Fournier’s Gangrene (FG) adalah infeksi serius yang dapat mengancam nyawa, memerlukan diagnosis cepat dan penanganan yang tepat. Untuk membantu memprediksi risiko kematian pada pasien dengan FG, beberapa indeks penilaian telah dikembangkan, termasuk Indeks Keparahan Fournier’s Gangrene (FGSI), Uludag FGSI (UFGSI), Simplified FGSI (SFGSI), Indikator Risiko Laboratorium untuk Nekrotizing Fasciitis (LRINEC), Rasio Neutrofil-ke-Limfosit (NLR), dan Rasio Trombosit-ke-Limfosit (PLR). Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai indikator tersebut dalam memprediksi mortalitas pasien FG di rumah sakit.
Penelitian ini melibatkan pasien FG yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Soetomo selama tujuh tahun, dari Januari 2014 hingga Desember 2020. Dari total pasien yang diterima, hanya 123 pasien yang datanya lengkap dan dianalisis. Rata-rata usia pasien adalah awal 50-an, dengan mayoritas pasien adalah pria. Lokasi infeksi yang paling umum adalah di skrotum. Tingkat kematian pada pasien FG dalam penelitian ini adalah sekitar 18%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang tidak selamat memiliki durasi rawat inap yang lebih pendek dibandingkan dengan pasien yang selamat. Pasien yang tidak selamat rata-rata dirawat selama satu minggu, sedangkan pasien yang selamat dirawat selama dua minggu. Selain itu, diabetes ditemukan sebagai penyakit penyerta yang paling umum pada pasien FG, mempengaruhi lebih dari setengah dari mereka.
Indikator FGSI dan UFGSI terbukti memiliki kemampuan terbaik dalam memprediksi risiko kematian pada pasien FG. Nilai ambang yang ditetapkan untuk FGSI dan UFGSI membantu dokter dalam mengambil keputusan cepat mengenai tindakan medis yang diperlukan. Selain itu, durasi rawat inap juga ditemukan sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil akhir pasien.
Studi ini juga menunjukkan bahwa beberapa indikator laboratorium lainnya seperti SFGSI, LRINEC, NLR, dan PLR tidak konsisten dalam memprediksi mortalitas. Oleh karena itu, penggunaan FGSI dan UFGSI pada saat pasien masuk rumah sakit bisa memberikan prediksi yang lebih akurat dan membantu dalam intervensi awal yang lebih efektif.
Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian ini bersifat retrospektif, yang berarti data diambil dari catatan medis sebelumnya. Kedua, penelitian ini hanya dilakukan di satu rumah sakit tersier, yang mungkin menyebabkan populasi pasien yang lebih parah dibandingkan rumah sakit lainnya. Oleh karena itu, diperlukan studi prospektif yang melibatkan beberapa rumah sakit untuk mengonfirmasi hasil ini dan memastikan keandalan indikator tersebut dalam berbagai kondisi dan demografi pasien.
Kesimpulannya, FGSI dan UFGSI adalah alat yang sangat berguna dalam memprediksi risiko kematian pada pasien FG saat masuk rumah sakit. Indikator ini dapat membantu tenaga medis dalam mengambil tindakan cepat dan tepat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hasil ini dan meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana cara terbaik menangani FG. Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat di: Mohammad Reza Affandi, Faisal Yusuf Ashari, Yufi Aulia Azmi, Soetojo Wirjopranoto, Kevin Muliawan Soetanto, 2024. Evaluating prognostic indicators for in-Hospital mortality in Fournier’s gangrene: A 7-year study in a tertiary Hospital. Archivio Italiano di Urologia e Andrologia 96(2), 12387.
Penulis: Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U
Link:
Baca juga: Plastik Polipropilen Sebagai Wadah Sediaan Parenteral Siprofloksasin dan Levofloksasin





