi sektor peternakan tetapi juga mendukung program kesehatan nasional. Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah dalam perbaikan gizi dan pengembangan peternakan, diharapkan Indonesia dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi generasi mendatang, dengan kesehatan yang lebih baik dan akses yang lebih baik terhadap sumber pangan bergizi.
Salah satu strategi potensial untuk mengurangi kerusakan sperma yang disebabkan oleh kriopreservasi adalah penggunaan Epigallocatechin gallate (EGCG), senyawa bioaktif utama yang terdapat dalam ekstrak teh hijau. Penelitian yang dilakukan terhadap semen kambing Kacang menunjukkan bahwa suplementasi dengan 0,1 mg ekstrak teh hijau per 100 ml extender menghasilkan kualitas semen pasca pencairan yang terbaik. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa EGCG dapat berfungsi sebagai aditif yang bermanfaat dalam protokol kriopreservasi, dengan prospek yang menjanjikan untuk meningkatkan hasil kesuburan dan memajukan bioteknologi reproduksi pada ruminansia kecil.
Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.
Detail Tulisan ini dapat dilihat di:





