Malnutrisi terus menjadi masalah gizi secara global, dan merupakan penyebab utama kematian anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Anak-anak yang menderita malnutrisi mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya dan lebih berisiko terkena infeksi dan masalah kesehatan lainnya(Benjeddi et al., 2023).
Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi risiko malnutrisi, terutama stunting pada anak-anak. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka prevalensi stunting nasional adalah 21,6%, yang masih di atas ambang batas WHO yaitu kurang dari 20% (United Nations Children檚 Fund et al., 2018; World Bank, 2020).
Stunting dapat disebabkan karena asupan makanan yang tidak memadai, dengan penyebab yang mendasarinya, seperti kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan faktor sosial atau budaya. Studi kami yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait dengan stunting pada anak-anak Indonesia dengan menggunakan data dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) 2 dan 5 menemukan bahwa usia anak, berat badan lahir rendah, perawatan antenatal yang tidak lengkap, sanitasi yang buruk, penyediaan makanan pendamping ASI (MPASI), dan tidak adanya Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) atau Kartu Sehat meningkatkan risiko kejadian stunting.
Studi ini menyoroti perlunya solusi komprehensif untuk mengatasi stunting, seperti meningkatkan akses terhadap makanan bergizi, meningkatkan layanan kesehatan, dan mengedukasi masyarakat tentang kebiasaan makan sehat. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk mengungkap faktor-faktor pendukung lainnya dan mengembangkan strategi yang efektif.
Full artikel dapat diakses di:
Agushybana, F., Siramaneerat, I., Astutik, E., & Boonlab, S. (2025). Determinants of childhood stunting in Indonesia: insights from the 1997 and 2014 Indonesian Family Life Survey (IFLS) and implications for targeted interventions. Critical Public Health, 35(1), 2581952.





