51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Evaluasi Klinis dan Ultrasonografi Skrining Tumor Tiroid pada Pasien Simtomatik di Puskesmas

Ilustrasi oleh iStock

Pendahuluan

Kanker tiroid pada tahun 2020 memiliki tingkat kejadian 10,1 per 100.000 wanita dan 3,1 per 100.000 pria dengan tingkat kematian standar usia 0,5 per 100.000 wanita dan 0,3 per 100.000 pria secara global.[1] Ada peningkatan kejadian yang dilaporkan dengan temuan: hampir semua peningkatan terdaftar terbatas pada histotipe papiler yang merupakan varian kanker tiroid yang paling tidak agresif, dan lebih ditandai pada kelompok populasi dengan standar sosial ekonomi yang lebih tinggi dan akses perawatan kesehatan yang lebih baik.[2] Peningkatan kanker tiroid yang sebenarnya mungkin karena faktor lingkungan, latar belakang genetik wanita dan hormonal dari orang-orang yang lebih rentan terhadap penyakit tiroid.

Nodul tiroid mungkin tergantung pada beberapa faktor, termasuk asupan yodium yang rendah di daerah dengan insufisiensi yodium.[9] Asupan yodium merupakan penentu penting dari prevalensi kelainan tiroid dalam populasi di mana hiperplasia tiroid, hipertrofi, dan pembentukan nodul dapat terjadi dalam beberapa bulan kekurangan yodium dari efek mutagenik oksigen radikal bebas. Asupan yodium yang rendah dapat meningkatkan stimulasi hormon perangsang tiroid (TSH) dan menyebabkan peningkatan respons sel tiroid terhadap TSH, sehingga menghasilkan produksi faktor pertumbuhan epidermal sel tiroid beta 1 dan peningkatan angiogenesis terkait dengan promosi pertumbuhan tumor. Jawa Timur merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan konsentrasi yodium urin median rendah (<150 µf/L), menunjukkan defisiensi yodium pada penduduk Jawa Timur.[12]

Metode dan Hasil

Studi retrospektif ini telah disetujui oleh dewan etik institusi kami, dan kebutuhan untuk informed consent untuk penelitian dibebaskan. Sebanyak 76 subjek bergejala berturut-turut menjalani skrining US tiroid di Puskesmas Bajulmati dengan pengabdian masyarakat pada 15 September 2021. Kami memasukkan subjek dengan gejala massa di leher, gemetar, sulit tidur, berkeringat berlebihan, dan kelelahan kronis. Ada 2 subjek dengan riwayat operasi tiroid dikeluarkan dari penelitian ini. Subyek ditanya tentang gejala mereka kemudian menjalani pemeriksaan palpasi leher. Mengikuti pedoman WHO, subjek kemudian dipisahkan menjadi 3 klasifikasi: subjek dengan gondok yang tidak teraba atau terlihat, gondok yang teraba tetapi tidak terlihat, serta gondok yang teraba dan terlihat.[14]

USG pemeriksaan tiroid dilakukan di pusat perawatan primer di Bajulmati Banyuwangi Indonesia menggunakan peralatan portabel AS Samsung HM70A dan Midray D10 dengan transduser linier oleh 4 ahli radiologi bersertifikat. Berdasarkan rekomendasi dari Korean Society of Thyroid Radiology, nodul tiroid dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri nodul tersebut. Fitur yang disebutkan dalam penelitian kami meliputi komposisi, echogenisitas, margin, sumbu, kalsifikasi, ukuran. Komposisi termasuk kistik (>90% dari bagian kistik) atau terutama kistik (>50% dari bagian kistik dan…<…90% dari bagian kistik) nodul dengan artefak bergema dan nodul spongiformis. Ekogenisitas meliputi hypoechoic, isoechoic, dan hyperechoic. Ukuran nodul bisa …>…1‰cm,…>…2‰cm. Margin yang disebutkan bisa halus, berbintik-bintik, dan tidak jelas. Sedangkan bentuk yang disebutkan adalah bulat telur sampai bulat, lebih tinggi dari lebar, dan tidak beraturan.

Di antara subjek yang dimasukkan, 32 subjek (43,2%) memiliki kelainan nodul. Keterlibatan nodul adalah 17 subjek (23%) unilateral dan 15 pasien (20,3%) bilateral. Subjek dengan nodul tunggal sebanyak 17 subjek (23%) sedangkan dengan nodul multipel sebanyak 15 subjek (20,3%). Bentuk bintil pada 30 subjek (40,5%) bulat telur sampai bulat atau lebih lebar dari tinggi sedangkan 2 subjek (2,7%) lebih tinggi dari lebar. Isi nodul tiroid kanan solid pada 6 subjek (8,1%), predominan solid pada 6 subjek (8,1%), kistik predominan pada 7 subjek (9,5%), kistik pada 5 subjek (6,8%), dan spongiform pada 3 subjek. subjek (4,1%). Sedangkan isi nodul tiroid kiri solid pada 1 subjek (1,4%), predominan solid pada 8 subjek (10,8%), kistik predominan pada 7 subjek (9,5%), kistik pada 3 subjek (4,1%), dan spongiform pada 2 subjek (2,7%). Ekogenisitas nodul tiroid kanan adalah hipoekoik pada 13 subjek (17,6%), isoekoik pada 2 subjek (2,7%), hiperekoik pada 5 subjek (6,8%), dan gema campuran pada 2 subjek (2,7%). Sedangkan pada sisi kiri nodul hipoekoik pada 17 subjek (23%), isoekoik pada 3 subjek (4,1%), hiperekoik pada 5 subjek (6,8%), dan gema campuran pada 1 subjek (1,4%). Margin nodul di sisi kanan tiroid halus pada 24 subjek (32,4%), tidak jelas pada 3 pasien (4,1%) sedangkan di sisi kiri tiroid 19 subjek (25,7%) halus dan 2 subjek (2,7%) tidak jelas. Subyek dengan nodul kalsifikasi berbentuk stippled, halus kasar dan tidak linier sebanyak 2 subyek (2,7%), dan 2 subyek lainnya (2,7%) berbentuk curvilinear, smooth margin.

Penulis: Dr. Rosy Setiawati, dr., Sp.Rad(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

   Setiawati, Rosy MD, PhDa,*; Wulanhandarini, Tri MDa; Hayati, Fierly MDa; Erawati, Dyah MDa; Jaya, Merlin Guntur MDa; Thoriq, Andi Ahmad MDa; Wijaya, Triana Mediyawati MDa; Ismiyati, Galih Nur MDa; Kusumaningrum, Dyan Wahyu MDa; Koesmarsono, Belinda MDa; Basja, Agnes Triana MDa; Nugroho, M. Ikhsan MDa; Yuliana, Silvi MDa; Shedyta, Syadza Zahrah MDa; Situmorang, Hendra Boy MDa. Clinical and ultrasonography evaluation of thyroid tumor screening in symptomatic patient of Bajulmati primary care center, Banyuwangi, East Java, Indonesia. Medicine 101(52):p e32546, December 30, 2022

AKSES CEPAT