51动漫

51动漫 Official Website

Etika Berkomunikasi dengan Dosen Melalui WhatsApp

Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., dosen di Fakultas Psikologi 51动漫. (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS Era pandemi ini, nyaris semua aktivitas perkuliahan dilakukan secara online atau daring. Perkuliahan yang dilakukan secara daring mengakibatkan komunikasi antara mahasiswa dan dosen intens dilakukan melalui sosial media seperti WhatsApp. Namun, perlu dipahami etika dan sopan santun dalam berkomunikasi dengan dosen melalui WhatsApp.

Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, salah seorang dosen di Fakultas Psikologi (FPsi) (UNAIR) menuturkan bahwa etika yang baik saat berkomunikasi melalui WhatsApp diawali dengan memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan penutup. Tidak lupa pesan ditulis menggunakan bahasa baku dan pemilihan kata yang tepat.

淔ormnya seperti ini, salam pembuka perkenalkan diri. Lalu maksud tujuan dan penutup atau salam, itu isinya. Kemudian gunakan bahasa baku, tidak boleh menyebukan 榓ku maksudnya harus 榮aya ketika menyampaikan pesan kepada dosen, tutur dosen yang memiliki fokus keahlian hubungan antar person tersebut.

Pemilihan waktu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dewi mengungkapkan bahwa pagi hari menjadi waktu yang baik untuk menghubungi dosen. Hal itu karena pagi hari masih ada waktu luang sebelum dosen sibuk dengan persoalan kantor.

淜arena biasanya pagi itu pikiran masih bersih, ada energi positif dalam diri. Contohnya habis salat Subuh langsung mengirimkan pesan pagi. Karena sebelum dosen bekerja dengan kegiatan rutin, akan membuka pesan di pagi itu, yaitu saat beliau belum disibukkan dengan pekerjaan lainnya, tambahnya.

Perlu disadari, di masa pandemi WhatsApp grup lebih cepat direspon daripada WhatsApp personal. Itu disebabkan karena waktu yang ada lebih aktif dibandingkan dengan WhatsApp personal. Sehingga terkadang mahasiswa harus berpikir positif apabila dosen baru bisa membalas malam atau keesokan harinya.

Selain itu, berkomunikasi secara online sangat berbeda dengan cara berkomunikasi tatap muka. Harus disadari bila dosen menjawab singkat bukan berarti tidak mau diganggu melainkan mungkin sedang ada aktivitas yang lain. Demikian juga apabila tidak segera dijawab juga mungkin baru membaca, tiba-tiba ada pekerjaan yang membutuhkan respon langsung, sehingga belum dijawab namun agar tersampaikan bisa saja hanya menjawab 榶a.

淛补诲颈 nggak perlu sampai merasa tersinggung. Bahasa komunikasi tertulis itu kan bisa jadi ketika dibalas dengan 榶a, 榦ke bukan berarti marah. Coba bayangkan kalau bertemu langsung, jawaban 榶a dan 榦ke tersebut dapat bermakna menjawab 榦h begitu ya, 榦ke kalau gitu, 榢ita ketemu nanti, 榟mmm iya dan lain-lain, jelasnya.

Dewi juga menekankan bahwa dalam mengakhiri pesan tidak perlu panjang lebar, cukup yang penting-penting saja. 淐ukup dengan 榯erima kasih Bu atas masukannya, atau 榯erima kasih untuk waktunya, pungkasnya. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT