51动漫

51动漫 Official Website

Evaluasi Hasil Rekonstruksi PCL Single-Bundle dengan Preservasi Remnant

Foto oleh integratif.com.sg

Ligamen cruciatum posterior (posterior cruciate ligament, PCL) merupakan ligamen terkuat di sendi lutut yang terdiri atas bundel anterolateral (AL) dan posteromedial (PM). Menurut data dari studi yang dilakukan Fowler dan Messieh(1987) dan Shelbourne et al (1999), angka kejadian ruptur (robekan) PCL masih belum terdokumentasi dengan baik, ditunjukkan dengan perolehan angka yang beragam dari beberapa studi, yakni mulai dari 3% hingga 37%. Indikasi dilakukannya rekonstruksi PCL antara lain, robeknya PCL dengan kegagalan perawatan nonoperatif, fraktur avulsi PCL, cedera multi-ligamen, ruptur kronis dengan instabilitas lutut, atau adanya nyeri. Rekonstruksi PCL bertujuan untuk mengembalikan sistem koordinasi lutut normal termasuk meningkatkan fungsi sendi serta mengembalikan ketahanan posterior tibial translation pasca operasi. Beberapa penelitian telah mempublikasikan berbagai jenis teknik penanganan pada kasus ruptur PCL termasuk teknik bundel tunggal atau ganda, transtibial, prosedur tibial inlay atau onlay, pengaplikasian autograft atau allograft dengan posisi tunnel atau tipe fiksasi, dan dengan preservasiatau non-preservasi remnant. Dari berbagai teknik tersebut, belum terdapat consensus terkait prosedur terbaik yang direkomendasikan untuk rekonstruksi PCL.

Preservasi remnant sangat krusial karena dapat menjaga vaskularisasi pada selubung sinovial serta mampu mempertahankan mekanoreseptor. Berdasarkan penelitian dari Wang et al (2019), beberapa eksperimen yang menggunakan hewan coba, menunjukkan bahwa remnant tersebut dapat mempercepat proses revaskularisasi dan penutupan selubung sinovial seraya peningkatan aspek biomekanik dari graft. Pengembangan preservasi remnant kerapkali dilakukan dan juga merupakan prosedur rutin dalam rekonstruksi PCL, kendatipun pendekatan ini tidak mudah dalam pengaplikasiannya. Penelitian yang dilakukan oleh Sholahuddin Rhatomy, Dwikora Novembri Utomo, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Heri Suroto, Damayanti Tinduh, Hari Basuki Notobroto, Fedik Abdul Rantam, dan Ferdiansyah Mahyudin bertujuan untuk menindak lanjuti hasil rekonstruksi PCL dengan preservasi remnant dengan jangka waktu minimum 5 tahun.

Penelitian ini dilakukan dengan studi kohort prospektif, dimana identifikasi faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan tindak lanjut dalam jangka waktu yang akan datang. Empat puluh empat pasien menjalani rekonstruksi PCL bundel tunggal dengan preservasi remnant untuk ruptur PCL yang terisolasi periode Januari 2012 sampai Desember 2014 setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari masing-masing pasien. Kriteria inklusi dalam studi ini yakni ruptur PCL tanpa ruptur ligamen lainnya dan pasien dengan kegagalan perawatan nonoperatif. Semua subjek diinformasikan mengenai kondisi lutut dan prosedur perawatannya. Kemudian, perawatan dilakukan oleh seorang ahli bedah orthopaedi berpengalaman yang melakukan semua prosedur artroskopi dengan visualisasi pada segmen anterior dan posteromedial atau sendi lutut posterior saat melakukan preservasi serat PCL. Pasien menjalani rehabilitasi pasca operasi hingga diperbolehkan kembali ke aktivitas normal sehar-hari yang dimonitor oleh ahli bedah orthopaedi serta ahli fisioterapi.

Evaluasi hasil klinis sebelum operasi dan 5 tahun pasca operasi dilakukan dengan sistem penelitian lutut subyektif International Knee Documentation Committee (IKDC), Lysholm, dan penilaian modifikasi Cincinnati. Pemeriksaan akhir dilakukan dilakukan dengan evaluasi pengukuran rentang gerak lutut, tes lompatan satu kaki (single-leg hop test), ligament laxity, atrofi paha, dan hasil 颅x-ray lutut. Pasien menerima pemeriksaan klinis dan radiologi yang komprehensif sebelum operasi dan pada tindak lanjut akhir. Penilaian dengan skor IKDC dan Lysholm merepresentasikan peningkatan yang signifikan setelah tindak lanjut terakhir. Hasil rata-rata dari skor modifikasi Cincinnati juga mengalami peningkatan secara signifikan. Skor ini didasarkan pada intensitas nyeri, pembengkakan, dan tingkat aktivitas secara keseluruhan seperti berjalan, berlari, naik turun tangga, dan melompat. Pada evaluasi drawer posterior, kondisi ligament laxity grade 1 (0-5mm) dijumpai pada 37 pasien (84%), sementara grade 3 didapati pada dua pasien (4,5%). Secara keseluruhan, terdapat peningkatan yang signifikan pada uji drawer posterior. Dari hasil evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwa rekonstruksi PCL dengan teknik preservasi remnant dapat meningkatkan hasil fungsional yang signifikan.

Keterbatasan ruang gerak pasca operasi diantisipasi menjadi masalah saat perawatan rekonstruksi PCL. Berdasarkan studi sebelumnya, defisit pergerakan fleksi dan ekstensi dapat terjadi setelah rekonstruksi PCL. Selain itu, penelitian ini masih memiliki beberapa limitasi, diantaranya belum ada kelompok pembanding dari studi yang dilakukan dan hanya dilakukan evaluasi jangka menengah sehingga studi jangka panjang lebih lanjut masih diperlukan untuk mengevaluasi teknik ini.

Penulis: Sholahuddin Rhatomy, Dwikora Novembri Utomo, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Heri Suroto, Damayanti Tinduh, Hari Basuki Notobroto, Fedik Abdul Rantam, Ferdiansyah Mahyudin

Link:

Judul Jurnal: Single-Bundle PCL Reconstruction with Remnant Preservation: Midterm Follow-up

Dipublikasikan di: Annals of Applied Sport Science

AKSES CEPAT