51动漫

51动漫 Official Website

Evaluasi 3 Spesies Karang yang Ditransplantasikan di Pantai Tirtawangi Banyuwangi

Foto oleh: Tirto.id

Transplantasi karang merupakan metode rehabilitasi terumbu karang melalui pencangkokan atau pemotongan fragmen koloni karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain. Metode ini banyak diaplikasikan lantaran murah dan terbukti efektif untuk merestorasi ekosistem terumbu karang. Keberhasilan dari metode ini bergantung pada kesesuaian spesies karang terhadap wilayah baru dimana ia ditransplantasikan.

Salah satu spesies karang yang banyak digunakan dalam upaya transplantasi adalah Acropora branching. Hal ini dikarenakan Acropora branching tersebar luas di perairan indo-pasifik dan terkenal memiliki kelulushidupan dan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan 3 spesies karang Acropora branching yang ditranplantasikan di Pantai Tirtawangi Banyuwangi.

Penelitian dilakukan selama tiga bulan dengan menanamkan 3 spesies karang (Acropora brueggemanni, Acropora nobilis dan Acropora yongei) dalam rak transplantasi sejauh 400 meter dari pesisir pantai dengan kedalaman 5 meter. Rak transplantasi didesain dengan menggunakan pipa PVC yang disusun persegi 100 cm2 x 100 cm2 dan diisi beton dengan kaki setinggi 25 cm. Satu rak transplantasi mampu menampung 25 fragmen karang berukuran 8-12 cm. Karang yang dicangkok diambil dari koloni yang tidak jauh dari lokasi penempatan transplantasi

Data yang diamati meliputi data kelulushidupan dan pertumbuhan karang. Serta parameter kualitas air termasuk suhu, kecepatan arus, kecerahan, kekeruhan, tingkat sedimentasi, nitrat dan fosfat yang diambil setiap bulan sekali untuk dianalisis secara deskriptif.

Hasil menunjukkan bahwa ketiga spesies memiliki tingkat kelulushidupan yang tinggi. Spesies Acropora brueggemanni dan Acropora nobilis memiliki tingkat  kelulushidupan  100%, sementara Acropora yongei 96 %. Sedangkan pada pengamatan pertumbuhan, Acropora nobilis memiliki rata-rata pertumbuhan tertinggi sebesar 0,809 卤 0,394 cm/bulan sementara Acropora brueggemanni memiliki rata-rata pertumbuhan terendah 0.354 卤 0.113 cm/bulan.

Tingkat kelulushidupan yang tinggi tersebut diakibatkan oleh lokasi karang yang dicangkok tidak jauh dari penempatan transplantasi. Hal itu menyebabkan karang lebih mudah beradaptasi karena memiliki kesesuaian parameter kualitas air dengan daerah asalnya. Sedangkan perbedaan tingkat pertumbuhan dari ketiga spesies diakibatkan oleh perbedaan kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang baru. Hal ini akan secara langsung berdampak pada pertumbuhan karang karena energi untuk tumbuh digunakan untuk beradaptasi pada lingkungan yang baru.

Berdasarkan hasil yang didapat, rerata pertumbuhan semua spesies karang pada bulan kedua memiliki performa terbaik. Hal ini dikarenakan karang sudah beradaptasi pasca transplantasi. Selain itu, pertumbuhan karang juga dipengaruhi oleh kualitas air laut. Nilai kekeruhan, fluktuasi suhu, nitrat dan fosfat serta sedimentasi yang tidak terlalu tinggi pada bulan kedua juga menunjang proses pertumbuhan karang yang ditransplantasikan.

Adanya eutrofikasi akibat nitrat dan fosfat serta peningkatan sedimen dapat secara langsung berdampak negatif bagi karang karena mengakibatkan perlambatan proses kalsifikasi dan reproduksi karang. Sedangkan fluktuasi suhu pada lingkungan yang terlalu ekstrem dapat mengakibatkan perlambatan pertumbuhan hingga hilangnya simbion pada karang sehingga terjadi pemutihan (bleaching).

Penulis: Suciyono, S.St. Pi., MP.

Informasi lebih lengkap tulisan ini dapat diakses pada :

AKSES CEPAT